Indef Ungkap Potensi Ancaman Ekonomi RI 2024, Dipicu Daya Beli Masyarakat Melemah

Kamis, 28 Desember 2023 – 07:00 WIB
Suasana Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusar, pada masa PPKM Level 4, Senin (26/7). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan ada potensi ancaman ekonomi Indonesia pada 2024.

Dia memperkirakan bakal terjadi stagnasi ekonomi di tanah air pada tahun depan.

BACA JUGA: Era Gibran: Kilas Balik Pertumbuhan Ekonomi Kota Solo

"Saya kira potensi ancaman ekonomi kita di tahun depan itu ada kemungkinan stagnasi bahkan mungkin sedikit melambat walaupun tidak besar," ujar Tauhid kepada ANTARA ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (27/12).

Faktor utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata Tauhid, adalah perlambatan ekonomi global.

BACA JUGA: Buka Debat Cawapres, Mahfud Bicara Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Hal tersebut terlihat dari melemahnya permintaan ekspor Indonesia, terutama dari China, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

"Kita masih punya masalah dari sisi penurunan ekspor impor sampai tahun depan, harga komoditas masih belum bergejolak baik akibat pelemahan ekonomi dunia, sehingga itu yang membuat ekonomi kita tidak bertumbuh tinggi," kata Tauhid.

BACA JUGA: Pilpres Satu Putaran Disebut Bisa Bawa Dampak Positif untuk Pertumbuhan Ekonomi RI

Selain itu, faktor domestik yang mempengaruhi ialah daya beli masyarakat Indonesia yang melemah.

Daya beli Masyarakat yang melemah juga menjadi faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi.

"Walaupun pemerintah menyiapkan bantuan sosial untuk masyarakat untuk menjaga daya beli, tetapi nilai bansos yang diberikan kepada masyarakat itu enggak cukup untuk meningkatkan daya beli, jadi rata-rata hanya untuk mempertahankan dari kenaikan harga yang bersifat volatile food."

Oleh karena itu, Tauhid merekomendasikan beberapa kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5 persen pada tahun depan.

Pertama, memperkuat ekonomi domestik dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor ke negara-negara yang pertumbuhan ekonominya masih bagus.

Kedua, meningkatkan daya beli masyarakat melalui efektivitas bantuan sosial, penciptaan lapangan kerja, dan penyediaan fasilitas pendukung.

Ketiga, menyarankan agar pemerintah meningkatkan masyarakat kelas menengah melalui program-program yang tepat sasaran.

"Kita harus meningkatkan kelas menengah kita yang tidak tersentuh bantuan, tidak tersentuh program dari pemerintah tapi mereka jumlahnya banyak.”

“Nah, ini perlu pemerintah membuat program karena mereka juga merupakan penggerak penting perekonomian," kata Tauhid.

Tauhid juga berharap dengan adanya momentum tahun politik pada 2024, pemerintah bisa memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

"Momentum ini harus dikawal agar nantinya terjadi perbaikan di perekonomian kita agar lebih baik lagi ya," ujar Tauhid. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler