Ini Kemiripan Orang Minang dengan Yahudi

Kamis, 12 Maret 2015 – 21:06 WIB
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi dan Jhon Kenedy Martin, menyaksikan Ketua DPD RI Irman Gusman membubuhkan tanda tangan sebagai Grand Launching Restoran Saung Ikan Nusantara, di Kota Bekasi Jawa Barat, Kamis (12/3). Foto: Zulfasli/JPNN.com

jpnn.com - BEKASI - Pola merantau masyarakat Minangkabau mirip dengan pola merantau masyarakat Yahudi. Dimana pun tujuan wilayah perantauannya, ada dua kegiatan yang dominan dilakukan etnis Minangkabau dan Yahudi, yakni membuka usaha rumah makan dan tailor (menjahit-konfeksi).

Hal tersebut diungkap pemilik Restoran Saung Ikan Nusantara, Jhon Kenedy Martin, saat grand launching restorannya, bersama Ketua DPD RI, Irman Gusman dan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, di Jalan Bintara Raya, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/3).

BACA JUGA: Dilaporkan ke Bareskrim, Ahok Santai

"Dalam hal merantau, ada kemiripan orang Minangkabau dengan masyarakat Yahudi, yakni membuka usaha yang berhubungan dengan isi perut dan pakaian," kata Jhon Kenedy Martin.

Dua kemiripan tersebut lanjutnya, hingga kini masih berlangsung. "Bedanya hanya dari sisi penghasilan. Kalau orang Yahudi membuka usaha kuliner dengan sangat mudahnya mendunia. Sementara orang Minangkabau setia pada posisinya sebagai pengusaha kuliner lokal," ungkapnya.

BACA JUGA: Sekda DKI Akui RAPBD yang Diserahkan ke Mendagri dari e-Budgeting

Selain itu, dia juga menyatakan bahwa untuk kawasan Jabodetabek ada sekitar 314 ribu rumah makan Padang atau Minang. "Yang bikin kita miris, hanya sekitar 20 persen saja para pengusaha tersebut sebagai pemilik tempat. Sisanya berstatus kontrak bulanan, tahunan atau lima tahunan," ungkapnya.

Status kontrak tempat ini lanjutnya, sangat riskan bagi pengelola rumah makan Padang untuk mengembangkan usahanya. "Begitu usahanya mulai ramai, pemilik tempat biasanya mengusir dengan cara menaikkan biaya kontrak yang terkadang tidak masuk akal. Akibatnya, mereka mulai lagi dari bawah," ujarnya.

BACA JUGA: Ini Tempat Nyamuk yang Mengigit Ahok

Padahal, jika saja dunia perbankan Indonesia, terutama bank milik pemerintah daerah mau memberikan penguatan permodalan terhadap sektor kuliner ini dengan cara mengucurkan kredit untuk membeli tempat usaha, menurut Jhon, pasti lancar pengembaliannya.

"Kalau usahanya lancar, pemerintah daerah juga dapat manfaat besar karena disetiap transaksi ada restribusi atau pajak yang dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah," ujarnya. (fas/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Polda Metro Jaya Kantongi Calon Tersangka Korupsi UPS


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler