Derita Keluarga Para Korban Diksar Mapala UII

Rabu, 25 Januari 2017 – 21:56 WIB
DUKA MENDALAM: Jenazah Ilham Nurfadmi Listia Adi dibawa dari RS Bethesda menuju RSUP dr Sardjito untuk autopsi. Foto: Setiaky A Kusuma/Radar Jogja

jpnn.com - Asa untuk menuntut ilmu di Yogyakarta kandas. Nyawa pun ikut melayang. Insiden tewasnya peserta Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.
 
DWI AGUS, Sleman

SENIN (23/1) pukul 23.20, Ilham Nurfadmi Listia Adi menghembuskan napas terakhirnya. Ilham merupakan korban ketiga pendidikan dasar (diksar) Mapala UII.

BACA JUGA: Polres Sita Barang Bukti Penganiayaan Mahasiswa UII

Sebelumnya Muhammad Fadli (20) meninggal saat masih di lokasi diksar di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Kemudian Syaits Asyam (19), dinyatakan meninggal usai dirawat di RS Bethesda.

Ayah Ilham, Syafii tidak menyangka putranya berumur pendek. ”Saya tak menyangka Ilham meninggal di usia muda,” ucapnya ditemui di RS Bethesda, Selasa (24/1).

BACA JUGA: Mereka Ditendang di Bagian Perut, Dipukul pakai Rotan

Terlebih, lanjut Syafii, putranya meninggal di lingkungan kampus yang dianggapnya kental nuansa religi. Dia mengakui adanya bekas penganiayaan fisik di tubuh anaknya.

Syafii mengungkapkan, Ilham sebelum meninggal masih sempat berkomunikasi dengannya. Menurut pengakuan Ilham, dia mendapat penyiksaan dari para seniornya di Mapala UII.

BACA JUGA: Ibunda Korban Diksar Mapala UII: Jangan Siksa Anak Saya

Hal ini dikuatkan saat Syafii melihat langsung kondisi tubuh almarhum. Dalam dugaan Syafii, putranya tidak hanya mendapat siksaan dengan tangan kosong.

”Awalnya Ilham telepon katanya dipukuli, sempat mendapat foto tubuh juga. Saat melihat langsung memang benar ada. Bahkan ada bekas seperti pukulan dari benda selain tangan manusia,” jelasnya.

Karenanya Syafii akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Mulanya dia sudah mendatangi Polda DIY. “Tapi, tadi disarankan untuk melapor ke wilayah hukum kejadian (Polres Karanganyar, red),” ujarnya.

Syafii menuturkan, jenazah Ilham sebelum diboyong pulang ke kampung halaman di Lombok Timur, terlebih dahulu dibawa ke RSUP dr Sardjito untuk proses autopsi. Itu untuk melengkapi berkas laporan dan mengetahui penyebab kematiannya. ”Saya meminta pihak rektorat agar mengevaluasi kegiatan mapala,” tegasnya.

Rektor UII Harsoyo yang menemui Syafii di RS Bethesda pun berjanji akan menindak tegas para pelaku. Tim investigasi internal UII juga sudah berjalan.

”Kasus ini menjadi bahan evaluasi. Kami juga menyampaikan permintaan maaf dan duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan,” kata Harsoyo.

Korban lain, Abyan Razaki (19) yang menjalani rawat inap di RS JIH juga mengalami kondisi serupa dengan Ilham dan Asyam. Dia mengalami luka-luka di tubuhnya.

Kakak Abyan, Raihan Aflah (20) menjadi saksi saat adiknya tumbang. Sepulangnya Abyan dari TGC di Gunung Lawu, Sabtu (21/1), kondisi kesehatannya menurun drastis. Mulai dari luka di kedua kaki, tangan, punggung, bahkan kontur wajah adiknya lebih tirus.

”Waktu mandi dia (Abyan) tidak bisa buka celana sendiri. Saya biarkan agar istirahat,” ujarnya.

Raihan datang lagi ke kamar Abyan sekitar pukul 10.00. Namun, kondisi pintu kamar terkunci dari dalam. ”Akhirnya pinjam kunci cadangan, saya menemukannya hanya terbalut handuk, meringkuk. Langsung saya antar ke JIH untuk periksa semua kondisi,” jelasnya ditemui di RS JIH, Selasa (24/1).

Lebih lanjut Raihan mengungkapkan, keadaan fisik adiknya kala itu sangat lemah. Abyan bahkan tidak bisa berjalan karena luka di tubuhnya.

”Waktu itu saya gendong karena tidak kuat berjalan. Jadi bertanya, kegiatan yang dilakukan selama menjalani diksar mapala itu apa saja. Kalau diagnosa awal bronkitis, jempol kaki harus operasi, dan ginjal infeksi,” ujarnya.

Padahal Abyan tidak memiliki sejarah penyakit tersebut. Hanya, kata Rayhan, adiknya memang kurang mengonsumsi air mineral. Penyakit-penyakit itu baru muncul setelah mengikuti diksar Mapala UII di Gunung Lawu.

”Saat ini Abyan sedang puasa untuk menjalani operasi di kedua jempol kakinya. Kondisi jempol lecet dan mengeluarkan nanah,” jelasnya.

Anehnya, Abyan pulang tidak diantar oleh anggota Mapala UII. Abyan justru diantar oleh teman-teman jurusan teknik kimia yang tidak terlibat kegiatan Mapala UII. Tepatnya dari posko Mapala UII di Jalan Cik Di Tiro, setiba dari Gunung Lawu pukul 04.30.

Raihan mengungkapkan, adiknya bersahabat dengan almarhum Syaits Asyam. Sang adik juga sempat melihat bagaimana perlakukan yang diterima Asyam. Kala itu Asyam memang sudah menyerah tapi tetap dipaksa untuk tetap ikut kegiatan.

”Awalnya adik saya juga ingin mengundurkan diri, tapi melihat perlakukan hukuman yang diterima Asyam, Abyan urung. Dia tetap melanjutkan kegiatan meski fisiknya sudah tidak kuat,” jelasnya.

Abyan juga sedih mengetahui Asyam meninggal. Raihan sempat mengantarkan adiknya untuk melayat ke rumah duka di Jetis, Caturharjo, Sleman. Padahal waktu itu, dokter sudah memaksa Abyan untuk istirahat total.

”Kami akan dukung langkah hukum kepada pelaku kekerasan. Saat ini kami support atas laporan yang dilakukan oleh keluarga Asyam. Mereka sudah seperti keluarga sendiri, selain Abyan dan Asyam juga ada Zacky. Ketiganya bersahabat sejak di SMA Kesatuan Bangsa,” ujarnya.(ila/ong)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anak Saya Tewas Jam 3, Kenapa Dikabari Jam 10 Malam?


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler