Gubernur BI Dinilai tak Becus Kelola Rupiah

Kamis, 18 Juni 2015 – 12:50 WIB
Foto: dok.Jawa Pos

jpnn.com - JAKARTA - Presiden Director Center for Banking Crisis, Achmad Deni Daruri menilai  ada yang aneh dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini. Yakni pelemahan rupiah tidak diikuti oleh kenaikan ekspor. Posisi ekspor tertinggi menurut Daruri, justru ketika nilai tukar berada pada posisi Rp 9.000 per dolar Amerika.

"Di Malaysia dan Singapura, pelemahan mata uang mereka diikuti oleh kenaikan ekspor. Di Jepang bahkan pelemahan mata uang mereka diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kuartal pertama tahun ini. Sementara di Indonesia justru pertumbuhan ekonomi mengkeret pada kuartal yang sama dibandingkan dengan rata-rata kuartal pertama 10 tahun terakhir," kata Achmad Deni Daruri, di Jakarta, Kamis (18/6).

BACA JUGA: Dukung Jokowi Tindak Ketidakberesan di PT Pelindo II

Pelemahan mata uang yang tidak diikuti oleh peningkatan ekspor dan pertumbuhan ekonomi, ujar Daruri, mengindikasikan ada yang salah dengan Bank Indonesia. "Kesalahan pertama adalah tidak mampunya Gubernur Bank Indonesia mengatur rupiah," tegasnya.

Sebagai satu-satunya lembaga di dunia yang diberikan mandat untuk mengelola inflasi rupiah dan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia kata Daruri, tidak mampu melaksanakan mandat tersebut. "Inflasi dan depresiasi rupiah sudah melewati target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia itu sendiri," ungkapnya.

BACA JUGA: Stok Kurang, Harga Daging Ayam Naik di Atas 10 Persen

Dia jelaskan, ketidakmampuan Gubernur Bank Indonesia akhirnya membuat pelaku usaha di Indonesia kehilangan pegangan dalam membuat perencanaan usaha. Perusahaan substitusi impor, lanjutnya, menghadapi kerugian selisih nilai tukar yang semakin besar sementara perusahaan yang berorientasi ekspor juga tidak mampu mendapatkan keuntungan dari nilai tukar tersebut karena inflasi yang tinggi.

"Kedua, ada indikasi bahwa Gubernur Bank Indonesia tidak dihormati oleh pasar karena pasar mengetahui kualitas pendidikan moneter dari sang gubernur. Berbeda misalnya dengan Kuroda (Gubernur Bank Sentral Jepang) yang pada beberapa hari yang lalu mengatakan dengan lantang bahwa pelemahan Yen sudah terlalu besar dan dalam hitungan detik Yen kembali menguat. Bank Indonesia memiliki banyak sumber daya dan dukungan peraturan, namun yang dilihat pasar adalah kecerdasan sang gubernur," pungkasnya. (fas/jpnn)

BACA JUGA: Dorong Pertumbuhan, Genjot Perdagangan Antarpulau

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Suhu Kering El Nino Perpanjang Kemarau, Ancam Pertanian


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler