Indonesia Posisi Ke-5 Eksportir Alas Kaki

Selasa, 23 Mei 2017 – 14:39 WIB
Ilustrasi alas kaki. Foto: Radar Sukabumi/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Industri alas kaki diyakini mampu memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap perekonomian.

Industri itu sukses mencatatkan pencapaian lebih dari empat persen market share di pasar internasional.

BACA JUGA: Batam Ini Maunya Apa? Apakah Mau Jadi seperti Jawa? Hatanto: Tinggal Pilih...

Pangsa pasar 4,4 persen tersebut berhasil membawa Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai eksportir di dunia setelah Tiongkok, India, Vietnam, dan Brasil.

Industri alas kaki juga mencatatkan kenaikan sumbangan produk domestik bruto (PDB) dari Rp 31,44 triliun pada 2015 menjadi Rp 35,14 triliun pada 2016.

BACA JUGA: KEK Pilihan Utama Masa Depan Batam

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawanigsih menyatakan, peningkatan kinerja ekspor alas kaki Indonesia tersebut melebihi pertumbuhan nilai ekspor dunia yang hanya sekitar 0,19 persen.

”Hal ini menunjukkan bahwa produk alas kaki dalam negeri memiliki daya saing di atas rata-rata dunia,” jelasnya.

BACA JUGA: Terpenting Bagi Investor Fasilitas dan Insentif, Bukan Statusnya

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Aneka Kerajinan Kemenperin E. Ratna Utarianingrum menyampaikan, pertumbuhan alas kaki didorong karena tren fashion cepat berkembang.

”Pada 2020, pangsa pasar alas kaki nasional ditargetkan sebesar sepuluh persen ke pasar dunia. Kami optimistis bisa tercapai karena seiring dengan pertambahan penduduk, semakin tinggi kebutuhan sepatu,” ujarnya.

Ratna menuturkan, alas kaki nasional lebih banyak dihasilkan oleh industri besar dan menengah, baik dari segi nilai maupun jumlah produksi.

Untuk sebaran industri kecil dan mikro alas kaki di seluruh Indonesia, sebanyak 82 persen berada di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Konsentrasi sektor tersebut di wilayah Jawa Barat meliputi Bogor, Bandung, dan Tasikmalaya.

Di Jawa Timur, konsentrasinya berada di Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Magetan.

Namun, untuk industri penyamakan kulit di dalam negeri, tantangan yang tengah dihadapi saat ini adalah kekurangan bahan baku kulit mentah.

Sebab, pasokan dari domestik baru memenuhi sekitar 36 persen dari total kapasitas industri penyamakan kulit.

”Itu pun kualitas bahan bakunya masih perlu ditingkatkan lagi untuk proses produksi selanjutnya,” ungkap Ratna. (agf/c20/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Industri Elektronik Melandai, Panasonic Pede Melesat 140 Persen


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler