Dahulu Adalah Surga, Sekarang Jadi Neraka

Jumat, 29 Januari 2016 – 09:16 WIB
Korban perang tanding antara warga di Desa Nduaria Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi NTT. FOTO: Timor Express/JPNN.com

jpnn.com - ENDE – Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Ende, Yohanes Antonius Bata mempersalahkan sikap pemerintah yang terkesan diam dan hanya retorika untuk menyelesaikan masalah adat sehingga terjadi perang kedua kubu di Desa Nduaria Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Politikus dari PDI Perjuangan ini mengatakan mestinya masalah itu selesai ketika pelaksanaan seremoni taga kamba yang mengumpulkan para mosalaki bisa mengundang mereka untuk duduk bersama.

BACA JUGA: Dianggap Bisa Jadi CPNS, Tes Pegawai Kontrak Membeludak

“Dahulu Nduaria adalah surga, sekarang jadi neraka. Pemerintah tidak sadar berlarut-larutnya penyelesaian persoalan adat berarti pemerintah seakan memberi tombak dan panah kepada mereka dan hal ini terjadi,” katanya seperti diilansir Timor Express (Grup JPNN), Jumat (29/1).

Dia berharap bupati dan wakil bupati juga turut peduli terhadap persoalan kemasyarakatan. Jangan hanya menyerahkan persoalan kepada staf dibawahnya untuk menyelesaikannya. Pemerintah sebutnya, harus mengambil langkah konkrit, jangan hanya sebatas retorika belaka. Ketika sudah terjadi seperti ini harus segera tanggap jangan lagi rapat koordinasi ambil keputusan seperti apa ketika perristiwa perang tanding sudah terjadi.

BACA JUGA: Membara, 7 Rumah dan Rumdin Dokter Dilalap Api

Seperti yang disaksikan, dua orang korban, Kamis (28/1) dari salah satu kubu diantar ke RSUD Ende dengan dikawal aparat Polres Ende bersenjata lengkap dan berpakaian preman. Menurut salah satu anggota Polres Ende, setelah mengantar korban berikutnya akan diantar juga korban dari pihak lainnya.

Wakil Bupati Ende Djafar H Achmad mengatakan, pihaknya akan segera melakukan rapat Forkopimda dalam menyingkapi kasus itu.

BACA JUGA: Gara-gara Toilet, Dua Rumah Dibakar, Tiga Rusak Berat

Diberitakan sebelumnya, bentrokan yang terjadi antara dua kelompok warga di Desa Nduaria Kecamatan Kelimutu menyebabkan dua rumah warga ludes dibakar, sementara tiga rumah lainnya rusak berat dan beberapa warga mengalami luka akibat kena panah dan parang. Selain itu, beberapa sepeda motor juga menjadi sasaran, sehingga mengalami kerusakan.

Wakil Bupati Ende Djafar H Achmad ketika dikonfirmasi, Kamis (28/1) membenarkan telah terjadi perang tanding antara warga di Desa Nduaria Kecamatan Kelimutu. Dia menuturkan, kejadian itu berlangsung, Rabu (27/1) ketika salah satu pihak mendirikan WC umum, namun tidak melibatkan salah satu mosalaki (penguasa/laki-laki yang menguasai tanah) di daerah itu.

“Saya mendapat laporan seperti itu, di mana persoalan karena tidak menghadirkan salah seorang mosalaki saat neka tanah (menggali tanah pertama kali). Karena itu mendapat reaksi dari salah satu mosalaki dengan pendukungnya dengan cara segel bangunan rumah,” kata Djafar.

Aksi itu mendapat respons dan kedua pihak saling segel yang pada ujungnya terjadi perang tanding antara kedua pihak.

Dia menyebutkan, kejadian ini langsung direspons pihak kepolisian. Dipimpin Kapolres Ende AKBP Johanes Bangun terjun langsung mengamankan situasi dan sekaligus mengamankan sekitar 35 warga dari kedua pihak ke Mapolres Ende.

Sementara itu informasi dari lapangan disebutkan, kondisi keamanan mulai kondusif, namun polisi tetap berjaga untuk mengantisipasi kejadian susulan. Karena itu, kepada anggota Kapolres memerintahkan untuk tembak di tempat bagi warga yang melawan petugas.

“Instruksi Kapolres jelas di mana dia minta anggotanya untuk tembak ditempat jika ada warga yang melawan petugas,” kata salah seorang anggota polisi yang minta namanya tidak ditulis.

Dia mengatakan, Kamis (28/1) Kapolres masih berada di lokasi kejadian dan memimpin langsung anggotanya, sementara itu dia meminta Brimob untuk siaga jika sewaktu diminta bantuan.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Ende Yohanes Antonius Bata mengatakan persoalan utama di Nduaria adalah pengakuan mosalaki di sana. Persoalan itu, kata Yohanes, sudah puluhan tahun, Rabu (27/1) puncak dengan terjadinya perang tanding antara dua kubu.

“Kita sudah duduk bersama untuk cari solusi, baik dari pemerintah, DPRD, polisi dan dua kubu yang bertikai. Kita sudah tiga kali bertemu, namun hingga sekarang sama saja,” katanya.(kr7/ays/fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Kalbar Sebut Gafatar adalah Bom Waktu Pemicu Konflik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler