Ekonom Bank DBS Ungkap 3 Hal Penting Pemacu Pertumbuhan Ekonomi 2022

Kamis, 16 Desember 2021 – 15:55 WIB
Bank DBS. Foto ilustrasi/ dokumentasi DBS

jpnn.com, JAKARTA - Senior Economict DBS Bank Radhika Rao menyambut baik optimisme Bank Indonesia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berkisar 4,7-5,5 persen.

Radhika menyebutkan ada tiga hal penting yang dapat memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada 2022.

BACA JUGA: Pengakuan Sri Mulyani soal Pertumbuhan Ekonomi 2022, Ngeri-ngeri Sedap

Pertama, Indonesia diprediksi akan berhasil memberikan dosis vaksin penuh kepada 99 persen dari total populasi dewasa pada Maret 2022.

Kedua, kemungkinan Indonesia yang menawarkan lebih banyak investasi dan bergerak pada sektor komoditas hilir serta akselerasi digitalisasi akan mengembalikan pada pertumbuhan yang stabil.

BACA JUGA: Menteri Keuangan Bidik Sektor Ini Jadi Andalan Kinerja Ekonomi 2022

"Ketiga, laporan fiskal Indonesia yang memuaskan dan langkah-langkah untuk mengurangi pajak pada ratio GDP akan memperkuat rasio utang dibandingkan negara lain di Asia," sebut Radhika dalam Webinar DBS eTalk Series bertajuk '2022 Leap Ahead: Economy Reopening & Strategic Sector Rotation', Kamis (16/12).

Menurutnya, terlaksananya program vaksinasi secara masif dan terstruktur mendorong mobilitas masyarakat meningkat, sehingga memicu aktivitas perekonomian untuk mulai berjalan kembali.

BACA JUGA: Wamendag Harapkan Proses Recovery Ekonomi di 2022 Berlangsung Cepat

"Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang berhasil melewati masa kritis pandemi di kuartal IV 2021 berkat adanya pengurangan asumsi ketidakpastian terhadap pasokan vaksin," ujarnya.

Radhika berkeyakinan jika kondisi tersebut dapat terus dipertahankan, ekspektasi pemulihan ekonomi, serta pergerakan komponen lain, seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, hingga ekspor dan impor dapat berjalan sesuai harapan.

Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Kementerian Keuangan Yustinus Prastowo mengungkapkan disahkannya asumsi dasar
ekonomi makro pada RAPBN 2022 menjadi tolok ukur pemerintah Indonesia dalam menyongsong perekonomian tahun depan.

Yustinus menyebutkan ada 4 poin penting yang disepakati pemerintah dan DPR yang akan menjadi dasar penentuan RAPBN 2022.

Keempat poin penting tersebut, yaitu pertumbuhan ekonomi disepakati berada di kisaran 5,2-5,5 persen, laju inflasi ditetapkan 3 persen, nilai tukar rupiah ditentukan untuk tidak lebih dari Rp 14.350 per USD, dan tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun 2022 ditetapkan 6,8 persen.

“Pemerintah Indonesia juga menyetujui sejumlah langkah perpajakan," ujarnya.

Yustinus menjelaskan langkah tersebut ditujukan untuk mengkompensasi penerimaan yang melemah dan kebutuhan pengeluaran lebih tinggi karena pandemi.

"Dengan adanya asumsi dasar ekonomi makro RAPBN dan langkah-langkah ini, memperbesar kemungkinan masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan peluangnya dalam berinvestasi,” paparnya.

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan meyakini Indonesia bersama Malaysia, Filipina, dan Thailand, akan mengalami ekspansi pertumbuhan di 2022.

Hal ini bertolak belakang dengan tren normalisasi pertumbuhan yang terjadi di Amerika Serikat dan sebagian negara Asia.

Menurutnya, sebagai produsen besar dari berbagai komoditas penting dunia, Indonesia menyediakan natural hedge yang menjadi penyelamat ekonomi di tengah terjadinya inflasi tinggi di berbagai kawasan.

"Indonesia juga memiliki structural stories yang sehat, berbeda dengan banyak negara di Asia yang mengalami peningkatan rasio utang dan jumlah penduduk memasuki usia lanjut," papar Katarina.

Katarina menegaskan beberapa hal tersebut ikut meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia di tengah tren diversifikasi oleh investor yang dipicu masalah geopolitik serta pandemi.

“Aliran dana asing telah kembali masuk ke pasar saham, bahkan semakin kuat menjelang pengetatan moneter The Fed," ujarnya.

Dia menilai ekonomi digital juga masih sangat menarik dengan prospek pertumbuhan kuat, terutama didukung oleh potensi inklusi pada indeks saham global.

Sektor teknologi, green economy, dan telekomunikasi tetap menjadi sektor pilihan.

Sementara itu, pasar obligasi dinilai siap dalam menghadapi perubahan sentimen global.

Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi
Indonesia.

"Kami memiliki pandangan yang positif terhadap pasar modal di tahun 2022," ujar Katrina.

Director of Consumer Banking PT Bank DBS Indonesia Rudy Tandjung menyampaikan melalui DBS Treasures dan Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) yang memaparkan market outlook bertajuk '2022 Leap Ahead: Economy Reopening & Strategic Sector Rotation', diharapkan dapat membuka wawasan terkait peluang investasi bagi nasabah.

Selain memberikan insights atau wawasan akan informasi terkini, Bank DBS Indonesia juga melakukan transformasi digitalisasi, yakni semua layanan perbankan mulai dari membuka rekening tabungan, deposito, investasi obligasi dan reksadana dapat dilakukan secara mudah dengan aplikasi digibank by DBS.

Hal ini sejalan dengan visi Live More Bank Less, dan Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk memberikan pengalaman perbankan yang menyenangkan bagi nasabah. (mrk/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler