Hemat Beras, Warga 2 Desa yang Dikuasai KKB Masak Bubur

Jumat, 17 November 2017 – 01:46 WIB
Kondisi permukiman warga di Desa Kimbeli Distrik Tembagapura, Mimika Papua, yang dekat sungai dan gunung. Foto: DOK/RADAR TIMIKA

jpnn.com, MIMIKA - Kondisi sekitar 1.300 warga Kimbeli dan Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua, yang masih dikuasai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) semakin memprihatinkan.

Setelah kios sekaligus rumah mereka dibakar, kini bahan makanan mulai menipis. Itu dilaporkan seorang warga yang masih terisolasi di Banti kepada pengurus Ikatan Keluarga Toraja Mimika.

BACA JUGA: Anggota KKB Memerkosa, Menjarah Kios, Rampas HP Warga

Sekretaris IKT Mimika, Marthen Samaa yang dihubungi Radar Timika melalui telepon, Kamis (16/11) kemarin mengatakan, komunikasi dengan salah seorang warga di Banti masih bisa dilakukan meski tidak lancar.

Kepada pengurus IKT Mimika, warga menyampaikan bahwa sebenarnya mereka tidak disandera. Tapi akses sudah terisolasi dan warga dilarang meninggalkan kampung.

BACA JUGA: 150 Balita di 2 Desa yang Dikuasai KKB, Kondisi Menyedihkan

Meski mengaku tidak disandera, warga menyatakan tetap tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, karena berada dalam kondisi ketakutan.

Marthen menyebut, keluarga warga yang tertahan di Banti melaporkan keberadaan keluarganya.

BACA JUGA: Politikus PDIP Curiga Ada Pemasok Senjata ke KKB

Dari 1.300 warga yang tertahan 300 di antaranya adalah warga Toraja. Di Banti, mereka menjalankan usaha kios dan ada pula yang sebagai pendulang.

“Yang sangat memprihatinkan itu ada dua orang anak yang masih balita,” katanya.

Dan dua balita itu tidak lagi minum ASI tapi bergantung pada susu formula. Terputusnya akses, berarti pasokan susu bagi kedua anak itu kini terhenti.

Bukan hanya balita saja yang kekurangan susu formula, warga lainnya pun menyampaikan bahwa bahan makanan seperti beras semakin menipis. Untuk mengakalinya, warga masak bubur untuk dimakan secara bersama-sama.

IKT Mimika kata dia, berniat mendistribusikan bantuan bahan makanan tapi karena akses tidak ada sehingga tidak bisa dilakukan.

“Kami masyarakat Toraja sangat prihatin dan rencana kirim bama. Tapi yang jadi pemikiran bantuan Pemda saja, sampai saat ini tidak bisa didistribusikan,” katanya.

Sebagai bentuk kesiapan, IKT bersama pemerintah telah menyiapkan posko untuk menampung warga, jika nantinya evakuasi dilakukan.

Pengurus IKT juga berharap Pemerintah bersama TNI dan Polri, bisa secepatnya menemukan solusi untuk mengambil langkah evakuasi warga.

Warga IKT bersama warga lainnya diungkapkan Marthen, kini berada di rumah warga setempat, sebab kios yang sekaligus dijadikan sebagai rumah tinggal sudah habis terbakar.

“Karena mereka sudah lama di sana jadi sudah menyatu dengan masyarakat, tapi sekarang terisolir,” ungkapnya.

Sebenarnya tambah dia, warga pernah diizinkan keluar dari perkampungan tapi kemudian batal setelah beberapa kelompok kembali mengadang. (sun)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Motif Ulah KKB Sudah Jelas, Pemerintah RI Jangan Terjebak!


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler