Cerita Dahlan Iskan dari Kereta Cepat Jakarta-Bandung PP, Apa Bedanya dengan di Tiongkok?

Rabu, 20 September 2023 – 08:54 WIB
Dahlan Iskan saat menaiki kereta cepat Jakarta Bandung. Foto: Disway

jpnn.com, JAKARTA - Kolumnis kondang Dahlan Iskan membagikan cerita dari perjalanannya menaiki kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) PP melalui tulisan berjudul Mega Jibao, Disway edisi Rabu (20/9).

"Namanya saja KCIC. Pramugarinya pun pakai batik yang dibentuk model gadis Shanghai: model jibao," begitu Dahlan membuka tulisannya.

BACA JUGA: 3 Hari Uji Coba, Kereta Cepat Jakarta Bandung Angkut Ribuan Penumpang

Konon, project management and business development director PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Allan Tandiono menjelaskan kepada Dahlan bahwa mereka mengupayakan ada perpaduan budaya Indonesia-Tiongkok pada tampilan KCJB.

Dahlan menyebut corak batik yang digunakan pun megamendung khas Jawa Barat, Cirebon.

BACA JUGA: Butet Kartaredjasa Ngotot Pengin Mahfud MD Pendamping Ganjar

"Pun pembalut tempat duduknya: batik megamendung. Semua itu atas saran Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang juga seorang arsitek," kata Dahlan dalam tulisannya.

Eks menteri BUMN itu diajak naik kereta cepat Ya-wan (Jakarta-Bandung) itu kemarin bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

BACA JUGA: Sikap Tegas Ulama NU soal Konflik di Rempang, Setop Kekerasan

Rombongan yang berjumlah 300 orang itu berangkat pukul 09.00 WIB dari Stasiun Halim di Jakarta Timur ke Stasiun Padalarang di Bandung Barat. "Benar-benar hanya 30 menit," ucap Dahlan.

Satu jam sebelumnya, Presiden Jokowi juga ke Bandung menaiki kereta cepat dan turun di stasiun Tegalluar di Bandung Timur.

Stasiun terakhir itu kini sudah bisa bisa dipakai. Sejak seminggu yang lalu. Akses dari jalan tol ke Stasiun Tegalluar pun sudah jadi.

"Saya termasuk belakangan diajak mencoba kereta cepat. Sudah ribuan orang yang mencoba lebih dulu. Gelombang pertama adalah justru orang-orang kampung. Yakni mereka yang kampungnya dilewati rel," tutur Dahlan dalam tulisan itu.

Dalam rombongan Dahlan kemarin ada banyak sekali artis terkenal, antara lain Roy Marten, Ita Mustafa, Piu. Ada pula Cagub Banten Airin, wartawan senior Ilham Bintang.

Banyak juga pengurus Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), UI (Iluni), Undip (IKA-Undip), dan ITS (IKA-ITS). "Total 300 orang. Itu berarti separuh dari kapasitas," tulisan Dahlan.

Rangkaian 8 gerbong ini berisi 601 kursi. Termasuk VIP dan kelas bisnis. Gerbong yang untuk kelas ekonomi tempat duduknya jejer lima (dua di kanan, tiga di kiri. Yang kelas 1 hanya dua kursi –mirip first class-nya pesawat terbang.

Dahlan pun sempat mengobrol dengan salah satu masinis dari Tiongkok. Kebetulan asal Tianjin. Rumahnya tidak jauh dari rumah sakit tempat Dahlan operasi ganti hati 17 tahun lalu.

"Begitu orang Indonesia bisa menjalankan kereta ini kami serahkan ke mereka," Dahlan menirukan ucapan masinis tersebut.

Secara formal tenaga kerja Tiongkok itu bakal dua tahun di Indonesia. Tetapi bisa lebih pendek kalau yang sedang dilatih ini lebih cepat mampu.

Waktu berangkat ke Bandung, Dahlan naik di gerbong kelas 1 bersama Menhub Budi Karya Sumadi yang pernah terkena Covid-19 sangat parah.

Saat kembali ke Jakarta, eks dirut PLN itu duduk di kelas ekonomi yang kelak harga tiketnya Rp 300.000. Itu sudah termasuk tiket untuk kereta ke bandara, kereta LRT, maupun KRL.

"Ada yang bertanya ke saya, apa perbedaan dengan kereta cepat yang di Tiongkok. Saya jawab: tidak ada bedanya," tulisan Dahlan.

Dari sisi gerbong, misalnya, utuh buatan Qingdao, kota pantai di provinsi Shandong. Hanya selera warnanya yang tidak sama. KCIC memilih sentuhan nuansa merah.

Relnya pun bikinan Tiongkok. Utuh. Lebar rel juga sama dengan yang di Tiongkok: 1.425 cm. Di Eropa juga selebar itu. Hampir 39 cm lebih lebar dari rel kereta api Indonesia yang lambat itu: 1.067 cm.

Di dunia kini tinggal Indonesia, Afrika Selatan, dan sebagian Jepang yang lebar relnya 1.067.

"Jepang pun, yang Shinkansen, juga menggunakan lebar rel 1.425. Semua rel kereta cepat memang harus lebar. Agar dalam kecepatan tinggi tidak mudah terguling," ujar Dahlan.

Dahlan mengatakan yang berbeda dengan di Tiongkok adalah cara pasangnya. Itu karena potongan rel yang didatangkan ke Indonesia berukuran 50 meter. Setiba di Indonesia, di depo KAI, rel itu disambung-sambung menjadi panjang 500 meter.

Lalu, rel tersebut diangkut ke lokasi untuk dipasang. Tiap 500 meter dilas lagi dengan rel berikutnya.

Maka rel di jarak Jakarta-Bandung itu sama sekali tidak ada putusnya. Utuh. Sudah dilas jadi satu. "Karena itu naik kereta cepat ini tidak terasa ada geronjalan sama sekali. Mulus. Lebih mulus dari paha ayam pop," tulisan Dahlan.

Dahlan menyebut di Tiongkok panjang potongan relnya 100 meter. Lalu disambung dengan las menjadi 500 meter. Lalu dibawa ke lokasi untuk dipasang. Untuk dilas dengan 500 meter berikutnya.

Dengan panjang 100 meter pemasangannya lebih cepat. Tidak banyak pekerjaan las. Sementara rel yang dikirim ke Indonesia panjang 50 meter guna memudahkan pengiriman.

Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Elevated

Menurut Dahlan, Allan Tandiono berharap kereta cepat ini bisa sampai Surabaya. Demikian juga kata Adhi Priyanto Putro, direktur KCIC.

Baik Allan maupun Adi berkesimpulan untuk Bandung-Surabaya elevated semua saja. Keretanya dibangun di atas, seperti di Tiongkok.

"Saya kira 5 tahun bisa selesai," Dahlan menirukan perkataan Adi.

Lewat pantai utara atau selatan?

"Lewat mana saja kami siap. Saya dengar Pak Jokowi pilih lewat selatan," ujar Allan.

Artinya, dari Bandung, kereta cepat bakal disambung ke Kertajati. Lalu ke Cirebon. Dari Cirebon turun ke selatan ke Purwokerto. Lalu ke timur: Yogyakarta, Solo, Madiun, Surabaya.

Atau dari Cirebon ke Semarang, lalu ke arah selatan, ke Solo, terus ke timur sampai Surabaya. "Surabaya-Jakarta bisa 3,5 jam," tulisan Dahlan menirukan ucapan Allan.

Soal sulitnya pembebasan lahan, mereka punya kiat yang sama. Kereta cepat itu bisa dibangun di sepanjang jalan tol. Akan lebih cepat. Di sebelah tol dengan cukup menyewa tanah ke pemilik tol.

Pembebasan tanahnya pun tidak banyak. Hanya di beberapa lokasi yang jalan tolnya terlalu berkelok. "Wow, 5 tahun bisa selesai," ucap Dahlan.

Dalam perjalanan kemarin, Dahlan dan rombongan hanya 45 menit di Bandung. Dari Stasiun Padalarang mereka naik kereta feeder ke Stasiun Kereta Bandung.

Dahlan menyebut ada sate kambing terkenal di dekat stasiun itu. Serombongan itu pun makan sate semua. Tambah gulai dan sop kambing.

"Enak semua. Saya makan 10 tusuk. Satu mangkok gulai. Satu mangkok sop kambing. Saya lihat Tantowi Yahya di sebelah saya: 8 tusuk. Saya lirik Pak menhub: 12 tusuk," tutur Dahlan.(*/disway/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dahlan Iskan Memasuki Ruang 48 Gedung KPK, Ada yang Lucu


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler