JAKARTA -- Para tokoh Partai Demokrat di Kota Padang Sidempuan silakan berlomba-lomba tebar pesona sejak sekarang, jika ingin iku maju di pemilukada 2012 mendatangPasalnya, jangan harap bisa diusung partai berlambang mercy itu, jika tingkat popularitasnya ternyata rendah.
Ketua Departemen Kominfo DPP PD Ruhut Sitompul menjelaskan, mekanisme penentuan calon yang akan dijagokan PD di setiap pemilukada, sudah baku
BACA JUGA: 2015, Pemilukada Satu Provinsi Serentak
Yakni, dilakukan polling terhadap sejumlah nama untuk mengukur tingkat popularitas."Siapa yang mendapat skor tertinggi berdasarkan polling, dia lah yang akan kita majukan," ujar Ruhut Sitompul kepada JPNN di Jakarta, kemarin.
Seperti diketahui, pemilukada di daerah yang dikenal sebagai Kota Salak ini baru akan digelar pada akhir 2012
BACA JUGA: DPR Setujui Dua Anggotanya Diberhentikan Sementara
Kegiatan-kegiatan berbau tebar pesona sudah mula terasa.Partai Demokrat yang jumlah kursi di dewan sudah memenuhi syarat untuk mengusung sendiri pasangan calon, tanpa harus berkoalisi dengan partai lain, juga belum jelas siapa nama yang akan dielus
BACA JUGA: Fahri Hamzah Didorong Saingi Incumbent
Keempatnya yakni Ketua DPRD Aswar Syamsi, Ketua DPC PD KHoiruddin Nasution, anggota DPRD Darwin Harahap, dan Ketua Dewan Penasehat PD Padang Sidempuan, Baginda Tambangan.Siapa yang punya kans terbesar? "Nanti semua kita pollingKan masih tahun depan," ujar Ruhut, yang juga anggota Komisi III DPR itu.
Lebih lanjut dia menjelaskan, nantinya bukan hanya kader PD saja yang namanya masuk daftar untuk dipolling"Non kader pun, jika dinilai bagus, akan kita polling juga," ujar RuhutDengan kata lain, PD tidak membatasi bahwa calon yang akan diusung harus kader PD sendiri"Bisa dari luar," tegasnya.
Dia mengatakan, mekanisme polling ini tetap dilakukan karena dianggap paling fair"Dan tidak ada yang bisa mengintervensi hasil polling," cetus Ruhut.
Sebelumnya, kepada koran ini beberapa waktu lalu, Walikota Solo Joko Widodo menilai, mekanisme pencalonan kepala daerah yang hanya didasarkan pada tingkat popularitas merupakan penyebab terus munculnya kritik terhadap kinerja kepala daerah hasil pemilukada langsung.
Seseorang yang sangat populer, tidak jaminan dia akan mampu menjalankan tugas dan fungsi kepada daerah"Bukan yang baik-baik yang direkrut, tapi yang populer-populerMestinya yang punya komitmen terhadap negara, terhadap masyarakatYang seperti itu yang harus direkrut parpol," kritik pria yang biasa dipanggil Jokowi itu(sam/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... 13 Parpol Baru Mental dari Verifikasi Kemenhukham
Redaktur : Tim Redaksi