Garda Revolusi Iran Kembali Pamer Kekuatan, Ini Pesan untuk Musuh-Musuh Republik Islam

Sabtu, 16 Januari 2021 – 20:10 WIB
Pasukan Garda Revolusi Islam Iran di base rudal bawah tanah dengan unit pelontar di lokasi yang dirahasiakan, di foto yang tidak bertanggal dari Fars News. Ilustrasi Foto: REUTERS/farsnews.com/Handout via Reuters

jpnn.com, TEHERAN - Garda Revolusi Republik Islam Iran menembakkan rudal balistik jarak jauh ke perairan Samudera Hindia dalam sebuah latihan militer, Sabtu (16/1).

Latihan militer yang dilakukan di wilayah gurun bagian tengah negara itu, menarget area di Teluk Oman dan bagian utara Samudera Hindia.

BACA JUGA: Iran Kembali Berulah, Giliran Korsel Dibuat Marah

Latihan terbaru ini juga menyusul keberhasilan uji coba rudal balistik darat-ke-darat dan drone produksi dalam negeri di area yang sama sehari sebelumnya.

"Salah satu tujuan kebijakan pertahanan kami yang paling penting adalah menggunakan rudal balistik jarak jauh untuk melawan kapal perang musuh, termasuk kapal induk dan kapal perang," kata Komandan Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salami, seperti dikutip dari laporan media pemerintah.

BACA JUGA: Kemenlu Harus Segera Menyelamatkan 2 WNI yang Ditahan Pasukan Revolusi Iran

Dengan rudal-rudal, yang berkemampuan mencapai jarak 1.800 kilometer, Salami mengklaim Iran kini dapat menyerang target bergerak di lautan.

Menurut dia, sebelumnya Iran menggunakan rudal jelajah kecepatan rendah yang biasa.

BACA JUGA: Iran Klaim WNI di Kapal Tanker Korsel dalam Kondisi Baik, Percaya?

Kepala Staf Jenderal Mohammad Baqeri menyatakan bahwa Iran tidak mempunyai maksud menyerang pihak manapun. Namun, lanjut dia, pihaknya kini mampu untuk merespons segala aksi perlawanan dan kejahatan dalam waktu yang singkat.

Sebelumnya, Rabu (13/1), Iran melakukan uji coba pada rudal jarak dekat anti kapal di wilayah Teluk dan juga menggelar latihan di awal bulan ini yang menyertakan penggunaan drone buatan lokal.

Iran adalah salah satu negara dengan program rudal terbesar di kawasan Timur Tengah, mengingat mereka merupakan kekuatan pencegah serta pembalas aksi AS dan negara-negara musuh lainnya yang mengarah ke perang.

Telah ada sejumlah konfrontasi periodik antara militer Iran dengan pasukan AS di wilayah Teluk sejak 2018, ketika Trump hengkang dari perjanjian nuklir Iran 2015 serta menjatuhkan kembali sanksi terhadap Iran.

Presiden AS Terpilih Joe Biden, yang akan menjabat secara resmi pada 20 Januari, menyatakan ia akan bergabung kembali dalam perjanjian nuklir jika Iran juga turut mematuhinya dengan ketat. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler