Guru - guru di Wilayah Perbatasan, Sungguh Luar Biasa

Kamis, 29 November 2018 – 06:10 WIB
Guru di Perbatasan: (dari kiri) Marjuki, Rustiningsih, Hidayati, dan Harcungcung. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com - Guru - guru di perbatasan tetap semangat, inovatif, dan mampui mengukir prestasi. Ya, meski bertugas di daerah dengan fasilitas terbatas, prestasi tidak terbatas. Empat guru di Kabupaten Kepulauan Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sudah membuktikannya.

Mesya Mohamad - Nunukan

BACA JUGA: Sekolah di Perbatasan Kekurangan Guru Bahasa Indonesia

ADALAH Rustiningsih, Marjuki, Hidayati, dan Harcungcung. Empat guru yang mengabdi di wilayah perbatasan.

Meski tnggal dan mengabdi di wilayah yang sarana prasarananya terbatas, tidak membuat mereka patah semangat. Mereka justru semakin kreatif dan inovatif untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di wilayah perbatasan.

BACA JUGA: Bupati Nunukan Ungkap Fakta tentang Guru di Perbatasan

Seperti yang dilakukan Hidayati. Guru SMAN 1 Nunukan ini mengajarkan anak didiknya untuk mencintai mata pelajaran (mapel) Matematika. Matematika yang oleh sebagian besar siswa dianggap sulit dan membosankan, dibuat jadi mapel menyenangkan.

Caranya, Hidayati mengubahnya lewat senin membatik. Siswa diajarkan menguasai transformasi geometrik (titik, garis, bidang) lewat desain batik.

BACA JUGA: Tergiur Iming-Iming, Nelayan Selundupkan Sabu-Sabu 4,5 Kg

Komik Matematika karya Hidayati. Foto: Istimewa

Awalnya, Hidayati mengajarkan siswanya dengan menggunakan bahan papan untuk menggambarkan pola. Pola-pola itu merupakan perhitungan matematika. Sepintas hanya seperti batik biasa. Namun kalau dicermati, batik transformasi geometrik adalah rumus matematika.

Atas usaha Hidayati ini, dia berhasil masuk menjadi finalis di ajang guru SMA berprestasi tingkat nasional 2018. Dia berencana akan mengembangkan pembelajaran matematika lewat komik. Desain komiknya sudah jadi tinggal dikembangkan.

Lain lagi dengan Rustiningsih, guru SMPN 1 Nunukan. Dia menumbuhkan minat siswa terhadap mapel sains lewat metode Shopping Idea.

Mapel sains yang butuh laboratorium lengkap disulap Rustingsih lebih sederhana dengan Shopping Idea. Dia hanya minta siswa mencari bahan lewat internet atau apa saja tentang sistem reproduksi. Kemudian siswa diminta menggambarkannya lengkap dan ditempelkan di laboratorium.

"Hasil karyanya itu dipaparkan dalam diskusi kelompok. Mereka saling adu argumentasi tentang sistem reproduksi sehingga tanpa menggunakan digital visual, mereka bisa menguasai materi ini dengan baik," terang Rustiningsih yang menjadi finalis guru SMP berprestasi tingkat nasional 2018.

Berkat Shopping Idea ini, minat siswa SMPN 1 Nunukan akan sains terdongkrak. Nilai akademik siswa pun meningkat.

Guru berprestasi Marjuki, juga punya cerita. Guru asal Solo ini menjadi finalis guru pendidikan khusus berprestasi tingkat nasional 2018 atas pengabdiannya pada siswa berkebutuhan khusus.

Marjuki mengajar di SLB Nunukan. Di Kaltara, hanya ada empat SLB, salah satunya di Kab Kep Nunukan.

Sebenarnya, cita-cita Marjuki adalah menjadi seorang insinyur. Namun, nasib berkata lain. Keprihatinannya terhadap siswa berkebutuhan khusus mengalahkan hasratnya.

Dia memilih mendalami pendidikan sekolah luar biasa. Marjuki yang hidup jauh dari keluarga ini terbukti bisa membuat metode pembelajaran di SLB semakin menarik.

Kisah mengharukan dialami Harcungcung. Juara I lomba tata rias tradisional tingkat nasional 2018 ini bisa menang lewat alis tanduk Tidung. Awalnya, Harcungcung menjadi guru honorer di SDN Sebatik. Sembilan tahun lamanya dia menjadi honorer dengan harapan bisa diangkat jadi guru PNS.

Walaupun mengajar di SD, Harcungcung yang lahir di Malaysia 31 tahun lalu itu lebih tertarik pada dunia tata rias.

Apalagi sejak usia 16 tahun, anak TKI dari Taiwan ini sudah senang merias. Bagi Harcungcung menata rias adalah cara mudah untuk mendapatkan uang.

Tahun 2015, Harcungcung dihadapkan dengan salah satu pilihan. Apakah tetap menjadi guru honorer atau memilih ke pendidikan non formal (instruktur lembaga pendidikan/kursus). Perang batin Harcungcung akhirnya berakhir setelah dia memilih menjadi instruktur.

Pilihannya tidak salah, karena sejak 2015 Harcungcung banyak mengikuti kompetisi tata rias. Dan yang spektakuler saat dia terpilih sebagai juara I lomba tata rias tradisional dalam kompetisi tingkat nasional yang dihelat Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 2018.

Berkat prestasinya itu Harcungcung bisa terbang ke Jerman bersama guru-guru berprestasi lainnya. Ada satu visi Harcungcung, dia ingin membuktikan, walaupun tinggal di wilayah perbatasan, tapi prestasi mereka tidak terbatas. Walaupun penuh keterbatasan sarana prasarana tapi ide dan inovasi tidak terbatas. (esy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Malu Dituduh Mencuri, Rizal Gorok Leher Sendiri pakai Parang


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler