Indonesia Serukan ASEAN Bersatu Perangi Terorisme

Selasa, 26 Juli 2016 – 07:34 WIB
Menlu Retno Marsudi. Foto: dok jpnn

jpnn.com - LAOS - Isu keamanan seperti terorisme, bahkan ketahanan pangan semakin mengemuka di forum-forum antar negara. Seperti halnya dalam ASEAN Ministerial Meeting ke-49 yang digelar di Vientiane, Laos, Senin (25/7). 

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi yang hadir dalam forum itu menekankan pentingnya persatuan dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN atau organisasi negara Asia Tenggara. ”Persatuan itu sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan global ke depan,” tandasnya. 

BACA JUGA: Sehari Dua Serangan, Satu Bermotif Asmara, Satunya Terorisme

Nah, dengan persatuan dan sentralitas atau ASEAN sentris ini, Menlu melihat tantangan-tantangan dunia ke depan bisa diatasi. "Kesatuan dan Sentralitas  ASEAN sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan regional dan menggali potensi kerja sama  untuk mewujudkan ASEAN Community dan mencapai visi ASEAN 2025, khususnya dengan dinamika kawasan saat ini," ujar Retno dalam sesi plenary. 

Selain tantangan, ASEAN juga dikatakan Menlu bisa berkontribusi terhadap stabilitas keamanan di dunia. Keadaan regional yang aman tanpa gangguan dan menikmati perdamaian akan dilihat negara lain sebagai contoh konkret. "Mata dunia sedang melihat ASEAN. Ini merupakan momen penting bagi ASEAN untuk bicara, bertindak dan bergerak secara kohesif," tegasnya. 

BACA JUGA: Skandal E-Mail Guncang Partai Demokrat, Nama Rusia Terseret

Mantan Dubes RI untuk Belanda ini juga menjelaskan, perlunya kontribusi negara-negara ASEAN untuk mengatasi ancaman keamanan non tradisional di perairan kawasan. Contohnya seperti IUU Fishing, pembajakan, perdagangan dan penyeludupan manusia, dan perampokan bersenjata. Secara khusus, Indonesia menggarisbawahi ancaman multi sektor IUU Fishing yang tidak hanya berdampak negatif terhadap kesejahteraan ekonomi regional namun juga merusak lingkungan dan mengganggu stabiltas dan keamanan kawasan.  

"ASEAN perlu kerja sama konkret untuk mengatasi hal tersebut," imbuhnya. 

BACA JUGA: Payudara Saya, Hak Saya!

Untuk diketahui, salah satu yang menjadi landasan hukum adalah implementasi penuh kesepakatan untuk penguatan kerja sama maritim regional oleh negara negara East Asia Summit (EAS) yang telah disetujui pada pertemuan EAS 2015. 

Selanjutnya, Menlu RI juga menggarisbawahi pentingnya ASEAN untuk segera memiliki kerangka regional untuk perlindungan dan promosi hak tenaga kerja migran melalui penyelesaian pembahasan ASEAN Instrument on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers dalam setahun ke depan.

"Keuntungan Komunitas ASEAN harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk sekitar 6,5 juta tenaga migran di ASEAN," pungkasnya. (adn/dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ketua DPD RI Resmikan Sekolah Islam Milik WNI di Jepang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler