Cerita Dokter Aulia Giffarinnisa di Garda Paling Depan Penanganan Covid-19

Sabtu, 05 Desember 2020 – 21:24 WIB
Aulia Giffarinnisa, dokter di RSDC Wisma Atlet berbagi cerita inspiratif dalam dialog produktif bertema Berbakti Untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih di Jakarta, Jumat, 4 Desember 2020. Foto: covid19goid

jpnn.com, JAKARTA - Panasnya baju dan perlengkapan Alat Pelindung Diri yang membekap tubuh tidak membuat dr. Aulia Giffarinnisa mundur dari pengabdian di garis depan penanganan COVID-19, di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Jakarta.

Awalnya, perempuan yang disapa Farin ini tidak mengantongi izin dari keluarganya.

BACA JUGA: Satgas Covid-19 Minta Pemda Optimalkan 3T Guna Tekan Penularan

Pasalnya, korban jiwa dan kasus positif terus bertambah sejak kasus pertama diumumkan pemerintah secara resmi pada awal Maret 2020.

Berperang dengan virus yang begitu cepat berpindah dan menginfeksi banyak orang membuat keluarga Farin ragu dengan keputusan yang diambil dokter yang pernah bertugas di daerah Sulawesi Selatan ini.

BACA JUGA: Satgas Covid-19 Ajak Masyarakat Mulai Kenali Vaksin

BACA JUGA: Satgas Covid-19: Jangan Sampai Keterbatasan Alkes Menghambat Hak Masyarakat Mendapat Pelayanan

“Saya tidak menyerah dengan keinginan saya untuk mengabdikan diri, saya terus meyakinkan orang tua dan keluarga. Akhirnya izin dari orang tua saya keluar pada Agustus lalu dan mulai September saya bertugas di Wisma Atlet,” katanya dalam Dialog Produktif yang mengangkat tema ‘Berbakti untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih’.

Dialog ini diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di Media Center KPCPEN, Jumat (4/11) dalam rangka Hari Relawan Internasional pada 5 Desember.

Selama bertugas, banyak suka duka yang dihadapi, apalagi pada September lalu, tempat tidur di komplek Wisma Atlet hampir penuh.

“Awalnya takut, tetapi akhirnya cepat beradaptasi. Sistem kerja shift delapan jam, tetapi karena memakai APD maka harus bersiap satu jam sebelumnya. Selama bertugas juga tidak boleh membuka APD jadi tidak boleh buang air dan terpaksa puasa,” kata Farin.

Meski termasuk dokter muda dari daerah, Farin merasa aman dan nyaman selama melayani pasien.

Dia juga tidak merasa berjarak dengan tenaga medis dan kesehatan lainnya.

“Di sini semuanya satu misi untuk menangani COVID-19 jadi semuanya disiplin. Beda dengan di luar, masih ada yang cuek dengan protokol kesehatan,” tuturnya.

Dia mengakui, dalam dinamika bertugas pasti ada sejumlah tantangan dari para pasien yang dirawatnya, apalagi Farin bertugas untuk menangani pasien yang masuk kategori bergejala berat.

“Agak tertekan ketika menghadapi pasien yang ngeyel karena tidak nyaman dalam perawatan. Kadang mereka sering melepas selang oksigen padahal mereka sangat perlu hanya mereka merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Jika menemukan pasien-pasien seperti itu, Farin mengaku akan melakukan pendekatan secara psikologis.

Dia berusaha memahami para pasien banyak tertekan karena tidak ditemani oleh keluarga.

“Mereka hanya didampingi dokter dan tenaga kesehatan. Salah satu pengalaman tidak terlupakan menyaksikan bagaimana proses pasien yang satu bulan dirawat dengan gejala parah sekali hingga akhirnya bisa sembuh dan dinyatakan negatif dan diizinkan pulang,” ujarnya.

Farin pun berpesan agar jangan menunggu dan berpikir lama untuk berkontribusi mulai dari hari yang paling kecil dan mudah dilakukan.

“Kontribusi minimal yang bisa dilakukan adalah mencegah penularan dari diri sendiri dan orang di sekitar. Laksanakan protokol kesehatan 3M,” katanya. (pen/rl/mjs)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler