IRESS Sebut Menteri ESDM Perlu Diganti

Selasa, 09 November 2010 – 08:02 WIB

JAKARTA – Kinerja menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dinilai beragamMasing-masing menteri memiliki plus minus

BACA JUGA: Gayus Keluar Sel, Kapolri Marah

Namun yang dianggap gagal adalah Kementerian  Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Menterinya Darwin  Zahedy Saleh mendapat  sorotan sebagai menteri yang gagal menurut Direktur Indonesia Resources Studies (Iress) Marwan Batubara.

Karena itu, mantan anggota DPD dapil DKI Jakarta ini meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu mengganti Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh

BACA JUGA: Sri Edi Swasono: Orang Batak Harus Tegas

"Kinerja Menteri ESDM tidak memuaskan
Saya kecewa dengan kinerja menteri itu," katanya usai diskusi Investasi Asing dan Nasionalisme Ekonomi: Indonesia Tidak untuk Dijual di Jakarta, Senin (8/1).

Menurut dia, selama satu tahun terakhir ini, RUU tentang minyak dan gas (migas) tidak kunjung dibahas, sejumlah PP sebagai amanat UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara belum selesai, dan belum adanya komitmen memberdayakan BUMN dalam pengelolaan migas dan tambang.

Di sektor kelistrikan, lanjutnya, Menteri ESDM tidak memiliki keberpihakan pada penyediaan gas dan batubara bagi pembangkit PT PLN (Persero)

BACA JUGA: Angka Kematian Bayi-Ibu Masih Tinggi

"Kalau tidak mampu sebaiknya Menteri ESDM mundur saja," tambahnyaSebelumnya, pengamat energi Kurtubi juga menilai Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh telah gagal membenahi dan mengembangkan sektor energi dan sumber daya mineral"Kinerja Menteri ESDM tidak memuaskanSelama satu tahun terakhir ini, tidak ada prestasi atau capaian yang signifikan," katanya.

Menurut dia, capaian target yang diklaim Darwin Saleh, hanyalah program rutin yang memang akan jalan dengan sendirinya"Menterinya tidak punya konsep bagaimana membenahi sektor ESDM," ujar Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) itu.

Kurtubi mencontohkan, produksi minyak yang gagal mencapai target sesuai APBN Perubahan 2010 yang ditetapkan sebesar 965.000 barel per hariPadahal, lanjutnya, instansi atau tim yang mengurus produksi migas sudah banyak sekali, mulai BP Migas, Ditjen Migas Kementerian ESDM, Tim Peningkatan Produksi, Dewan Energi Nasional, dan PT Pertamina (Persero).

Namun, kata Kurtubi, tetap saja 'cost recovery' tinggi dan investasi eksplorasi tetap rendah.  Di sisi hilir migas juga tidak menggembirakanRencana pembatasan pembelian premium bersubsidi membingungkan rakyat.

Dia menyoroti pula kegagalan Menteri ESDM mencukupi kebutuhan gas buat pembangkit PT PLN (Persero), sehingga terpaksa memakai BBM dalam jumlah besar dan membengkakan subsidi listrik"Ke depan, kabinet membutuhkan Menteri ESDM yang mempunyai konsep memperbaiki sektor ESDM," tambahnyaHanya saja, Kurtubi tidak yakin SBY akan mengganti Menteri ESDM, meskipun presiden berhak dan publik menghendaki.

Setahun masa kerja Kabinet Indonesia Bersatu II beredar isu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan perombakan kabinet sebagai bagian peningkatan kinerja pemerintahanSesuai amanat konstitusi, presiden mempunyai hak prerogatif menentukan para menteri guna membantu tugas-tugasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Darwin Saleh berpendapat jabatan hanyalah alat bagi seseorang menjalankan perannya dengan baik di dunia"Allah Maha Tahu, Pak Presiden hanya menjalankan kehendak-NyaInsya Allah, saya mencari ridho-Nya," katanya pekan laluDarwin mengatakan, selama satu tahun terakhir, pihaknya telah mencapai target yang ditetapkan dan dinilai secara tuntas Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)(dms)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengamanan UI Semakin Ketat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler