CoAssets Menjadi Perusahaan Crowdfunding Terbesar di Asia Tenggara

Minggu, 29 November 2015 – 14:46 WIB
Ilustrasi.

jpnn.com - SURABAYA - Hadirnya bisnis crowdfunding berbasis financial technology telah membuka mata banyak pihak, bahwa memulai bisnis ataupun menjadi investor tidaklah seribet yang dipikirkan. Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. 

Hal itu terbukti dengan semakin meningkatnya transaksi bisnis crowdfunding. Termasuk bagi salah satu perusahaan crowdfunding, CoAssets. Banyaknya proyek terutama di sektor properti yang sukses saat ditangani, menjadikan CoAssets sebagai salah satu perusahaan crowdfunding ternama di dunia.

BACA JUGA: Jokowi Dorong Pengembangan Pasar Tradisional di Luar Jawa

Buktinya, hingga kini perusahaan yang berbasis di Singapura itu tercatat dalam Top 20 Global Platform. Di Asia sendiri, CoAssets berada di urutan kedua setelah lembaga serupa asal Hongkong. ”Kalau di Asia Tenggara, kamilah yang menjadi market leader,” jelas CEO CoAssets Indonesia Fernanda Reza Muhammad.

Nilai investasi yang sejauh ini sudah dijalankan berkisar di angka USD 39 juta dengan jumlah investor mencapai 27 ribu orang. ”Baru-baru ini, CoAssets juga sudah terdaftar di bursa efek nasional Australia,” imbuh Reza.

BACA JUGA: Menteri Lembong Kunjungi Pasar di Perbatasan Timor Leste

Karena itu, untuk makin memantapkan posisinya sebagai penguasa pasar, Reza mengaku sedang melebarkan sayap menggarap proyek-proyek di Indonesia. Selain bagi mereka yang akan memulai bisnis baru atau startup, layanan CoAssets juga menyasar pengusaha yang akan melebarkan sayap di bisnis yang sudah berjalan.

Targetnya pun beragam. Mulai dari mahasiswa sampai yang memang sudah terjun total ke dunia bisnis. Sedangkan untuk sektor pendanaannya pun juga tak kalah beragam. Bisa properti, usaha café, hingga bidang lainnya.

BACA JUGA: Yaelaahh... Proyek Sejuta Rumah Meleset

”Kita menyebut target pasar kita adalah funding gap, atau mereka yang berada di kasta tengah dalam bisnis. Tentu bukan pemain yang sudah meraksasa, tetapi juga bukan pula yang menjalankan bisnis dalam skala kecil sekali,” jelasnya.

Reza yang aktif dalam Kadin lantas mencontohkan, seseorang bisa saja memulai bisnis café dengan dukungan modal dari investor di CoAssets, asalkan bisnisnya memang jelas. Jika dibuka di dalam mal, berapa tahun kah dia akan menyewa tempat tersebut. Sedangkan jika mengoperasikannya di luar mal, maka bagaimana status tempat yang akan dia jadikan café. Mengontrak atau milik pribadi. 

”Jadi hal itu kami perhatikan sekali. Tujuannya apa, tentu agar investor yang ingin menanamkan modalnya merasa aman. Dan, hal ini juga bermanfaat bagi businessman tadi agar mampu menghitung berapa kemampuannya,” jelas dia.

Kini CoAssets sudah menjalin kerjasama dengan beberapa kampus pencetak entrepreneur seperti Universitas Ciputra. Nantinya mereka akan melatih siswa untuk memahami platform dan penggunaan crowdfunding. Sehingga ketika mereka akan memulai bisnis startup sudah bisa terbantu. 

Pada 7 – 8 Desember mendatang CoAssets Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menghelat konferensi EPIC (Expo for Property, Investing, & Crowdfunding). Bertempat di JW Marriott, Surabaya acara itu akan dihadiri oleh para investor dari berbagai negara. Jadi, ini kesempatan bagi Anda yang ingin memulai atau memperbesar bisnis. (*)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kesiapan Indonesia Hadapi MEA Masih Minim


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler