Inilah Kabar Terkini Kasus Ambruknya Crane Proyek LRT Palembang

Jumat, 04 Agustus 2017 – 17:08 WIB
Girder (steel box) proyek LRT masih berada di atap rumah warga. Foto: Budiman/Sumeks

jpnn.com, PALEMBANG - Kasus ambruknya crane dan girder (steel box) proyek LRT yang menimpa rumah dan ruko warga di Jl GHA Bastari, Palembang, Sumsel, masih diinvestigasi.

Hingga kemarin (3/8), girder tersebut, tak juga kunjung dievakuasi. Padahal sudah memasuki hari ketiga pascakejadian, Selasa (1/8) dini hari.

BACA JUGA: Kesebelas Kalinya Dapat Adipura, Wako: Jerih Payah Telah Terbayar

Pantauan Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group) kemarin pagi, pekerja LRT kelihatan masih saja mencari cara bagaimana mengevakuasi girder tersebut.

Sementara police line yang menutup sebagian jalan arah Plaju dan Jakabaring di lokasi kejadian sudah dibuka.

BACA JUGA: Usai Peragakan Habisi Nyawa Istri, Sambil Menangis Pelaku Sujud di Kaki Ibunya

“Police line memang sudah kita buka, jadi kendaraan bisa melintas,” ujar Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono HB, kemarin.

Namun, untuk sekitar rumah korban yang tertimpa girder masih dipasang tali berwarna kuning-hitam tersebut agar jangan ada warga masuk.

BACA JUGA: Sumsel Harus Waspadai Terorisme saat Asian Games

“Saat ini juga tidak ada penyelidikan lagi, namun hasilnya masih menunggu tim Labfor Polda Sumsel. Kami harap semuanya bersabar,” ujarnya, kemarin.

Dia pun menegaskan, hingga kemarin pemeriksaan 6 saksi sudah selesai. “Sampai sat ini belum ada penetapan tersangka,” tegasnya. Dan dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil kepala pekerja LRT untuk dimintai keterangannya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumsel Nasrun Umar menerangkan, pihaknya sudah melakukan investigasi ke lapangan.

“Hasilnya apa dikerjakan PT Waskita Karya selaku kontraktor, semuanya sudah SOP (standar operasional prosedur),” ujar Nasrun di Griya Agung, kemarin. Diakuinya, sebelum melakukan pekerjaan, Waskita melakukan tes tanah.

“Walaupun mungkin tanah yang dites random dan tidak semuanya,” sambungnya. Pengemudi crane pun memiliki surat keahlian secara khusus.

Namun, ke depan pihaknya berjanji akan lebih waspada termasuk antisipasi titik rawan lain. Ditanya pekerja LRT yang merupakan TKA asing dan saat ini bermasalah visa, Nasrun menyebut progresnya masih on going melengkapi dokumen.

“Ya tentu pihak Imigrasi dan Polda punya persepsi sendiri tentang hal itu. Kami akan mencari solusi supaya melengkapi aturan. Pekerjaan LRT tak boleh berhenti,” tandasnya.

Terpisah, PT Waskita Karya akan mengkaji ulang tekstur dan kekuatan tanah yang akan digunakan untuk penempatan crane dan girder.

“Kita tidak ingin kasus ini kembali terjadi. Jadi sebelum kita meletakkan crane, tanah yang akan digunakan dianalisa dulu, termasuk kekuatan dan daya tahan tanah atas crane dimaksud,” kata staf PT Waskita, Aan di lokasi kejadian kemarin.

Selama ini, pihaknya mengaku tak mengetahui kondisi tanah dimaksud. Sebab sejak awal penggunaan dan pembangunan lokasi yang ada tidak ada masalah.

“Kita angkat girder dengan bobot puluhan ton. Kami sadar kalau dipaksakan akan bahaya, jadi lebih baik dibatalkan. Makanya mulai sekarang perlu analisa lebih dulu, khususnya tanah dekat sekitar pemukiman warga,” terangnya.

Untuk crane yang terjungkal dan belalainya yang roboh, sebutnya, sudah dievakuasi dan diletakkan sementara di halaman Masjid Alfathul Akbar. Sedangkan girder atau steel box, diakuinya memang belum diangkut karena masih menganalisa tanahnya. “Secepatnya akan kita pindahkan,” pungkasnya. (chy/afi/fad/ce4)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Semua Rumah Dipinggir Rel Proyek LRT Palembang Harus Dikosongkan


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler