Di Taiwan Jadi Makanan Pokok

Rabu, 13 Oktober 2010 – 07:16 WIB

SURABAYA -- Ahli gizi pangan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Annis Catur Adi mengatakan, risiko penggunaan bahan tambahan makanan pada mi instan bergantung kepada bahan yang digunakan dan paparan atas bahan tersebut"Semakin besar konsentrasi bahan, risiko bahayanya juga semakin tinggi," tuturnya.

Annis mengatakan, penggunaan bahan tambahan makanan berupa nipagin biasanya digunakan untuk pengawet makanan olahan yang relatif basah

BACA JUGA: Telkom Siapkan Akuisisi Senilai Rp 1 Triliun

"Tujuannya, mengantisipasi kerusakan makanan selama proses distribusi," terangnya.

Namun, Annis yakin, kadar nipagin 250 mg/kg dalam mi instan sudah sesuai dengan perhitungan gizi pangan untuk masyarakat di Indonesia
Perhitungan kadar tersebut, kata Annis, menjadi panduan produsen karena mi di Indonesia bukan makanan pokok, tetapi sebagai alternatif pengganti makanan pokok

BACA JUGA: IHSG Bergerak Labil

"Ambang batas kandungan nipagin dalam mi instan aman karena besar kemungkinan tidak untuk dikonsumsi setiap hari secara rutin," papar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) itu.

Sedangkan di Taiwan, lanjut dia, mi merupakan makanan utama masyarakat di sana
Karena itu, pemerintah Taiwan tidak memperbolehkan adanya pengawet dalam setiap mi yang dijual di negaranya

BACA JUGA: Pemerintah Tunggak Subsidi ke PLN Rp8,5 Triliun

"Setiap hari orang Taiwan makan mi sama dengan kita makan nasiJadi, wajar kalau mereka sangat memperhatikan adanya zat pengawet dalam mi yang dikonsumsi warganya," tuturnya(nuq/c4/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pipa Chevron Bocor, Lifting Nasional Terganggu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler