Hubungan Memanas, Turki Sebut Jerman Bermuka Dua

Senin, 20 Maret 2017 – 12:25 WIB
Recep Tayyip Erdogan. Foto: AFP

jpnn.com, ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menyerang Jerman dengan kata-kata pedas. Pemicunya adalah izin yang diberikan Pemerintah Kota Frankfurt, Jerman, kepada etnis Kurdi untuk mengadakan aksi turun ke jalan Sabtu (18/3).

Padahal, dua minggu lalu mereka menolak massa pendukung Erdogan untuk menggelar kampanye referendum Turki. Hubungan Turki dan Jerman kian panas.

BACA JUGA: Suriah Tuding Turki Khianati Komitmen Perdamaian

Sekitar 30 ribu etnis Kurdi asal Turki terlibat dalam aksi tersebut. Massa yang berkumpul di Frankfurt itu berasal dari berbagai kota di Jerman. Mereka menuntut adanya demokrasi dan menolak referendum konstitusi Turki yang dilakukan bulan depan.

Referendum tersebut bakal membuat presiden yang berkuasa memiliki lebih banyak kekuatan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang diinginkan. Mulai penentuan bujet, penunjukan menteri dan hakim, hingga pembubaran parlemen. Ada sekitar 1,4 juta warga Turki di Jerman yang bisa bersuara saat referendum berlangsung pada 16 April mendatang.

BACA JUGA: Erdogan Tuding Belanda Nazi, Menlu Turki Kena Imbasnya

Sebagian besar demonstran membawa bendera maupun banner yang bergambar simbol Kurdistan Workers Party (PKK). Kelompok tersebut dilarang di Turki dan dianggap sebagai teroris. Kelompok PKK memberontak sejak 1984 agar bisa mendirikan negara sendiri.

Sama seperti Turki, baik Uni Eropa (UE) maupun Amerika Serikat (AS) menganggap PKK adalah organisasi teroris. Namun, dalam aksi Sabtu lalu, massa bebas mengusung simbol maupun foto Pemimpin PKK Abdullah Ocalan. ’’Simbol dan slogan PKK itu tidak bisa diterima,’’ kata Ibrahim Kalin, juru bicara Erdogan.

BACA JUGA: Tegang, Polisi Mengamuk di Klinik Kejiwaan

Dia juga menuding Jerman bermuka dua karena mengizinkan pendukung PKK untuk melakukan aksi. Kemarin (19/3) Turki juga menuding Jerman mendukung jaringan pemberontak Fethullah Gulen. Yaitu, Gulenist Terrorist Organisation alias FETO. Tuduhan tersebut keluar setelah majalah Jerman Der Spiegel memublikasikan wawancara dengan kepala badan intelijen federal Jerman Bundesnachrichtendienst (BND).

Pihak BND mengungkapkan, Turki telah gagal meyakinkan mereka bahwa Gullen memang bertanggung jawab atas upaya kudeta di negara yang berbatasan dengan Syria tersebut.

’’Itu adalah usaha untuk menghapus semua informasi yang kami berikan kepada mereka terkait dengan FETO. Ini adalah tanda dukungan mereka terhadap FETO,’’ tegas Kalin. Menurut Kalin, Jerman akan menggunakan FETO sebagai senjata untuk melawan mereka. (reuters/bbc/sha/c15/owi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemenkeu Akui Terduga Pendukung ISIS Eks Pegawainya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler