jpnn.com - KARENA dinilai telah merusak ruang fasilitas penunjang satuan rumah susun Apartemen Slipi (Fasum) di Jl. S Parman, Slipi. Harjadi Jahja, mewakili ratusan penghuni Rumah Susun Hunian Apartemen Slipi, Jakarta Barat, melaporkan Anwar S cs ke Polda Metro Jaya, Selasa (23/7) malam lalu. Harjadi Jahja merupakan Ketua Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Hunian Apartemen Slipi.
“Saya kemarin malam sudah melaporkan Anwar serta dua anak buahnya yakni Kristianto dan Muhidin karena sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan perusakan fasum,” pungkas Harjadi saat dihubungi wartawan, Rabu (24/7).
BACA JUGA: Siswi Tertabrak Metromini Akhirnya Tewas
Harjadi menambahkan, Anwar merupakan pengurus lama perhimpunan penghuni. Sejak 10 tahun lalu, Anwar memiliki sertifikat untuk menggunakan tiga ruang fasum di apartemen itu. Padahal sesuai ketentuan, tiga ruang fasum yang terletak di lantai dasar Tower 1 Apartemen Slipi itu, digunakan untuk interaksi sosial seperti ruang bermain anak.
“Saya juga tidak tahu kenapa fasum bisa memiliki sertifikat, kan semestinya tidak boleh. Dan Anwar memiliki sertifikat fasum ini sudah mati 1 tahun lalu. Sejak 2002, tiga ruang fasum ini, disalahgunakan oleh Anwar untuk kantor hukum, toko wall paper, dan marketing mereka,” kata Harjadi.
BACA JUGA: Dukung Ketegasan Satpol PP Tertibkan Spanduk Partai
Harjadi mengungkapkan, kasus penyegelan fasum itu berawal saat kepengurusan penghuni baru ingin kembali memfungsikan fasum untuk ruang bermain anak. Namun, oleh Anwar tiga ruang itu malah disegel dengan cara digembok dan dirantai.
Lalu karena tiga ruang fasum itu sudah menyalahi izin, Harjadi memerintahkan orang untuk memotong rantai sehingga ruangan bisa digunakan. Tapi pihak Anwar malah melaporkan pemotongan rantai ke Polres Jakarta Barat dengan perkara dugaan pencurian.
BACA JUGA: Metromini Amburadul, Jokowi tak Mau Disalahkan
“Pemotongan rantai itu, dilaporkan Anwar ke Polres Jakarta Barat dengan kasus pencurian dan akhirnya Fasum di-police line. Karena saya merasa police line tidak sesuai KUHP, akhirnya saya tunjuk pengacara untuk pra peradilan ke PN Jakbar. Setelah diuji di PN, fasum itu ruang bersama dan police line harus dibuka,” ujar Harjadi.
Kemudian berdasarkan amar putusan PN Jakbar no 04/Pid.Pra/2013/PN.JKT.BAR itu, di poin ke empat, Polres Jakarta Barat harus mengembalikan kekuasaan, kewenangan atas fasum yang dilakukan penyitaan berupa penyegelan dengan police line untuk bisa segera digunakan sebagaimana mestinya oleh seluruh penghuni.
Setelah police line dibuka oleh kepolisian, kini belum dibuat berita acara serah terima dan pintu ruangan fasum telah telah diganti kuncinya oleh pihak Anwar sehingga fasum tetap tidak bisa digunakan.
“Polisi membuka police line lalu pergi. Saya suruh anak buah padamkan lampu fasum. Saat itu, Anwar mau masuk, saya halangi. Terpancing emosi, saya didorong Anwar sampai jatuh. Saya ganti pukul dia tapi tidak parah. Dia malah laporkan saya dengan perkara penganiayaan ke Polres Jakarta Barat,” tambahnya.
Tidak terima laporan Anwar itu, Harjadi melapor balik Anwar ke Polda Metro Jaya dengan laporan bernomor TBL/2522/VII/2013/PMJ/Dit Reskrimsus, dengan sangkaan pasal 335 dan 406 KUHP tentang perbuatan tak menyenangkan dan pengrusakan fasum. Harjadi juga membawa beberapa bukti pendukung seperti salinan putusan PN Jakbar dan mengajukan beberapa saksi dari warga Apartemen Slipi. Atas tindakan petugas yang diduga membuka segel tanpa berita acara Harjadi berencana melaporkan kasus itu ke Propam Polda Metro Jaya.
Saat dihubungi wartawan, Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes M Fadil Imran mengatakan, membenarkan kisruh penghuni di Apartemen Slipi. “Kedua pihak ribut lagi, saling lapor lagi,” katanya, Rabu (24/7). (ibl)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Korban Kecelakaan, Seorang Nenek Belum Dikunjungi Keluarga
Redaktur : Tim Redaksi