Sebagai sebuah kota yang dikenal dengan keberagaman budaya, Melbourne memiliki kantong-kantong yang ditinggali penduduk dari berbagai kawasan di dunia. Sekitar tiga ribu warga yang tinggal di rumah susun umum sedang menjalani 'lockdown' Para warga berasal dari berbagai latar belakang budaya Banyak warga dukung upaya mengurangi penyebaran virus, namun mempertanyakan pelaksanaanya

 

BACA JUGA: Duh, Masih Ada Warga Australia yang Mengira Bali Bukan Bagian Indonesia

Seperti sembilan kompleks rumah susun (rusun) milik pemerintah di kota Melbourne, yang saat ini diberlakukan 'lockdown' setelah ditemukan adanya peningkatan penularan virus corona.

Tapi sejumlah masalah timbul, seperti masalah kehadiran polisi, kurang tersedianya informasi dalam berbagai bahasa, hingga makanan apa yang harus dibagikan kepada warga menimbulkan debat.

BACA JUGA: Perdagangan Bebas Berlaku, Australia Masih Anggap Produk Indonesia Inferior

Sebagian warga yang tinggal di rusun mengatakan kepada ABC, jika mereka menerima perintah 'lockdown', tapi sebagian lain mengaku ada kebingungan karena kurangnya informasi yang mereka dapatkan. External Link: Twitter Chin Tan: @chintanRDC: I stand with the public housing residents of Flemington and North Melbourne. Scapegoating these communities on the basis of race is unacceptable. Many of those living in the communities in ‘hard lockdown’ have come to Australia fleeing civil unrest. 1/2

 

BACA JUGA: Dua Warga Victoria Meninggal Karena COVID, Perbatasan Victoria dan New South Wales Akan Ditutup

Sekitar tiga ribu ribu warga di sembilan kompleks rusun tidak boleh keluar rumah.

Komisioner Diskriminasi Ras Australia Chin Tan mengingatkan banyak warga yang tinggal di sana berasal dari negara asal yang sebelumnya mengalami konflik atau perang.

"Mengkambinghitamkan komunitas ini berdasarkan ras mereka adalaha hal yang tidak bisa diterima," katanya di Twitter.

"Meningkatkan stigma bagi mereka yang datang ke Australia untuk mencari kehidupan lebih baik adalah memalukan dan penting sekali kita mengingatkan hal tersebut." 'Bermanfaat bagi kami dan yang lain'

Yin Yongsheng dari Federasi Asosiasi Warga China (FCA), sebuah organisasi yang membawahi warga perantauan China di Australia, mengtakan ada sekitar 200 warga asal China di kompleks rusun tersebut dan rata-rata berusia 60 tahun.

Salah seorang diantaranya adalah Gong Kehui yang berjusia 85 tahun.

Ia pindah ke Australia di tahun 1985 dan tinggal di salah satu rusun di kawasan North Melbourne.

Ia mendukung perintah 'lockdown' yang diberlakukan oleh Pemerintah Victoria akhir pekan lalu.. Photo: Gong Kehui, 85 adalah salah seorang warga yang tinggal di komplek apartemen di North Melbourne. (Supplied)

 

"Tindakan lockdown ini dilakukan untuk menemukan sumber COVID-19 dan menghentikan penyebaran," katanya.

"Ini bermanfaat bagi kami dan yang lain."

"Saya melihat banyak orang yang tidak berperilaku semestinya dengan apa yang sekarang terjadi."

Ketika ditanya apakah dia khawatir dengan kesejahteraannya selama 'lockdown', Gong mengatakan "tidak ada gunanya untuk khawatir."

Dia mengatakan komunitas China di daerah tempat tinggalnya sudah berhati-hati dengan virus corona.

"Kami sudah tidak mengadakan kegiatan kelompok sejak perayaan Natal, dengan kegiatan belanja dan acara dansa bersama dibatalkan," katanya.

"Sampai sekarang kami cuma kontak online, belum lagi bertemu tatap muka." Photo: Para penghuni komplek apartemen ini berasal dari berbagai latar belakang budaya. (AAP: Daniel Pockett)

 

Gong mengatakan hanya bisa mengerti bahasa Inggris seadanya dan menggunakan aplikasi WeChat sebagai sumber utama mendapatkan informasi mengenai pandemi di Melbourne. Perempuan Samoa mengalami 'lockdown' bersama 7 anak

Seorang perempuan asal kawasan Lautan Pasifik, Samoa yang minta namanya disebut sebagai Lucy, tinggal bersama 7 anaknya dan seekor anjing di salah satu rusun.

Lucy adalah penyintas kekerasan rumah tangga (KDRT).

"Saya baru tahu hari Jumat sore ketika saya pulang dari belanja. Mereka tidak memberitahu kami akan di-lockdown. Mereka hanya bilang 'turun ke bawah untuk tes COVID'," katanya.

"Saya kemudian melihat di berita dan turun ke bawah dan mereka bilang 'kamu tidak boleh kemana-mana, naik lagi ke atas dan jangan keluar'." Photo: Komplek perumahan apartemen tinggi milik pemerintah di Flemington dan Nort Melbourne ini sekarang dilockdown. (ABC News: Simon Winter)

 

Lucy mengatakan dia belum mempersiapkan diri dan hanya punya sedikit sisa makanan di kulkas, jadi ia tidak punya sayuran, roti dan susu.

Dia diberi nomor telpon untuk meminta bantuan makanan.

"Saya menunggu seharian dan malam hari Minggu dan mereka datang tengah malam. Ketika saya membuka pintu mereka memberi satu paket sup dan lima kue daging. Padahal ada delapan orang di rumah kami."

"Ini tidak cukup untuk delapan oran di rumah. Saya akan memberikan untuk anak-anak, dan saya sendiri akan kelaparan."

"Saya punya teman dan sanak keluarga yang bisa membawakan makanan, namun ketika saya bertanya ke polisi mereka mengatakan "mereka tidak boleh datang."

Lucy juga mengatakan kehadiran polisi sebenarnya tidak diperlukan dan membuat anak-anaknya ketakutan.

"Kami tidak butuh polisi, kami cuma butuh pekerja sosial dan perawat," katanya. Pasangan Timor Leste masih menunggu untuk dites

Kuon Nhen Lay, 70 tahun dan istrinya Lucy (65 tahun) yang berasal dari Timor Leste tinggal di kawasan apartemen milik pemeritah di Flemington.

Mereka mengatakan beruntung karena sudah membeli bahan makanan hari Jumat yang cukup untuk selama seminggu sebelum adanya lockdown yang mendadak tersebut. Photo: Lucy dan Kuon Nhen Lay tidak bisa lagi menerima kedatangan anak dan cucunya selama lockdown. (ABC News: Jason Fang)

 

Namun Kuon mengatakan dia sejauh ini belum mendapat informasi mengenai kapan dia akan bisa menjalani tes COVID-19.

"Saya takut terkena COVID-19," katanya kepada ABC.

"Saya tahu bahwa yang paling rentan terkena adalah para lansia.

"Saya sangat khawatir ketika mendengar apa yang terjadi di komplek kami. Saya berharap segera dites dan mendapat hasilnya."

Dia mengatakan bahwa ada sekitar 40 keluarga asal Timor Leste yang tinggal di komplek perumahan apartemen tinggi di Flemington tersebut.

Pasangan tersebut biasanya dikunjungi oleh anak perempuan dan cucu-cucunya hari Minggu, dan karena lockdown sekarang tidak bisa dilakukan.

Kuon mengatakan ia khawatir dengan kesehatan anggota keluarganya, namun memahami mengapa pemerintah negara bagian Victoria mengalami tindakan lockdown tersebut.

"Bila warga bekerjasama dengan pemerintah, pandemi ini akan berakhir lebih cepat," katanya.

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Visa Perempuan Asal Indonesia Ditolak Australia, Pasangannya Sampai Putus Asa

Berita Terkait