Fahri Hamzah: Pak Jokowi Sudah Nantang-nantang nih

Jumat, 08 September 2017 – 17:10 WIB
Fahri Hamzah. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan, Presiden Joko Widodo sudah jelas mulai memanaskan mesin politiknya menghadapi Pilpres 2019.

Indikasinya, Jokowi meminta kelompok relawannya Projo bersiap-siap menghadapi tahun politik pada 2018 mendatang.

BACA JUGA: Pernyataan Jokowi Bikin Takut Fahri Hamzah

Karena itu, Fahri menegaskan, langkah Jokowi itu harus direspons terutama bagi pihak-pihak yang juga ingin mencalonkan diri menjadi presiden.

Menurut Fahri, sama saja mengajak para kandidat capres lainnya untuk mulai bersiap-siap. “Mana yang lainnya? Ini Pak Jokowi sudah nantang-nantang berkali-kali nih," kata Fahri di gedung DPR, Jakarta, Jumat (8/9).

BACA JUGA: Fahri Hamzah: Tidak Perlu Tunggu MK Panggil Ketua KPK

Menurut Fahri, sudah jelas dengan meminta Projo berkampanye, Jokowi mulai memanaskan mesin nonpartainya.

"Karena ini bisa-bisa lebih efektif daripada mesin partai," kata Fahri.

BACA JUGA: Anggap Jokowi Omong Doang, Mbak Suciwati Pengin Golput Saja

Nah, kata Fahri, di kelompok-kelompok nonpartai Jokowi, juga banyak yang duduk di posisi menteri.

Menurut dia, mereka sampai sekarang masih percaya nonpartai atau relawan jauh lebih mumpuni daripada mesin partai.

"Jadi ini sudah dihidupkan nih dua tahun sebelum pemilu. Karena tahun depan kan seperti beliau bilang kan, bulan September-Agustus itu capres sudah ada. Artinya kampanye lebih kencang," katanya.

Namun, Fahri mengingatkan, menghidupkan mesin nonpartai seperti Projo dan relawan lain setahun sebelumnya juga punya efek buruk. "Efek buruknya adalah kompetisi ini akan liar," tegasnya.

Sebab, ujar Fahri, ada banyak kelompok relawan yang kadang-kadang tidak ada penanggung jawabnya. Terutama relawan-relawan di sosial media dan sebagainya.

"Nah situasi akan panas, tapi panasnya itu banyak yang tidak diketahui apinya datang dari mana," ungkap Fahri.

Dia menyebut, perang antarrelawan di media sosial lebih hangat daripada antarpartai.

Fahri mengatakan, kalau mesin partai, aturan perangnya sudah jelas. Tapi, kalau relawan perang, aturannya tidak jelas.

"Dia jadi menteri ternyata dia relawan, dia jadi pejabat ternyata dia relawan, kan bisa juga itu terjadi," katanya.

Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu berpendapat, relawan ini tidak punya mekanisme pertanggungjawaban formil.

"Disebut bukan pejabat negara tapi mayoritas komisaris BUMN. Yang begini begini kan masalah juga," jelasnya.

Karena itu, Fahri mengingatkan Jokowi agar hati-hati memanaskan mesin yang bisa-bisa punya efek yang tidak terkendali.

"Karena orang-orang ini banyak dan tidak teridentifikasi identitasnya relawan-relawan ini," ungkapnya.

Kemudian, lanjut Fahri, lebih baik pernyataan Jokowi ditanggapi oleh calon-calon presiden yang ada tentang bagaimana cara mereka mempersiapkan diri. Sebab, sekarang ini calon baru satu yang terlihat.

"Jelaslah Projo itu calonnya Pak Jokowi dan beliau sudah manasin mesin. Nah, kandidat yang lain mana kok mesinnya belum dihidupkan?" tegasnya.

Dia justru heran, apakah calon lain tidak punya duit atau kepercayaan diri. Selain itu juga apakah karena belum dapat tiket atau dukungan partai sementara Jokowi sudah memperolehnya.

"Sementara Pak Jokowi sudah manaskan mesin masa yang lain tidak manasin mesin? Ayolah, sehingga kita menyelenggarakan satu dialektika yang lebih sehat," paparnya. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Partai Demokrat: Pilpres Masih Jauh, Pak Jokowi


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler