Anne Barton, cicit dari Perdana Menteri pertama Australia, Sir Edmund Barton, mendukung gerakan untuk menurunkan patung kakek moyangnya yang didirikan di atas area pemakaman warga Aborigin. Lebih dari 4.000 orang tandatangani petisi untuk turunkan patung Sir Edmund Barton dari pemakaman warga Aborigin  Walikota Port Macquarie dan Hastings tidak mendukung ide memindahkan patung ini Nasib patung tersebut akan ditentukan dalam rapat pemerintah setempat pada 1 Juli mendatang

 

BACA JUGA: Media Australia Akui Siarkan Kabar Hoaks soal Taipan Tiongkok

Area pemakaman tersebut berlokasi di Port Macquarie, yang berada di sebelah pertengahan utara New South Wales.

Petisi untuk menurunkan patung ini sudah ditandatangani oleh lebih dari 4.000 orang dan akan dibahas oleh Pemkot setempat 1 Juli mendatang.

BACA JUGA: Tak Sanggup Tangani Corona, Victoria Minta Bantuan Tentara

Anne mengatakan ia sepenuhnya mengerti maksud dari petisi tersebut.

"Saya merasa sudah waktunya melihat kembali permasalahan ini," kata dia.

BACA JUGA: Dampak Diperketatnya Aturan COVID-19 di Victoria Bagi Pelaku Bisnis Asal Indonesia

"Saya kira ada hal mendasar di sini, bila kita benar-benar ingin melakukan rekonsiliasi yang nyata, maka (pemindahan patung) perlu dilakukan," ujar Anne.

"Selama ini kami — masyarakat pendatang kulit putih — yang selalu didengarkan. Sekarang waktunya untuk memikirkan kembali hal itu," tambahnya. 'Sangat Rasis'

Anne mengatakan sedang mencari buku-buku tentang kakek moyangnya, yang menurutnya merupakan sosok yang 'tak sepatutnya tersembunyi'.

Menurutnya, keputusan untuk menurunkan patung atau memindahkannya tidak berada di tangannya. Namun, tindakan ini tidak akan mengubah kontribusi yang telah dilakukan kakeknya moyangnya bagi Australia.

"Mungkin memang sudah waktunya patung itu dipindahkan ke tempat lain. Saya sangat terbuka untuk itu," kata dia.

Anne mengatakan ia sepenuhnya menghormati mantan Perdana Menteri Sir Edmund Barton, namun tidak mau berpura-pura tak tahu tentang kenyataan bahwa kakek moyangnya terlibat dalam proyek 'yang membunuh dan menghancurkan kehidupan banyak orang'.

"Ia adalah salah satu dari banyak orang yang berusaha melakukan segalanya untuk menegakkan gagasan bahwa Australia adalah negara berdaulat dan tidak ada siapa pun di sini sebelum kedatangan orang kulit putih. Gagasan Terra Nullius," kata dia. Photo: Edmund Barton merupakan satu dari tiga hakim Mahkamah Agung Australia (High Court) saat lembaga tersebut didirikan. (Supplied: Anne Barton)

 

"Tapi, menurut saya, persepsi kita lebih baik sekarang. Kita sangat sadar bahwa tanah ini bukanlah kepunyaan kita," katanya lagi.

"Ia merupakan orang yang hidup di zamannya, dan dia sangat rasis," ujar Anne mengenai kakek moyangnya.

"Banyak orang yang tergabung dalam gerakan Black Lives Matter menyebutkan bagaimana polisi memperlakukan orang berkulit hitam bukan sebagai manusia. Begitulah yang dilakukan kakek moyang saya dan rekan-rekannya," kata Anne menambahkan.

Anggota DPR dari Dapil Barton, Linda Burney, mengatakan ia tidak ingin melihat nama daerah pemilihannya itu diganti.

"Terpilihnya saya di tahun 2016 bagaikan sebuah ironi. Saya suka dengan kenyataan bahwa ada seorang perempuan penduduk asli bisa menduduki kursi Dapil Barton," ujar Linda yang merupakan keturunan Aborigin.

"Yang penting adalah bagaimana patung itu menceritakan kebenaran. Bahwa akan ada keputusan lokal untuk menentukan apa yang terjadi pada patung itu," katanya.

Ia menambahkan, sekarang sudah muncul kesempatan untuk mencerminkan keragaman manusia di Australia melalui tugu dan patung-patung di taman dan pusat kota. Photo: Edmund Barton bersama putri dan istrinya. (Supplied: Anne Barton)

  Dua puluh tahun berdiri

Walikota Port Macquarie dan Hastings, Peta Pinson, telah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap ide memindahkan patung Edmun Barton dari lokasinya sekarang.

"Konstitusi itulah yang telah memberikan kita kemerdekaan dan hak seperti yang kita miliki sekarang," kata dia.

"Patung Edmund Barton sudah berdiri di sana selama 20 tahun lamanya dan tidak pernah ada yang menentang," katanya lagi.

"Kita tidak dapat menulis ulang sejarah. Generasi muda kita kelihatannya ingin merusak struktur ini," ujar Walikota Pete Pinson.

"Mereka minta patung ini diturunkan. Bagi mereka, keberadaannya tidaklah sesuai selera. Namun sejarah memang tidak selalu sesuai selera," katanya.

Baik Anne Barton maupun Walikota Pinson sependapat bahwa perlu ada pembicaraan dengan warga Aborigin setempat sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Sementara itu, ketika dihubungi ABC, Ketua Dewan Tanah Aborigin Lokal Birpai, Bill O’Brien, menolak untuk berkomentar.

Simak berita lainnya di ABC Indonesia.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Australia Kehilangan 50 Ribu Backpacker, Bagaimana Peluang WHV Asal Indonesia?

Berita Terkait