Gilang Endi UNS Tak Kesurupan sebelum Meninggal Dunia, Begini Kronologinya

Selasa, 26 Oktober 2021 – 21:38 WIB
Halaman depan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Foto: Romensy Augustino/JPNN.com

jpnn.com, SOLO - Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Sutanto mengklarifikasi informasi tentang mahasiswanya, Gilang Endi, yang disebut mengalami kesurupan sebelum meninggal dunia.

Menurutnya, UNS tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa almarhum sempat kesurupan saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Menwa pada Minggu lalu (24/10).

BACA JUGA: Hasil Autopsi, Ada Tanda Kekerasan di Bagian Tubuh Mahasiswa UNS

"Kami tidak pernah membuat statement itu (Gilang Endi kesurupan, red). Apakah ini keluar dari panitia atau dari orang sekitar itu yang mengatakan korban tidak sadar dan mengigau, kami juga belum tahu pasti," ujar Sutanto usai jumpa pers di Ruang Sidang 2 Gedung dr Prakosa UNS, Selasa (26/10).

Sutanto menjelaskan Gilang mengalami kondisi seperti orang dehidrasi, kemudian kejang dan berbicara di luar kontrol. Menurut dia, para saksi menyebut kegiatan itu berjalan sesuai aturan.

BACA JUGA: UNS Surakarta Janjikan Bantuan Hukum Bagi Korban dan Panitia Diklatsar Menwa

"Memang ada peserta lain yang mengigau, tetapi belum bisa kami informasikan. Kami akan mencari informasi lebih lanjut untuk mendapatkan informasi lebih detail," paparnya.

Mengutip keterangan dari panitia Diklatsar Menwa UNS, Sutanto menyebut kegiatan itu dimulai pada Sabtu (23/10). Pada pukul 06.00, panitia penyelenggara mengadakan penyambutan di Markas Menwa UNS.

BACA JUGA: Usut Kematian Mahasiswa UNS, Polisi Panggil 5 Panitia Diklat Menwa, 1 Teman Korban

Lalu, peserta Diklatsar Menwa bergerak menuju GOR UNS. "Selanjutnya ke musala Fakultas Teknik, setelah itu menuju jembatan yang ada di dekat danau," jelasnya.

Sutanto mengatakan korban mengalami kram pada bagian kaki ketika Diklatsar Menwa hari pertama berakhir pada pukul 23.00 WIB. Panitia Diklatsar Menwa UNS pun mencarikan pendamping untuk Gilang.

"Belum ada tanda-tanda kelelahan fisik, akan tetapi memang menurut panitia kakinya kram dan sudah didampingi," papar Sutanto.

Pada Minggu (24/12) bakda Subuh, panitia Diklatsar Menwa melakukan kegiatan senam senjata dan apel pagi. Setelah itu, kegiatan berlanjut di luar kampus, tepatnya di Jembatan Jurug Surakarta.

"Mereka melakukan keguatan meluncur menggunakan tali dari atas jembatan ke bawah. Korban juga mengikuti kegiatan itu, setelah selesai balik ke kampus. Ketika sampai, korban mengeluh sakit punggung,"lanjut Sutanto.

Sekitar pukul 14.00, korban mendapat perawatan dengan cara dikompres. Namun, Gilang baru dibawa ke rumah sakit pada malam hari.

"Kami tidak pernah mengatakan ada kejadian kesurupan. Kelanjutannya sampai pukul 21.00, inisiatif mereka (panitia Diklatsar Menwa) untuk membawa (Gilang) ke rumah sakit," tegasnya.

Pada pukul 22.05, korban sudah tidak bernapas. Dia meninggal saat berada di dalam mobil yang membawanya ke rumah sakit.

"Itu kronologis yang kami tahu dari pengakuan panitia," tutur Sutanto.

Oleh karena itu, Rektorat UNS pun mengumpulkan semua panitia Diklatsar Menwa pada Senin (25/10) pagi. Pihak kepolisian  juga sudah mengetahui peristiwa itu.

"Semua panitia sudah kami kumpulkan, bergabung Polsek Jebres disusul Polresta Surakarta. Setelah itu kami lanjut mengunjungi TKP dan mengumpulkan barang bukti," kata Sutanto.

Dia memastikan akan ada hukuman yang jelas kepada pihak-pihak yang bersalah dalam insiden itu.

"Jika itu kelalaian bahkan kesengajaan tersebut dilakukan kolektif, kami harus mengambil sikap tegas. Sebelum kami mendapat data akurat kami belum bisa menyampaikan tindakan sanksi yang diberikan," ujar Sutanto.

Walakin, dia menyatakan hal itu tak bisa dibiarkan. "Hal seperti itu tidak bisa ditoleransi," kata Sutanto.(mcr21/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sebelum Meninggal, Mahasiswa UNS Mengeluh Kaki Kram


Redaktur : Antoni
Reporter : Romensy Augustino

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler