Geng Pelajar Punya Panglima

Minggu, 30 November 2014 – 11:11 WIB
Geng Pelajar Punya Panglima. Foto JPNN.com

jpnn.com - Bagaimana sisi gelap dunia pelajar Jakarta bisa dilihat dari pengakuan seorang berpangkat cukup tinggi di geng pejalar KJ35 yang sebut saja bernama Franky. Remaja 16 tahun itu termasuk seseorang yang baru merangkak di kelompoknya.

Ketika masuk ke sebuah SMK swasta di kawasan Jakarta Barat, Franky mengatakan tidak punya bayangan macam-macam. Tetapi, cerita berubah ketika dia bertemu dengan Ando, kakak kelas satu tahun yang dikenal sebagai ”penguasa” sekolah tersebut. Ando juga pentolan geng pelajar KJ35.

BACA JUGA: Kekerasan Pelajar di Jakarta Sudah Darurat

Sekadar diketahui, sekolah menjadi cukup rumit bagi remaja cowok dengan kehadiran geng pelajar itu. Jika tidak mau bergabung, siswa bisa di-bully dan tidak dianggap cowok. Sesuatu yang bagi orang tua dan pengamat terlihat sepele. Namun, itu justru the whole world bagi remaja yang bersangkutan. Mereka yang bernyali kecil biasanya menjadi bulan-bulanan, kadang di-bully atau dipalakin. Sesuatu yang memalukan bagi kredibilitas remaja cowok.

Karena itu, ketika Ando mengajak bergabung, Franky tidak punya pilihan lain kecuali mengiyakan. Ternyata geng pelajar memiliki serangkaian aturan perekrutan. Tes pertama adalah daya tahan. Tetapi, itu tidak sesederhana namanya. Calon anggota harus tahan digebuki para panglimanya. ”Badan saya ngilu semua selama seminggu,” kata Franky. Setelah itu, dia diajari macam-macam, mulai membuat senjata hingga taktik tawuran.

BACA JUGA: Buku K - 13 Semester Genap Belum Jelas

Puncak hierarki geng pelajar tersebut adalah panglima. Merekalah yang menjadi pewaris dendam yang turun-temurun. Seorang panglima biasanya sangat brutal supaya mendapat hormat dari para alumnus. Sebagai penguasa de facto, panglima mempunyai sejumlah hak. Salah satunya, memilih pendamping. Tugasnya dalam tawuran adalah memimpin, menyerang, atau mundur.

Di Geng KJ35 ada tiga panglima. Namun, Ando punya tingkat kenekatan lebih. Karena itu, dia mendapat julukan sangar, yakni Sang Naga, dari panglima lain dan anak buah. Khusus para panglima, mereka akan mewarisi dendam abadi dari para alumnus. Sebab, pada tahun kemarin SMK 35 KJ kalah. Kekalahan tersebut juga harus dibayar mahal. Wahyu Kurniadi, 19, seorang panglima mereka, tewas akibat tebasan anggota geng SMK 53 KML.

BACA JUGA: Anies Siapkan Cara Basmi Pungli di Sekolah

Setiap panglima membawahkan 30–50 anak untuk tawuran. Dia berhak mengangkat pendamping yang dijabat Franky. Tugasnya mengoordinasi massa dan mencari peralatan bersama siswa lain. ”Setelah masuk geng itu, saya mengenal serunya tawuran di Jakarta. Saya juga menjabat posisi pendamping yang udah termasuk tinggi, udah disegani banget di sekolah,” lanjut Franky.

Bak film Crows Zero yang sering ditontonnya, tawuran sering diadakan di Jalan Kyai Tapa, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, depan Roxy Square. Franky kerap berada di garis depan penyerangan bersama Ando. Meski begitu, kadang tangannya gemetar bila musuh membawa jenis senjata tajam yang lebih panjang ketimbang miliknya. ”Saya biasanya membawa gir sama celurit,” ujarnya.

Bagi Franky, momen paling menyenangkan dan adrenalin terpacu adalah melihat musuh kesakitan atau berdarah akibat terkena sabetan girnya. Belum lagi bila musuh bisa dipukul mundur. Dia juga menjelaskan cara memenangkan pertarungan. Yakni, membuat musuh takut lebih dahulu (psywar). ”Makanya, kami harus bawa barang-barang yang ngeri. Misalnya, senjata tajam atau gergaji es, biasanya dibikin sama anak-anak di tukang las. Tujuannya, bikin musuh keder duluan, baru kami bisa nyerang dia,” jelas dia.

Hingga kini sekolahnya termasuk yang disegani di wilayah Taman Sari dan sekitarnya. Biasanya tawuran dilakukan di akhir pekan dan di tempat-tempat yang disepakati. Atau, mereka sekadar berjalan-jalan ke daerah musuh. Namun, sejak ada Twitter dan Facebook, mereka tawur secara dadakan. Geng KJ35 juga memiliki musuh abadi. Yaitu, geng dari SMK 53 KML danSTM BT yang sering mereka hadapi.

Menurut data polisi, setidaknya ada hampir seratus geng pelajar di Jakarta yang eksis. Seluruhnya terlibat dalam situasi yang absurd. Yakni, saling bertarung dan terkadang berkoalisi.

Serangan dan strategi yang dipakai pun semakin brutal. Yang terbaru, para pelajar tidak lagi menyerang hanya memakai senjata tajam atau tongkat. Mereka bahkan menyiram wajah musuh pakai air keras. Ada lima kasus seperti itu yang membuat korbannya cacat seumur hidup. (all/agu/co1/ano)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PGRI Usul Gaji Guru Honorer Minimal Rp 2 Juta


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler