Inilah Pengakuan Korban Pedofil yang Menghilang Setiap Jam Sekolah

Minggu, 16 Agustus 2015 – 05:15 WIB
Ilustrasi

jpnn.com - UNTUK kali pertama, kemarin (15/8) salah seorang korban pelecehan seksual itu angkat bicara. "Saya menyesal karena tidak pernah mengungkapkan semua ini sebelumnya. Sekarang saya ingin bersuara untuk menyeret para barbar itu ke meja hijau," jelas Muhammad Saleem. Remaja 15 tahun tersebut tidak ingin melihat lebih banyak korban seperti dirinya. 

Saleem mengaku menjadi korban pelecehan seksual sejak 2012. Saat itu dia masih berusia 12 tahun. "Mereka melakukannya hampir setiap malam," ujarnya. Saat pelecehan itu terjadi, dia selalu tidak sadar. Sebab, para pelaku selalu menutup wajah Saleem dengan sehelai saputangan. 

BACA JUGA: Sindikat Pedofilia di Pakistan Terkuak, 280 Korban, Mayoritas Bocah Laki-Laki

Diduga, saputangan tersebut mengandung obat bius. Sebab, setiap kali saputangan itu mendarat di wajah dan zat kimianya terhirup hidung Saleem, saat itu pula remaja lelaki tersebut kehilangan kesadarannya. "Begitu tersadar, saya sudah berada di ladang tebu dekat rumah," kenangnya. 
   
Rasa sakit, malu, dan takut membuat Saleem tidak pernah menceritakan duka yang dia alami itu kepada siapa pun, bahkan pada dua orang tuanya. Tetapi, sebagai korban, Saleem cukup beruntung. 

Sebab, tidak semua korban pelecehan seksual di Desa Hussain Khan Wala bisa selamat. Sampai sekarang, masih banyak belia yang raib setelah diduga menjadi korban pelecehan. 
   
Salah seorang korban yang nasibnya tidak jelas sampai sekarang adalah Waheed. Bocah lelaki tersebut mendadak lenyap pada 2008. Selama sekitar tujuh tahun ini, Eid Muhammad terus mencari putranya itu. Begitu skandal pelecehan seksual Hussain Khan Wala terungkap awal pekan ini, Muhammad mengerti dengan yang terjadi kepada buah hatinya. 
   
Apalagi, wajah Waheed muncul dalam salah satu video pelecehan seksual yang kini menjadi bukti di kepolisian. Tidak kurang dari 400 video mesum yang mempertontonkan adegan tidak senonoh dengan bocah menjadi bukti besarnya skala kejahatan keji tersebut. Video-video itu juga diedarkan secara internal dalam jaringan pedofil sebelum disebarluaskan lewat internet.
   
Kepada ABC, Muhammad bercerita bahwa sebelum kabur dari rumah, Waheed terlibat adu mulut dengan dirinya dan istrinya. Itu disebabkan barang-barang berharga di kediaman mereka hilang satu per satu. Hal yang sama terjadi di toko yang dikelola pria 54 tahun tersebut. 

BACA JUGA: Cara Pasangan Kekasih Ini Bunuh Bayi Hasil Luar Nikah Sungguh Luar Biasa Keji

Belakangan, Muhammad yang juga dikenal sebagai tukang listrik itu baru sadar bahwa putranya terpaksa mencuri karena terus-menerus diperas para pelaku.
   
Tidak hanya menjadi korban pelecehan seksual, Waheed menjadi korban pemerasan oleh jaringan yang sama. Muhammad menjelaskan, sebelum menghilang, putra sulungnya tersebut sempat menunjukkan tanda-tanda sakit pada bagian perut. Tetapi, sebelum skandal itu terungkap, dia tidak pernah menyadari bahwa sakit perut Waheed adalah dampak dari pelecehan seksual yang dialaminya. 
   
"Saya tidak bisa melupakan anak saya. Saya ingin para penjahat tersebut diadili. Mereka harus digantung, tidak kurang dari itu," ungkap ibunda Waheed. 

Perempuan yang kali terakhir berjumpa dengan buah hatinya sebelum berangkat sekolah itu masih menyesali pertengkaran yang memicu kaburnya sang putra. Dia juga kecewa karena Waheed tidak pernah menceritakan pelecehan yang dialaminya. 
   
Seperti para korban yang lain, Waheed pun menghilang pada jam sekolah. Saat itu dia masih duduk di bangku kelas VI. "Kami kehilangan banyak murid. Mereka meninggalkan sekolah tanpa alasan jelas. Kini kami sadar mereka telah menjadi korban pelecehan seksual terbesar sepanjang sejarah Pakistan," ucap Muhammad Saeed, kepala sekolah salah satu SMA swasta di Punjab. (ABC/dawn/hep/c20/ami)

BACA JUGA: Ledakan Tianjin: Ditemukan Zat Beracun, Warga Radius Tiga Kilometer Dievakuasi

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ledakan Tianjin: Dinas Pemadam Kebakaran Setempat Dituduh Lalai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler