Ekonom Manulife Punya Kabar Baik soal Pertumbuhan Ekonomi, Bikin Optimistis

Selasa, 09 Agustus 2022 – 18:22 WIB
Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 mencapai 5,4%. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan memproyeksi ekonomi Indonesia 2022 akan tumbuh sekitar 5,0-5,4 persen.

Pertumbuhan ekonomi China dan Asia memang relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lebih maju. Indonesia juga sangat stabil, terlihat bahwa pasar tidak mengoreksi turun perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil,” kata Katarina dalam Media Gathering daring yang dipantau di Jakarta, Selasa.

BACA JUGA: BNP Paribas AM: Inklusi Kunci Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Menurutnya, Indonesia menunjukkan anomali ekonomi.

Pasalnya, di saat pertumbuhan di antara negara-negara lain di dunia yang mengalami pelemahan karena terdampak konflik geopolitik dan Covid-19, Indonesia justru bertumbuh.

BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi Impresif karena Kebijakan Tepat Semasa Pandemi

“Kami melihat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sudah terus meningkat dan berada di posisi sangat tinggi pada Juni 2022 sebesar 128,2, yang menunjukkan konsumen masih optimistis yang juga tampak dari peningkatan penjualan ritel,” imbuhnya.

Katarina menyebutkan dengan peningkatan penjualan ritel diyakini konsumsi rumah tangga Indonesia yang menyumbang hingga lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan terus meningkat ke depan.

BACA JUGA: Sektor Pertanian jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Daerah

"Inflasi akan mencapai 4,1 sampai 4,7 persen secara tahunan pada 2022," ungkap Katarina.

Katarina menilai sejauh ini, keputusan pemerintah mempertahankan subsidi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat inflasi inti yang senilai 2,86 persen year on year pada Juli 2022 masih sesuai dengan perkiraan pemerintah sebesar 2-4 persen.

Inflasi inti dapat meningkat dengan cepat ketika pemerintah meningkatkan harga komoditas ang diatur pemerintah seperti BBM, yang juga akan meningkatkan inflasi umum.

“Kita tahu di 2013 harga BBM subsidi naik 44 persen dan di 2014 naik 30 persen, sehingga baik inflasi inti dan umum naik cukup tinggi saat itu, untuk kemudian ternormalisasi lagi," ungkap Katarina. (antara/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler