Indonesia Butuh Guru Penggerak di Masa Pandemi  

Rabu, 24 Juni 2020 – 10:59 WIB
Ilustrasi Program Guru Penggerak Kemendikbud. Foto: Antara/HO-Dok pri

jpnn.com, JAKARTA - Pandemi COVID-19 di tanah juga memberikan dampak pada dunia pendidikan. Proses belajar mengajar di sekolah pun ditiadakan selama pandemi berlangsung.

Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Hari Pendidikan Nasional 2020 lalu menyelenggarakan lomba menulis surat bertema ‘Hikmah Hari Kemenangan di Masa Pandemi, Surat untuk Mas Menteri Nadiem Makarim’ pada 11 sampai 17 Mei.

BACA JUGA: Begini Proses Tahapan Awal Menuju Guru Penggerak

“Saya selalu bilang bahwa ini memang suatu bencana, bencana kesehatan, bencana ekonomi, bencana pendidikan. Tapi jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal atau hikmah. Suatu pembelajaran dari pengalaman ini. Karena dari semua kesulitan, itu adalah akar dari pembelajaran yang terpenting di hidup kita ya,” kata Mendikbud Nadiem Makarim melalui kanal YouTube Kemendikbud di Jakarta.

Pada lomba tersebut, surat paling inspiratif kategori guru ditulis oleh Santi Kusuma Dewi dari SMP Islam Baitul Izzah, Nganjuk, Jawa Timur dan Maria Yosephina Morukh dari SD Kristen Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

BACA JUGA: Simak Penjelasan Kemendikbud Soal Balai Guru Penggerak

Santi melakukan pembelajaran dengan menggunakan teknologi di antaranya mengajarkan coding (meski dirinya adalah guru Bahasa Inggris) serta menggunakan Google Earth untuk mengajak muridnya keliling dunia. Sedangkan Maria di masa pandemi ini melakukan kunjungan ke 5 rumah siswanya setiap hari untuk memberikan pembelajaran.

“Saya ada satu kata untuk mendeskripsikan guru-guru seperti ibu Santi dan ibu Maria, itu namanya guru penggerak. Anda adalah guru-guru penggerak di masing-masing daerah. Sudah kelihatan, saya tidak harus melakukan suatu asesemen untuk mengetahui itu. Ibu Maria dan Ibu Santi ini dari jawabannya, dari visinya, dari passion-nya, itu adalah guru penggerak. Dan Andalah yang kita butuhkan di seluruh penjuru negara,” ungkas Mas Menteri.

BACA JUGA: Hanya 13,5 Persen Guru Berpotensi jadi Penggerak

Mendikbud pun menyadari bahwa di masa pagebluk Covid-19 ini, dengan diterapkannya pembelajaran jarak jauh di sejumlah daerah, maka terlihat disparitas yang kontras. Maka solusinya adalah dengan gotong royong antarelemen bangsa demi mengikis disparitas tersebut.

“Dengan adanya krisis Covid ini kesenjangan antara daerah dan kota-kota dan kesenjangan sosio ekonomi malah lebih terpisah lagi ya, kesenjangan itu menjadi lebih besar dengan adanya digital gap seperti ini,” terang Mendikbud Nadiem Makarim.

“Dan itu merupakan suatu hal yang bukan hanya Kemendikbud, tapi seluruh pemerintah dan masyarakat dan pihak swasta harus bisa menutup kesenjangan ini dengan cara yang pro aktif. Kita harus bahu berbahulah untuk menyadari bahwa tidak semua daerah sama. Ada begitu banyak keberagaman, begitu banyak kearifan lokal, begitu banyak perbedaan budaya dan juga perbedaan sosio ekonomi yang harus kita faktorkan. Tidak bisa hanya suatu sistem atau standar yang sama,” tambah Mendikbud.

Maka dalam hal ini Kemendikbud pun mengaplikasikannya sebagai keberagaman dalam standar pencapaian.

“Kami harus mencintai keberagaman dalam sisi budaya. Kita harus mencintai keberagaman dalam sisi standar pencapaian dan kurikulum juga. Dan inilah suatu paradigma baru yang akan kita majukan bersama,” ucap Mendikbud.(mg7/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler