Full Day School, Tak Perlu Khawatir, Daerah Ini Sudah Menerapkan Tahun 2016

Kamis, 15 Juni 2017 – 12:18 WIB
Bupati Siak, Drs. H. Syamsuar, MSi saat menyimak bacaan Alquran salah satu santri di rumah Tahfiz Al Alim. Sekolah Tahfiz Alquran kini ada di tiap Kecamatan di Siak. foto for JPNN.com

jpnn.com, SIAK - Wacana Full Day School (FDS) yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuai pro dan kontra.

Banyak yang beranggapan bahwa usulan 5 hari sekolah tersebut akan 'membunuh' aktivitas sekolah keagamaan atau madrasah, meski hal tersebut langsung dibantah Kemendikbud.

BACA JUGA: Menteri Muhadjir Minta Bantuan MUI Redakan Gejolak Lima Hari Sekolah

Terlepas dari pro dan kontra, ternyata ide FDS secara Nasional sudah dipraktikkan oleh Bupati Siak, Provinsi Riau Drs. H. Syamsuar.

Sejak tahun 2016, FDS sudah diberlakukan di Siak. Untuk tingkat SD langsung serentak dan wajib. Sementara SMP diberikan kelonggaran.

BACA JUGA: Jawa Timur Siap Terapkan Jadwal Lima Hari Sekolah

"Sedangkan tahun ini, semua SMP wajib menerapkan," katanya kepada JPNN.com, Kamis (15/6).

Bupati dua periode itu telah lama melaksanakan terobosan kreatif sekolah keagamaan yang terintegrasi dengan pendidikan kurikulum Nasional.

BACA JUGA: Masyarakat tak Perlu Reaktif Menanggapi Kebijakan Lima Hari Sekolah

Cita-citanya yang utama adalah mengajak anak didik di daerahnya mencintai dan mengamalkan Alquran dalam kehidupan mereka.

Ia juga dikenal sebagai sosok kepala daerah yang sangat agamis, dengan mendirikan banyak mesjid dengan infrastruktur megah dan indah di tiap kecamatan, hingga pendidikan bagi para penghafal atau hafiz Alquran.

Bahkan bagi para penghafal Alquran, mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke Arab Saudi.

Menanggapi FDS yang kini menuai pro kontra secara Nasional, menurut Syamsuar hanya perlu sosialisasi saja. Karena terbukti sinkronisasi pendidikan kurikulum Nasional dan pendidikan Agama, ternyata sudah dapat berjalan dengan baik di Siak.

"Alhamdulillah untuk Siak, para orang tua tidak terlalu khawatir. Pendidikan karakter termasuk pendidikan Agama, sudah kita terapkan untuk anak-anak tingkat SD dan SMP sederajat. Bapak Mendiknas pernah langsung ke Siak dan kami pun diundang untuk menjadi narasumber. Apa yang telah dilakukan Pemkab Siak inilah yang kemudian menjadi percontohan di tingkat Nasional saat ini," kata Syamsuar, Kamis (15/6).

Dijelaskan Syamsuar, pendidikan untuk anak-anak SMP sederajat di Kabupaten Siak, dimulai pukul 07.30-14.00 WIB. Anak-anak kemudian melaksanakan salat Zuhur dan makan siang di sekolah. Pukul 14.00 WIB, saat para Guru mereka pulang, anak-anak melanjutkan pendidikan Wushto (pendidikan agama) sampai pukul 16.00 WIB dengan Guru Wushto. Ditutup dengan salat ashar sebelum para siswa pulang.

"Sedangkan untuk siswa SD pulang sekolah sekitar pukul 12.45 WIB. Bagi yang beragama Islam, mereka kemudian diwajibkan masuk PDTA atau Taman Pendidikan Alquran, karena sudah diatur dalam Perda tentang PDTA," jelasnya.

Sementara siswa SMP se-Kabupaten Siak yang beragama Islam, seluruhnya diwajibkan belajar Wushto setelah kurikulum Nasional yakni sekitar pukul 14.00-16.00 WIB.

Sedangkan untuk siswa SMA/SMK belum dianjurkan mengikuti pendidikan pada sorenya karena jenjang tersebut saat ini pembinanya langsung oleh Dinas Pendidikan Propinsi Riau.

"Pendidikan karakter keagamaan merupakan hak dasar dan kewajiban kita para orang tua memberikan pada anak-anak. Karena kelak merekalah yang akan menjadi penerus kita, maka penting menjadikan anak dengan kepribadian dan akhlak yang baik, sesuai dengan tuntunan Alquran," kata Syamsuar yang memuat pernyataan tersebut dalam laman fanpage facebook resminya. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lima Hari Sekolah, Tak Ada Lagi Murid Belajar di Madrasah Diniyah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler