Giliran Tentara Acak-Acak Kampung Rohingya, Tembak Penduduk Sesuka Hati

Selasa, 29 Agustus 2017 – 06:08 WIB
Wanita Rohingya mengungsi dari daerah konflik di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Foto: AFP

jpnn.com, YANGON - Seperti sudah diduga sebelumnya, serangan milisi Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) pekan lalu dibalas militer Myanmar dengan menghantam pusat-pusat populasi etnis Rohingya.

Berdalih memerangi terorisme, tiga kota di Negara Bagian Rakhine dengan mayoritas penduduk etnis Rohingya dikepung. Yakni, Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung.

BACA JUGA: Aung San Suu Kyi Bikin Relawan Kemanusiaan Angkat Kaki dari Myanmar

Kelompok HAM menyebutkan bahwa 800 orang, termasuk puluhan anak-anak, tewas dalam operasi militer itu.

Pasukan militer Myanmar mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mencari anggota ARSA. Versi penduduk, mereka menembaki siapa saja yang tampak di depan mata dan bergerak. Tak peduli itu perempuan ataupun anak-anak.

BACA JUGA: Eks Sekjen PBB Minta Myanmar Berhenti Menindas Rohingya

Rumah-rumah juga dibakar, persis seperti insiden serupa Oktober tahun lalu. Jam malam diberlakukan untuk sekitar 800 ribu penduduk yang tinggal di tiga wilayah itu.

”Pasukan pemerintah dan polisi penjaga perbatasan membunuh 11 orang di desa saya. Perempuan dan anak-anak termasuk korban tewas. Mereka bahkan tidak membuat pengecualian untuk bayi,” tegas Aziz Khan, penduduk Maungdaw.

BACA JUGA: Bangun 300 Ribu Rumah, Gelontorkan Rp 91 Trililun

Beberapa desa di kota itu diserang militer Myanamar Jumat pagi (25/8), hampir bersamaan dengan serangan ARSA ke beberapa pos polisi yang akhirnya membuat konflik kian memanas.

Versi pemerintah, jumlah korban jiwa ada 104 orang. Itupun mayoritas militan ARSA. Beberapa video pembunuhan yang dilakukan militer Myanmar disebar di jejaring sosial WhatsApp.

Video tersebut tentu membuat penduduk kian ketir-ketir. Mereka tidak berani pergi ke pasar, rumah sakit, dan tempat umum lainnya. Militer Myanmar menembak penduduk begitu saja sesuka hati dengan tanpa bertanya apa pun.

”Pemerintah memperlakukan semua etnis Rohingya sebagai kombatan,” ujar CEO Lembaga HAM Fortify Rights Matthew Smith.

Versi pemerintah, yang melakukan pengerusakan dan pembakaran di Rakhine adalah ARSA, bukan pasukan militer. ARSA juga dituding menggunakan anak-anak untuk berjuang di garis depan dan membunuh para penduduk.

Namun tudingan tersebut langsung dibantah oleh ARSA. ''Saat menggerebek desa-desa di Rohingya, pasukan militer Burma membawa kelompok ekstrimis Budha untuk menyerang penduduk, menjarah properti milik Rohingya, dan membakar rumah mereka,” bunyi pernyataan ARSA lewat akun Twitter-nya.

Begitu tegangnya situasi, pemerintah langsung mengevakuasi ribuan penduduk nonmuslim. Mereka dibawa ke kota-kota yang tidak terdampak konflik maupun diungsikan ke kantor polisi dan berbagai bangunan lain yang lebih terlindung.

Bagi etnis Rohingya, situasi saat ini seperti makan buah simalakama. Jika menetap di Rakhine, mereka terancam dibunuh dan para perempuan diperkosa.
Ketika sampai di Bangladesh, mereka terkatung-katung tak diterima. Beberapa etnis Rohingya yang sudah sampai di Bangladesh via sungai Naf dikembalikan lagi ke Rakhine.

Bukan hanya itu, para pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, juga diminta tak menerima orang baru. Jika ketahuan, mereka akan dipulangkan ke Rakhine.

Otomatis, para pengungsi yang baru datang membuat tenda-tenda seadanya di daerah perbatasan yang sebelumnya tak pernah dihuni.

Paus Fransiskus pun turut mengecam tragedi di Myanmar. Dia berencana mengunjungi Myanmar pada 27–30 November nanti. Setelah itu dilanjut ke Bangladesh pada 30 November hingga 2 Desember. (Reuters/AFP/AlJazeera/sha/c21/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ikon Demokrasi Itu Sebut Tak Ada Genosida Rohingya


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler