jpnn.com - JAKARTA - Jalan berbayar elektronik alias electronic road pricing (ERP) dinilai sebagai alternatif paling pas untuk menggantikan sistem 3 in 1. Pasalnya, ERP dapat memaksa pengguna kendaraan pribadi mengubah perilaku mereka.
Praktisi dari Intelligent Transportation System Ahmad Nugraha Rahmat mengatakan, masalah yang dihadapi Jakarta saat ini adalah banyaknya masyarakat yang memilih kendaraan pribadi sebagai sarana transportasi. "Kendaraan pribadi saat ini masih menjadi pilihan utama di tengah masih kurang optimalnya pelayanan transportasi publik. Hal inilah yang menyebabkan kemacetan di jalan protokol Jakarta makin padat tiap harinya," katanya di Jakarta, Jumat (8/4).
BACA JUGA: Nasdem Pertanyakan Izin Reklamasi yang Dikeluarkan Ahok
Kandidat Ketua Forum Alumni Telkom University ini menambahkan, faktor ego, kurangnya kesadaran, dan kedisiplinan tak jarang menambah rumit kemacetan Jakarta. Karenanya, kata dia, 3 in 1 pun pada akhirnya masih dirasakan kurang maksimal. Malahan memunculkan masalah sosial baru dengan adanya para joki serta pungutan liar dari beberapa oknum petugas.
Sementara ERP, karena merupakan sistem berbayar, akan lebih efektif dalam membuat masyarakat berfikir dua kali sebelum menggunakan kendaraan pribadi. Dengan kata lain, mereka pada akhirnya hanya akan menggunakan kendaraan pribadi sesuai kebutuhan/kepentingan.
BACA JUGA: Ternyata Ini Alasan Wagub Djarot tak Gunakan Staf Khusus
"ERP memungkinkan kontrol penggunaan kapasitas jalan sehingga tetap optimal. Tarif ERP dapat disesuaikan kondisi rata-rata kecepatan dan kepadatan jalan," katanya seraya menambahkan, riset menunjukkan penurunan kemacetan sebesar 25% dapat meningkatkan mobilitas hingga 100%.
Hal ini juga sangat berdampak signifikan pada penurunan tingkat emisi dan konsumsi bahan bakar. Teknologi ERP seperti ini juga dapat menjadi alternatif utama modernisasi sistem pembayaran jalan tol menuju ke arah Multi Lane Free Flow Electronic Tolling System.
Yakkni sistem yang memungkinkan percepatan transaksi sekaligus mengurangi kemacetan di pintu-pintu tol sebagai imbas kemudahan cek saldo, proses top-up multibank, integrasi dengan aplikasi seluler, serta harga perangkat yang jauh lebih terjangkau.
BACA JUGA: Innalillahi! Balita Tercebur Sumur, 7 Jam Tak Bisa Dievakuasi
"Kota-kota yang telah menerapkan ERP telah membuktikan dan merasakan manfaatnya melalui program Ear Marking atau penggunaan hasil retribusi ERP. Hasil retribusi dikembalikan untuk pengembangan sarana dan prasarana transportasi seperti subsidi pembangunan transportasi publik, perbaikan trotoar, penghijauan sekitar jalan protokol, penanggulangan emisi, penambahan jalur sepeda, dan pembelian bis-bis baru," paparnya.
Penerapan ERI/ELE ini sudah terbukti berhasil di beberapa negara maju dan menekan tingkat kecelakaan dan kejahatan transportasi. Apalagi, di era economic sharing dan disruptive model di bidang transportasi saat ini juga menjadi momentum yang tepat untuk perbaikan. Sebab, masyarakat semakin cerdas memilah dan memilih layanan mana yang terbaik.
"Hal ini juga mendorong para pengambil kebijakan meninjau kembali masterplan dan regulasi agar lebih adaptif terhadap perubahan jaman tanpa melupakan kepentingan masyarakat," pungkas country sales manager Q-Free Indonesia ini. (dil/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Pembangunan Simpang Susun Semanggi Diharapkan Bisa Urai Kemacetan
Redaktur : Tim Redaksi