Inilah Dampak Wajib Rekam Biometrik, Jemaah Umrah Terbebani

Kamis, 20 Desember 2018 – 07:37 WIB
Calon jemaah umrah di Yogyakarta yang harus nginap karena menunggu rekam biometrik. Foto: Istimewa for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pemberlakuan rekam biometrik (sidik jari dan retina mata) oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui operator Visa Facilitation Services (VFS) Tasheel sebagai persyaratan untuk pengurusan visa calon jemaah umrah, mulai makan korban.

Berdasarkan laporan Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Joko Asmoro, sejak diberlakukan 17 Desember, rekam biometrik tidak berjalan baik. Banyak jemaah harus dihadapkan dengan antrean panjang. Bahkan ada yang terpaksa menginap di kantor perwakilan VFS Tasheel hanya untuk menjalani biometrik

BACA JUGA: Permintaan RI soal Rekam Biometrik Dibahas Arab Saudi

"Calon jemaah umrah di Cipinang Mall Jakarta Timur tidak terlayani dengan baik. Mereka antre berjam-jam. Kondisi yang memprihatinkan juga terjadi di Yogyakarta. Mereka naik kendaraan sampai 6 jam dan tiba dari jam 10 malam kemarin, dan sampai saat ini belum terlayani. Ada rekaman wawancara juga," tutur Joko di Kantor DPP AMPHURI di Jakarta, Rabu (19/12).

Melihat kondisi tersebut, Joko menyampaikan keberatan dan penolakannya atas pemberlakuan rekam biometrik. Sebab, membebani calon jemaah umrah. Apalagi kantor VFS Tasheel yang ada di Indonesia tidak memadai.

BACA JUGA: Kemenag Minta Saudi Tidak Persulit Jemaah Umrah Indonesia

"50% calon jemaah kami berasal dari desa. Sehingga, mereka sangat kesulitan untuk melakukan rekam biometrik yang hanya ada di beberapa provinsi dan kota besar. Bagaimana mereka harus bolak-balik menuju kantor VFS Tasheel yang adanya di luar provinsi mereka," paparnya.

Menurut Joko, keberatan calon jemaah ini tak hanya sebatas waktu dan jarak serta kesusahan dalam melakukan proses biometrik tapi juga materi. Para jemaah yang berasal dari sebuah desa terpencil mengeluhkan harus menghabiskan biaya tambahan dari Rp 1 juta hingga Rp 6 juta hanya untuk ongkos dan penginapan selama mengurus rekam biometrik.

BACA JUGA: Rekam Biometrik Berlaku Besok, Ini Seruan Kemenag

Selain, letak geografis, Joko menilai, pelayanan VFS Tasheel yang diberlakukan mulai Senin (17/12), belum siap untuk melayani calon jemaah Indonesia yang setiap tahunnya memberangkatkan lebih dari 1 juta orang per tahun. Bisa dibayangkan, rata-rata per hari yang diaajukan antara 10.000 - 20.000 visa.

"Di hari pertama pemberlakuan, kami belum bisa menyetorkan visa karena belum adanya proses rekam biometrik. Hari kedua, kami hanya bisa mengajukan empat yang sudah melakukan proses biometrik ke kedutaan. Dan hari ketiga, baru bisa diselesaikan prosesnya hanya 110 jemaah," beber Joko.

Ditambahkan Joko, jika hal ini berlarut, tidak hanya pelayanan jemaah umrah di Indonesia yang terkena imbasnya. Hal ini juga akan berimbas pada akomodasi, pelayanan katering, dan hunian hotel di Arab Saudi.

"Minggu lalu, kami sudah sampaikan pada pengurus Kadin Kota Mekkah terkait imbas dari kebijakan ini. Mereka pun berharap, hal ini tidak terjadi. Dan mereka akan berupaya melobi dan menjelaskan hal ini kepada pemerintahnya," pungkas Joko. (esy/jpnn)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berpedoman SIPATUH, Tifa Tour Berangkatkan 409 Jemaah Umrah


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler