Dahlan: Ada Dilema dalam Kebijakan Harga BBM

Kamis, 28 Agustus 2014 – 21:54 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan saat menjadi narasumber di acara Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos National Network (JPNN) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (28/8). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan kebijakan harga untuk bahan bakar minyak (BBM) memang memiliki dilema tersendiri. Ia tak menampik, bahwa sebagian kalangan menyebut perlu ada kenaikan harga BBM demi mempertahankan perekonomian negara.

"Sebagian berakal sehat berpendapat bahwa BBM harus naik karena ekonomi akan runtuh kalau BBM tidak naik. Tapi, Pak SBY sering mengatakan jangan naik dulu karena ini satu fakta, yang harus kita lihat, setiap kali kenaikan harga BBM jumlah orang miskin meningkat. Ini suatu fakta," ujar Dahlan di sela menghadiri kegiatan Forum Pemred Jawa Pos Group, Kamis, (28/8).

BACA JUGA: Di Hadapan Puluhan Pemred, Dahlan Berbagi Tips Memotivasi Wartawan

Menurut Dahlan apa yang dikhawatirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu benar. Kenaikan harga BBM membuat jumlah orang miskin meningkat. Namun, di sisi lain, kata Dahlan, jika tak naik pun jumlah orang miskin akan meningkat. Inilah, kata dia, membuat pemerintah dilema. Naik ataupun tidak, hal tersebut akan tetap mengakibatkan kemiskinan.

"Kalau BBM tidak naik, ekonomi runtuh, orang miskin juga akan meningkat. Bedanya, kalau BBM naik jumlah orang miskin bertambah, itu mendadak saat itu juga. Tapi kalau tidak naik, subsidi membesar, ekonomi runtuh, mungkin jumlah kenaikan orang miskin nanti 5 tahun lagi dalam jumlah yang lebih massif," sambungnya.

BACA JUGA: Politisi Golkar Ingatkan Jokowi Tak Dorong PDIP Khianati Wong Cilik

Oleh karena itulah, Dahlan menyatakan pemerintah harus memikirkan cara, agar harga BBM naik tapi tidak sampai menimbulkan kemiskinan bagi masyarakat. Ia tidak sependapat dengan program bantuan langsung tunai (BLT) setelah kenaikan BBM, karena dianggap tidak membantu mengurangi jumlah orang miskin.

"BLT dampaknya hanya menyenangkan, tapi tidak mengubah statistik bahwa jumlah kemiskinan menurun. Karena ketika terima BLT, dia beli pulsa yang tidak ada hubungannya dengan kemiskinan. Mungkin dia beli rokok. Hanya bikin senang. Harus ditemukan cara lain," tandas Dahlan. (flo/jpnn)

BACA JUGA: Jokowi-JK Kompak Bungkam Soal Kenaikan BBM

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pendaftar CPNS Online Terus Bertambah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler