Cerita Mbak Puan: Bung Karno Pernah jadi Pedagang Kain, Ada yang Ditangkap

Minggu, 08 Mei 2022 – 18:20 WIB
Puan Maharani. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Mungkin tak banyak yang mengetahui Presiden Pertama RI Soekarno pernah menjadi pedagang kain saat dibuang Belanda ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Cucu Soekarno, Puan Maharani mengungkapkan kakeknya berjualan kain untuk menambah penghasilan.

BACA JUGA: Ustaz Arrazy Sebut Bung Karno Waliullah, Mbak Puan Terharu

Sebagai orang buangan Belanda, Bung Karno hanya mendapat tunjangan dari pemerintah kolonial dengan nilai tak seberapa.

"Kakek saya mencari tambahan penghasilan dengan menjual pakaian dari sebuah toko tekstil di Bandung," tutur Puan.

BACA JUGA: Puan Sebut Bung Karno & KH Wahab Hasbullah Berperan di Balik Munculnya Istilah Halalbihalal

"Bung Karno saat itu bekerja sama dengan pengusaha tekstil asal Kota Bandung yang memang sudah lama menjadi kenalannya," imbuhnya.

Puan mengatakan, Soekarno mendapat komisi sepuluh persen dari setiap barang yang dijualnya.

BACA JUGA: Ganjar Bareng Gus Muwafiq Datangi Makam Bung Karno di Blitar

Bung Karno berkeliling dari rumah ke rumah membawa contoh pakaian yang ditawarkan.

"Bung Karno saat itu tahu betul kain yang dijualnya bakal laku karena harganya lebih murah dari toko-toko di Ende. Kualitas kainnya juga lebih baik," kata Puan.

Setelah ada yang tertarik dan memesan kain, Bung Karno lalu mengirimkan uang via pos wesel ke toko itu. Selang beberapa waktu, kain pesanan tersebut pun datang.

Belakangan, tulisan tangan Soekarno saat bersurat dengan pengusaha kain di Bandung itu dimuat di koran Sipatahoenan terbitan 12 Juni 1936. Si pemuat iklan tak lain adalah pengusaha kain, Tan Tjoei Gin.

Dalam iklan itu, terlihat tulisan tangan Soekarno memuji kain yang diproduksi Tan.

Berikut bunyi lengkap tulisan tangan Soekarno yang ditujukan kepada Tan Tjoei Gin tertanggal 5 Mei 1936.

Toean poenja kain-kain wol memang djempol. Doeloe, waktoe masih ada di Bandoeng, semoea saja poenja keperloean pakaian saja selaloe ambil dari dari toean poenja toko. Dan sekarang di Endeh, walaupoen boeat saja sendiri saja tidak bisa beli apa-apa, maka toeh boeat saja poenja sobat-sobat orang Endeh jang ingin berpakaian bagoes, saja tolong pesankan bakal-bakal pakaian kepada toean poenja toko djoega. Dan saban kain-kain datang, mereka selaloe berkata dengan gembira: "pawe he, toea, pawe! " Artinya: "Bagus selaloe, toan, bagoes sekali!

Tulisan tangan tersebut diakhiri goresan tanda tangan Bung Karno. Dalam iklan itu, Tan Tjoei Gin juga menuliskan sejumlah kata-kata yang mengajak orang berbelanja ke tokonya:

Di ini zaman perlintasan, di ini zaman kemadjoean, kita berpakean boekan hanja oentoek menoetoepkan anggota badan kita. Kita orang berpakean, jang teroetama ontoek mengoendjoek bahwa kita ada sebagi bangsa, ada harga penoeh sebagi lain-lain bangsa, sebagi manoesia kita poen tidak lebih koerang dari oemat Toehan jang mana poen! Oentoek Noesa dan Bangsa Toean dan Njonja dateng pada: "Pasoendan" Oentoek Keperloean Pakaian datanglah pada: Groot WOLLEN MAGAZIJN Firma Tan Tjoei Gin Pasar Baroe 50 Bandoeng.

Tak lama setelah iklan itu terbit, Tan Tjoei Gin sempat ditangkap dan diinterogasi oleh Belanda karena dianggap menyebarkan iklan provokatif.

Tan baru dilepaskan setelah dia menjelaskan bahwa tidak ada tujuan politik di sana. Hanya promosi kain semata.

Cerita dari Mbak Puan itu mungkin tak terlalu diketahui umum.

Sejarah mencatat, Bung Karno memang pernah dibuang ke Ende gegara kegiatan politiknya yang membuat Belanda khawatir.

Bung Karno pun diasingkan ke Ende sejak 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938.

Tentang Bung Karno menjadi pedagang kain menjadi bagian tak terpisahkan dari ketokohannya. (*/adk/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler