Irjen Dedi Dinilai Mencari Pembenaran Atas Penembakan Gas Air Mata di Kanjuruhan

Selasa, 11 Oktober 2022 – 17:11 WIB
Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo soal penyebab Tragedi Kanjuruhan. Malang. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI Santoso mengkritisi pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo soal penyebab korban tewas di Tragedi Kanjuruhan seusai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. 

Irjen Dedi mengatakan penyebab korban tewas mengawali dengan pernyataan gas air mata yang ditembakkan anggota Brimob pascalaga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, tidak mematikan. 

BACA JUGA: Santoso Tak Terima Pernyataan Irjen Dedi Soal Penyebab Tragedi Kanjuruhan

"Analogi yang disampaikan Kadiv Humas Polri itu seakan-akan memberi pembenaran atas ditembakkannya gas air mata pada peristiwa Stadion Kanjuruhan," kata Santoso melalui layanan pesan, Selasa (11/10). 

Legislator Fraksi Demokrat itu pun tidak terima narasi yang dibangun polisi tentang penyebab korban tewas di Trgaedi Kanjuruhan. 

BACA JUGA: Sudah Dicopot Kapolri, Irjen Nico Afinta Harus Bertanggung Jawab Atas Tragedi Kanjuruhan

Dia merasa penyebab kematian para korban diawali dari langkah polisi yang menembakkan gas air mata ke arah tribune Stadion Kanjuruhan. 

"Semua tahu bahwa kematian itu diawali dari ditembakkannya gas air mata ke arah penonton yang menimbulkan kepanikan," ucap Santoso.

BACA JUGA: Tragedi Kanjuruhan, 19 Aremania Minta Perlindungan kepada LPSK, Ada Apa?

Dia berharap Tragedi Kanjuruhan menjadi pelajaran bagi kepolisian untuk tidak mudah melepaskan gas air mata dalam menangani persoalan di lapangan.

"Peristiwa di Stadion Kanjuruhan menjadi pelajaran buat Polri agar jangan terjadi lagi gas air mata yang dibeli dari uang pajak yang rakyat bayar digunakan untuk membunuh rakyat," tegas dia.

Sebelumnya, Irjen Dedi menyebut gas air mata yang digunakan personel Brimob dalam Tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timýur, tidak mematikan. 

Menurut Dedi, penjelasan itu berdasar dua keterangan ahli, yakni di bidang teksiologi atau racun dari Universitas Udayana dan ahli kimia dan persenjataan dari Universitas Indonesia.

"Gas air mata dalam skala tinggi pun tidak mematikan," ucap Dedi pada Senin (10/10). (ast/jpnn) 

Yuk, Simak Juga Video ini!

BACA ARTIKEL LAINNYA... 20 Polisi Diduga Langgar Etik dalam Tragedi Kanjuruhan, Irjen Dedi Angkat Suara


Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler