Daging Anjing Laris Manis, Langsung Dieksekusi di Tempat

Rabu, 03 Oktober 2018 – 00:06 WIB
Anjing yang diperdagangkan di Pasar Beriman, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Sabtu (29/9). Foto: REZA MANGANTAR/MANADO POST

jpnn.com - Sulawesi Utara (Sulut) tak pernah kehabisan pasokan daging anjing. Setiap hari pasti tersedia. Bahkan, hampir semua pasar tradisional dan modern ikut menjual daging salah satu hewan pembawa rabies itu.

Laporan: Revliando Abdillah

BACA JUGA: Waspada! Poso Termasuk Daerah Endemis Rabies

PERDAGANGAN bebas daging anjing di Sulut sudah lama berlangsung. Tak heran jika sudah ada pemasok tetap. Hampir setiap hari puluhan sampai ratusan ekor anjing diangkut dari Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk dijual di Sulut.

Anjing-anjing ini dimuat dalam mobil pick up, ditutup dengan boks terbuat dari papan. Perjalanan darat ditempuh dua hingga tiga hari. Tak hanya anjing. Para pemasok juga mengikutsertakan kelelawar, kucing, dan ular. Semuanya masuk dalam golongan hewan penyebar rabies.

BACA JUGA: Heboh, Sembilan Warga Pangaribuan Diserang Kucing Gila

Nah, pasokan dari luar daerah tersebut kemudian disebar di sejumlah pasar tradisional. Di antaranya Pasar Tomohon yang sudah melegenda, Pasar Langowan, Pasar Pinasungkulan di Manado, serta pasar tradisional lain. Lebih dari 100 pasar tradisional dan modern di Sulut terang-terangan menjual daging anjing, kucing, kelelawar, dan daging patola (ular).

Para penjual tak bisa mengelak asal muasal daging anjing tersebut. Seperti terpantau di Pasar Tomohon. Pasar ini sudah mendunia karena menjual berbagai macam daging tak biasa. Seperti babi hutan, kelelawar, kucing, tikus hutan, ular, monyet, dan anjing. Yang membuatnya sangat ekstrem adalah pembeli bisa melihat langsung bagaimana pedagang ‘membantai’ hewan yang akan dijual.

BACA JUGA: Digigit Anjing, Ibu dan Anaknya Meninggal Dunia

Seperti pemandangan di akhir pekan. Matahari belum menampakkan sinarnya. Namun suasana pasar mulai ramai. Lapak pedagang sayuran sudah siap. Ada juga beberapa pedagang yang ketika itu baru mulai menurunkan jualan mereka dari mobil.

Di sisi lain pasar yang memiliki luas hampir dua hektare itu, ada beberapa pria dengan badan tegap sibuk menurunkan puluhan kandang berisi puluhan ekor anjing.

Kandang-kandang ini dijejerkan. Seperti tahu akan ‘dibantai’, tatapan mata anjing-anjing ini terlihat seperti sedang ketakutan. Ada yang duduk termenung di sudut kandang. Ada juga yang berdiri sambil memasang wajah was-was. Mereka tampak mengamati setiap orang yang lewat. Bagi penyayang anjing disarankan tak mendatangi lokasi ini.

Di meja jualan sudah ada belasan ekor anjing utuh yang telah dipanggang. Siap ditimbang untuk dibeli warga. Layaknya mau barbekyu-an, pedagang sudah siap dengan telenan dari potongan pohon, lengkap dengan parang, untuk mencincang daging menjadi potongan kecil jika diminta pembeli.

Di sekitar lapak ada alat pembakar. Biasanya, jika pembeli memilih anjing masih hidup, pedagang akan langsung ‘mengeksekusinya’ di tempat. Selain alat pembakar, ada pentung dan juga karung yang disiapkan. Caranya sangat ekstrem. Pembeli bisa melihat langsung bagaimana pedagang ‘melenyapkan’ bulu-bulu si ‘guk-guk’.

Aquino Waluyan, salah satu pedagang mengatakan dalam sehari dapat menjual sampai belasan ekor anjing. "Bisa sampai 15 ekor terjual," katanya yang saat ditemui sementara mencincang daging yang sudah dipesan.

Pria bertato yang sudah lima tahun jadi pedagang daging anjing ini menjelaskan biasanya pembeli memilih anjing masih hidup. “Setelah itu dibakar dan dibersihkan. Itu memakan waktu lebih dari satu jam. Tapi kami yang menyiapkan daging sudah dibakar dan siap dipotong," ungkapnya.

Stok daging anjing di pasar tak pernah habis. Sebab selalu dipasok dalam seminggu, sampai satu atau dua kali. Kebanyakan dari daerah Sulawesi Tengah dan Selatan.

"Biasanya kami dapat stok daging dari beberapa daerah. Baik dari Kotamobagu, Gorontalo, Toli-Toli sampai kota di Sulawesi Tengah. Bahkan ada dari Makassar," terangnya, sembari menambahkan kadang dia menjemput sendiri di daerah pemasok. "Kebanyakan dalam keadaan hidup," katanya, seperti diberitakan Manado Post (Jawa Pos Group).

Sekali pasok sampai 100 ekor karena dalam sebulan setiap pedagang rata-rata menghabiskan paling sedikit 100 ekor anjing. "Kalau seminggu satu sekali stok bisa 80 sampai 100 ekor. Satu minggu itu bisa dua kali stok," katanya.

Harganya Rp 35 ribu/kg. Bisa dibeli seekor utuh atau ditimbang kilo. Kalau tidak laku, ditaruh di freezer untuk dijual esoknya.

Di lapak lain ada Ariel. Pedagang ini mengaku sudah puluhan tahun menjajakan daging anjing. Dalam sehari bisa menjual 500 kg daging. "Kira-kira kalau lagi ramai, laku sampai 50 ekor anjing," ungkapnya.

Sama halnya dengan di Tomohon, Pasar Pinasungkulan di Manado juga menjual bebas daging anjing hingga ular. Meski pasar ini berada di ibu kota provinsi, namun pedagang tak segan menjual daging anjing. Bahkan cara ‘mengeksekusinya’ tak jauh berbeda dengan yang dilakukan pedagang di Tomohon.

"Jika hari biasa kita bisa jual dua sampai tiga ekor dengan harga 350 ribu. Pasokannya kami dapat dari Gorontalo, Toli-toli dan Palu. Paling cepat tiga minggu satu kali pasokan diterima,” ucap Aneke Rakian, salah satu penjual.

Mengapa daging anjing masih laris di pasaran? Satu-satu alasannya adalah karena banyak yang mengonsumsinya. Salah satunya Jodi Pongoh. Warga Manado ini mengaku doyan mengonsumsi daging anjing.

“Saya paling senang daging dimasak pakai cabai yang banyak. Namanya RW,” sebutnya. Jika hari-hari biasa, kata pegawai swasta ini, dirinya sudah punya restoran langganan. “Di Manado mulai banyak yang jual masakan daging anjing,” tukasnya.

Ya. Restoran atau tempat makan dengan menu daging anjing bisa ditemukan di Manado. Salah satunya di daerah Malalayang. Di sini dijual makanan ekstrem. Dari daging anjing, tikus, babi hutan, kelelawar, dan ular. Bahkan bukan hanya warga Manado yang rutin datang ke restoran ini. Warga di luar Manado kerap memesannya.

Tak heran jika dari data yang didapat Manado Post, seminggu jumlah anjing yang dibantai atau dijadikan santapan oleh masyarakat Sulut berjumlah 8.400 ekor hingga 9.800 ekor.

Data ini dikumpulkan dari 15 kabupaten/kota di Sulut. Dari jumlah tersebut, 80-85 persen berasal dari luar Sulut. (***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bunuh Anjing Karena Cemburu, Edward Dipolisikan


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler