Ekspor Baja Terhalang Bea Masuk Tinggi

Rabu, 24 Mei 2017 – 01:18 WIB
Ilustrasi baja. Foto: AFP

jpnn.com, JAKARTA - Industri baja dalam negeri tampaknya masih harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa tetap bersaing baik dipasar domestik maupun ekspor.

Pasalnya, selain menghadapi serbuan produk impor, mereka juga harus melawan dumping yang diterapkan di beberapa negara tujuan ekspor.

BACA JUGA: Incar Dana IPO Rp 480 Miliar

Hadi Sucipto, direktur PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS), mengatakan saat ini banyak negara yang menerapkan bea masuk tinggi untuk melindungi industri baja di dalam negerinya masing-masing.

Imbas dari penerapan kebijakan itu, produk baja Indonesia kurang bisa bersaing bahkan tidak bisa masuk di pasar ekspor.

BACA JUGA: Laporan Keuangan Kemenpora Disclaimer, Begini Respons Imam Nahrawi

“Sekarang banyak negara yang menerapkan bea masuk tinggi sehingga kami tidak bisa ekspor,” ujar Hadi seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Selasa (23/5).

Dia mencotohkan, negara Australia menerapkan bea masuk 19 persen. Sementara Kanada bea masuknya 48 persen. Yang lebih parah lagi Amerika Serikat menerapkan bea masuk produk baja hingga 51 persen.

BACA JUGA: Walah, Rumah Murah Ternyata Salah Sasaran

Praktik ini jelas merugikan industri baja Indonesia yang sebenarnya juga bisa ekspor ke negara tersebut.

“Praktis, kami tidak bisa ekspor. Sekarang kami hanya ekspor ke Singapura saja. Sementara Malaysia dan Thailand meskipun menerapkan bea masuk, namun masih wajar,” tambahnya.

Dengan kondisi demikian, Hadi emngatakan, GDS yang saat ini memiliki kapasitas produksi 450.000 ton per tahun hanya fokus menggarap pasar domestik saja.

Namun, parahnya lagi, selain harus bersaing dengan industri baja dalam negeri, pihaknya juga bersaing dengan produk baja impor yang marak di pasar domestik.

“Harusnya (pemerintah) bersikap tegas. Kalau negara lain menerapkan bea masuk yang tinggi, maka Indonesia juga harus menerapkan hal yang sama untuk produk baja impor agar industri baja dalam negeri terlindungi. Namun selama ini bea masuk impor baja hanya 15 persen,” kata dia.

Meskipun kondisi market masih belum menggembirakan, namun pihaknya terus melakukan ekspansi dengan mengembangkan mesin produksi plate mill GDS -2.

Diharapkan, mesin produksi terbaru ini akan mulai produksi semester akhir tahun 2018 dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.

“Tahun ini kami belanja modal (capex) sekitar Rp 120 miliar untuk melanjutkan pembangunan gedung dan pondasi plate mill GDS-2. Progres pembangunan saat ini sudah 52 persen,” tandasnya.

Terkait penjualan tahun ini, dia mengaku optimistis bisa mencapai Rp 909 miliar. Hingga 31 Maret lalu penjualan telah mencapai Rp 304 miliar atau 33 persen dari target.

Sementara target laba tahun ini sebesar Rp 45,5 miliar. Hingga akhir Maret lalu telah mencapai Rp 20,7 miliar. (han/hen)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga Cabai Terus Anjlok, Ternyata Ini Penyebabnya…


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler