Diancam Dipenggal Abu Sayyaf, Satu WNI Berhasil Kabur

Kamis, 18 Agustus 2016 – 05:53 WIB
Enam ABK TB Charles yang berhasil lolos dari penyanderaan dipulangkan ke Samarinda untuk bertemu keluarganya masing-masing setelah tiga hari berada di Mess Lanal, Balikpapan, Selasa, 28 Juni 2016. Tujuh ABK lainnya disandera, salah satunya Muhamad Sofyan yang berhasil kabur. Foto: PAULUS/KALTIM POST/dok.JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA – Muhamad Sofyan, salah satu anak buah kapal (ABK) TB Charles yang sandera kelompok Abu Sayyaf, lolos dari sekapan perompak itu. Saat ini suami dari Sri Dewi diamankan oleh otoritas Filipina untuk diminta keterangan.

Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal.

BACA JUGA: Keren, 10 Kapal Pelni Rayakan HUT RI ke-71 di Tengah Laut

Menurutnya, informasi mengenai bebasnya satu orang WNI atas nama Muhamad Sofyan diterima sejak pagi. Sejak menerima kabar itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan pemerintah Filipina untuk penanganan lebih lanjut.

’’Menlu RI pun sudah memperoleh konfirmasi mengenai bebasnya satu orang sandera tersebut pukul 13.00 WIB,’’ ungkapnya.

BACA JUGA: Kekuatan TNI AL Untuk Mengatasi Segala Bentuk Ancaman

Menurut informasi, Sofyan ditemukan pukul 07.30 kemarin (17/8) di pantai Desa Bual oleh masyarakat sekitar. Dia diinformasikan berenang dari area mangrove dekat kemah para perompak. 

Dalam keterangan yang dinyatakan oleh juru bicara markas komando Mindanao Barat, Filipina, Filemon Tan,  Sofyan terpaksa lari karena diancam akan dipenggal. 

BACA JUGA: Susi: Saya Titipkan Kedaulatan dan Kesejahteraan NKRI Kepada Anda Semua

Sofyan adalah satu dari tujuh ABK kapal TB Charles yang disandera oleh kelompok Abu Sayaf pada 20 Juni. Sebenarnya, saat dia kembali kota Cagayan de Oro di pulau Mindanao, Filipina selatan bersama 13 orang lain. Namun, saat kapalnya dihentikan, hanya tujuh orang yang disandera.

Mereka melewati jalur merah karena bahan bakar yang dijatah perusahaan dikurangi. Mereka hanya punya modal 50 ton solar untuk pergi pulang. Padahal, sejak kawasan itu terjadi penculikan, Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda menyarankan kapal lewat jalur aman melintasi Selat Samboga di Pulau Basilan Filipina.

Namun, itu tidak mudah dilakukan karena mereka butuh lebih banyak solar karena harus menambah perjalanan jadi 12 jam. Bermodal pengalaman yang selalu aman saat mengantar batubara sebelumnya, mereka nekat melewati perairan Jolo Tawi Tawi. Akhirnya, perjalanan mereka dihentikan oleh kelompok Abu Sayaf.

Selama dua bulan mereka disandera bersama tiga ABK kapal LLD113/5/F berbendera Malaysia yang ditawan sejak minggu pertama Juli. Kaburnya Sofyan, membuat sandera dari awak kapal milik PT Rusianto Bersaudara itu menyisakan nahkoda Ferry Arifin, Mahbrur Dahri, Edi Suryono, Ismail, M. Nasir dan Robin Piter.

Hingga kemarin, Iqbal menerangkan bahwa tim gabungan dari Kedutaan Besar RI (KBRI) Manila dan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Davao sudah standby di Kota Zamboanga, Filipina. Mereka pun sudah menunggu jika Sofyan sudah melalui proses pemeriksaan oleh Kepolisian Provinsi Sulu. 

Selain itu, dia pun tetap berusaha memastikan keselamatan ABK-WNI lainnya. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk dengan meminta pemerintah Filipina melakukan gencatan senjata dengan Abu Sayyaf demi keselamatan sandera. 

Pasalnya, minggu lalu dikabarkan bahwa militer Filipina sedang berkonflik dengan Abu Sayyaf. ’’Kami memproleh info bahwa sejak dua hari lalu (15/8) gencatan senjata dilakukan,’’ ungkapnya. 

Kabar tersebut pun disambut gembira oleh sang istri, Sir Dewi. Saat dihubungi oleh Jawa Pos, dia mengaku justru tahu pertama kali dari salah seorang wartawan. Saat itu dia kaget menerima telepon yang menanyakan apakah benar dia istri Sofyan.

’’Saat saya jawab, dia bilang saya harus bersyukur karena suami saya selamat dan sudah lolos,’’ jelasnya.

Setelah itu, barulah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menelpon untuk ikut mengucapkan selamat kepada Dewi. Sayangnya, Dewi hanya bisa pasrah untuk menunggu sang kepala rumah tangga untuk pulang ke Talakar, Sulawesi Selatan.

Pasalnya, anaknya yang baru berusia 13 bulan baru sedang sakit panas dua hari terakhir. ’’Saya harus jaga anak. Jadi hanya bisa berharap suami pulang cepat,’’ terangnya.

Selain Retno, dia pun mengaku juga mendapatkan telepon dari Mega, Istri sandera ABK TB Charles Ismail. Meski dia mengucapkan bersyukur, Dewi pun ikut berdoa agar sandera lainnya bisa ikut bebas. ’’Kita semua perlu berdoa untuk keselamatan sandera lainnya,’’ ujarnya.

Tanpa ada omongan jelas, kekhawatiran terkait keselamatan sandera yang lain sudah pasti meningkat. Ketakutan bahwa penyandera bakal kalap dan melukai sandera lainnya. Namun, pakar teroris Al Chaidar mengatakan, insiden ini belum tentu membahayakan sandera lainnya. 

’’Ancaman itu sudah pasti. Karena fraksi Al-Habsy ini memang cukup kasar memperlakukan sandera,’’ terangnya.

Namun, bukan berari para penculik bakal langsung membunuh sandera lainnya karena ada yang kabur. Mereka juga pasti masih butuh sisa sandera untuk daya tawar. 

Bahkan, Chaidar mengungkapkan ada kemungkinan sandera sengaja dibiarkan kabur. Hal tersebut untuk mempertegas urgensi agar pihak terkait bisa membayar tebusan.

’’Mungkin itu strategi penculik untuk membuat publik sadar mereka bisa saja memenggal sandera dalam waktu dekat,’’ ujarnya.

Namun, dia memastikan bahwa pemerintah masih bisa bernegosiasi dengan pihak perompak. Sebab, fraksi Al-Habsy yang diduga menyandera ABK tersebut memang mengincar uang tebusan. Hanya saja, Al-Habsy diketahui cukup kejam dalam menangani sandera. 

Setelah memastikan keselamatan WNI, dia pun berharap pemerintah terkait bisa langsung melakukan operasi militer  untuk menumpas. Operasi tersebut tak boleh hanya aksi parsial. 

’’Kalau bisa seperti operasi yang di Poso, Papua. Karena, mereka ini mungkin menggunakan nama Abu Sayyaf tapi tindakan mereka bisa sampai tidak manusiawi,’’ ungkapnya. 

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tidak berkomentar banyak mengenai lolosnya WNI tersebut dari tangan Abu Sayyaf. ’’Kami belum bisa memastikan (ada tidaknya WNI yang lolos),’’ ujarnya usai upacara Detik-Detik Proklamasi di Istana Merdeka kemarin.

Dia berjanji segera mengecek kebenaran infoprmasi tersebut kepada jajarannya.

Juru Bicara Markas Komando Mindanao Barat Mayor Filemon Tan mengatakan, pihaknya juga sudah menyelamatkan ABK-WNI selain Muhamad Sofyan. Satu WNI lain adalah Ismail, Mualim I Kapal TB Charles. Pihak otoritas di Mindanao sendiri mengetahui tentang Ismail dari pernyataan Sofyan sendiri.

’’Kami diberitahu bahwa Ismail sebenarnya ikut kabur. Tapi, karena mereka dikejar oleh pihak penculik, mereka memutuskan untuk berpisah,’’ ujarnya. 

Mendengar informasi tersebut, tim gabungan langsung melakukan pencarian di Desa Bual. Pukul 17.00 waktu setempat, mereka menemukan Ismail di tempat persembunyiannya.

Saat ini, Ismail juga sudah diamankan di Kantor Kepolisian Provinsi Sulu, Kota Jolo. Keduanya telah dicek kesehatan dan dinyatakan sehat. Rencananya, mereka diterbangkan ke Kota Zamboanga dengan helikopter semalam. ’’Jika cuaca buruk, mungkin besok pagi,’’ imbuhnya.

Di Zamboanga, kedua WNI tersebut bakal diserahterimakan ke tim perwakilan Indonesia yang sudah siaga di kota itu. Di Zamboanga, ada bandara dengan penerbangan langsung ke Manila atau Davao. Kemungkinan, mereka akan dibawa ke dua kota tempat badan perwakilan Indonesia berada. Yakni, KBRI Manila dan KJRI Davao. 

Filemon pun menegaskan sampai saat ini mereka juga masih melakukan pencarian terhadap lima ABK TB Charles lainnya. Bisa jadi, ada ABK lain yang juga nekat seperti Sofyan dan Ismail. ’’Kami akan terus melakukan pencarian sesuai keterangan dari Sofyan,’’ terangnya. (bil/dim/byu)

WNI Sandera Abu Sayyaf

- Tujuh ABK TB Charles disandera sejak akhir Juni

- Mereka disandera di Kota Luuk, Provinsi Sulu. 

- Rabu (17/8) sekitar pukul 01.00, Sofyan kabur

- Dia kabur dari kawasan mangrove di antara desa Bual dan Bato Itum dengan panjang sekitar 3 km

- Warga desa Bual menemukan Sofyan terjebak di jaring ikan di pantai Desa Bual, Rabu (17/8) sekitar pukul 07.30

- Warga membawa ke kantor pemerintahan Luuk.

- Pada siang hari, Sofyan dibawa ke kantor kepolisian Provinsi Sulu, kota Jolo yang jaraknya satu jam perjalanan.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cara Menteri Susi Tenggelamkan 60 Kapal Asing sudah Beda


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler