Harga Turun Drastis, Ayam Hidup Dibagi Gratis

Jumat, 28 Juni 2019 – 00:05 WIB
Ternak ayam. Foto: JPG

jpnn.com, SOLO - Harga ayam di tingkat peternak turun drastis ke level sekitar Rp 10 ribu per kilogram. Harga tersebut jauh meninggalkan Harga Pokok Pembelian (HPP) ayam hidup di level peternak yakni Rp 18.000.

Peternak menyebutkan bahwa alasan utama dari fenomena tersebut adalah karena tak seimbangnya suplai dan demand. Produksi ayam di peternak jauh lebih tinggi dibandingkan dengan serapan atau permintaan ayam di pasar.

BACA JUGA: Alhamdulillah, Jelang Ramadan Harga Ayam Stabil

Rabu (26/6) peternak ayam di Jawa Tengah menggelar aksi bagi-bagi ayam gratis di sejumlah titik. Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko menjelaskan bahwa ada beberapa tujuan dari digelarnya aksi tersebut.

”Pertama tentu saja itu merupakan protes secara halus pada pemerintah. Sudah sekitar 10 bulan kondisi harga ayam di peternak di bawah HPP. Paling parah bulan ini,” ujar Singgih, saat dihubungi Jawa Pos.

BACA JUGA: Harga Ayam Anjlok, Pemerintah Gandeng 3 Asosiasi

Lalu alasan kedua, lanjut Singgih, peternak ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa saat ini kondisi suplai ayam sedang melimpah dan harapannya harga di level pedagang ikut turun, sehingga masyarakat tak perlu ragu untuk berbelanja dan mengkonsumsi ayam.

”Memang sayangnya di sejumlah daerah harga di level pedagang tetap. Ini pasti ada masalah di supply chainnya. Ada yang ingin mengambil margin di saat harga di peternak jatuh,” tambahnya.

BACA JUGA: Harga Ayam Potong Masih Terkendali

BACA JUGA: Titi: Kepala BKN Kok Benci Banget Sama Honorer K2

Pinsar berharap banyak pemerintah dapat memberikan atensi pada kondisi tersebut. Menurut Singgih, 10 bulan merupakan waktu yang panjang. Peternak rakyat dan peternak mandiri menahan beban biaya produksi dan pemeliharaan yang tak sedikit. ”Jika kondisi ini berlangsung terus, akan banyak pengusaha yang gulung tikar,” bebernya.

Singgih menggambarkan bahwa kondisi produksi ayam hidup per minggunya mencapai 60 juta ekor, saat hari normal. Namun saat ini produksi bisa mencapai 65 juta ekor lebih per minggunya. Sementara itu, permintaan stagnan di angka 50-55 juta per minggu.

Hal itu bisa terjadi, menurut Singgih adalah karena jumlah bibit yang melebihi batas normal. Kelebihan suplai itu tak diimbangi dengan peningkatan permintaan. ”Tak seperti tahun lalu, permintaan ayam sangat jatuh usai Ramadan. Ini juga salah satu faktor produksi ayam tidak terserap,” jelas Singgih.

Menurut Pinsar, langkah jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah adalah instruksi untuk memangkas jumlah anak ayam (day old chicken/DOC) untuk segera memotong jumlah stok. Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu mengawasi perusahaan besar dari industri pengolahan yang kelebihan stok ayam dan menjualnya ke pasar.

”Selain itu tentu saja mengawasi harga di hilir. Jangan sampai ada oknum nakal yang menahan harga ayam di level normal sementar di hulu harga jatuh. Supaya minat masyarakat untuk membeli ayam dapat meningkat,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peternak yang juga salah satu anggota Pinsar di Jawa Tengah, Suroto, juga menyampaikan hal serupa. Suroto yang turun langsung ke acara bagi-bagi ayam di wilayah Solo, menegaskan bahwa kondisi bisnisnya sudah semakin kritis.

”Keuangan terpuruk. Dengan harga saat ini hasil penjualan tak bisa menutup biaya produksi. Sama-sama merugi, mending kami jadikan sodaqoh untuk membagi ayam secara gratis ke masyarakat,” keluh Suroto, saat dihubungi Jawa Pos.

Menurut Suroto, total ada sekitar 30 ribu ayam yang dibagikan secara gratis di wilayah Solo, Semarang, dan Jogjakarta. Dirinya mengaku sudah nyaris putus asa menunggu turun tangan pemerintah dalam membantu hal ini. ”Kami sudah sampaikan bahkan sejak awal harga jatuh. Tapi belum ada realisasi, seperti rencana pengurangan DOC itu juga tidak berjalan,” bebernya.

Suroto dan kawan-kawan juga berharap pemerintah bisa mengintervensi perdagangan di level hulu. Mereka berharap dalam kondisi seperti ini, HPP yang ada di level Rp 18.500 per ekor dapat diangkat naik. Tujuannya agar kerugian yang dialami peternak tidak semakin dalam.

”Secara perhitungan kira-kira kerugian itu Rp 4000 per ekor. Kalau misal saya punya produksi 40 ribu per ekor, kerugiannya tinggal mengalikan saja. Padahal kita peternak punya puluhan bahkan ada yang punya ratusan pekerja untuk digaji,” urainya. (agf/lyn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga Ayam dan Telur Naik, Lumayan nih


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler