Jaka Berkata Ini Jumat Terakhir di Masjid At-Tin, Sri pun Pasrah dan Lesu

Jumat, 11 September 2020 – 16:56 WIB
Para pedagang berjualan di sekitar Masjid At-Tin, Jakarti Timur, Jumat (11/9). Foto: Dicky Prastya/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Di bawah terik matahari, sejumlah jemaah keluar dari Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Jumat (11/9).

Usai jumatan, sebagian dari mereka ada yang langsung menuju parkiran kendaraan, sedangkan sebagian lainnya mendekat ke beberapa pedagang yang berada di sekitar kawasan masjid.

Para pedagang tersebut menjual dagangannya dengan berbagai cara.

Ada yang di bawah tenda, ada juga yang sekadar menggunakan gendongan. 

Barang yang dijual pun beragam.

BACA JUGA: PSBB Jakarta, Pihak Masjid At-Tin Tunggu Keputusan Kemenag

Mulai dari makanan, minuman, pakaian, hingga masker turut meramaikan kawasan masjid yang terletak di dekat Taman Mini Indonesia Indah itu.

Pemandangan ini merupakan sebuah hal yang biasa dijumpai bagi siapa saja yang mengunjungi masjid tersebut di hari Jumat.

BACA JUGA: Aktivitas di Polsek Ciracas Kembali Normal, Tetapi Urus SKCK Seperti di Dalam Oven

Namun, romansa jualbeli ini terancam sirna saat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berlaku mulai Senin (14/9) nanti.

Jaka menjadi salah satu contoh pedagang minuman yang biasa menjajakan dagangannya di kawasan masjid tersebut.

Dirinya mengetahui kabar bahwa PSBB akan segera diterapkan kembali.

"Kayaknya ini jadi Jumat terakhir buat jualan di sini," katanya sembari membuatkan pesanan minuman untuk pembeli, Jumat (11/9).

Dirinya mengaku memang biasa berjualan di Masjid Agung At-Tin saat ada kegiatan salat Jumat.

Seandainya PSBB diberlakukan dan kawasan masjid ditutup, Jaka terpaksa mengalihkan dagangannya ke kawasan lain.

Sama halnya dengan Jaka.

BACA JUGA: PSBB Total di Jakarta, Layanan Nikah Tetap Jalan

Sri yang juga menjajakan minuman ke pengunjung masjid juga mengetahui kabar akan ditutupnya Masjid Agung At-Tin.

Kawasan itu memang menjadi lokasi yang biasa ia jadikan tempat jual beli.

"Rumah saya dekat, tak jauh dari sini. Makanya saya berjualan di sini," katanya.

Pekerjaannya ini dilakukan tak setiap hari.

Ia menjelaskan bahwa jadwal dia berjualan hanya Jumat, Sabtu dan Minggu.

"Kalau Jumat kan banyak orang-orang yang salat di sini. Kalau Sabtu dan Minggu tuh masjid ramai karena sering dijadikan lokasi akad nikah," paparnya.

Mendengar kabar bahwa masjid akan segera ditutup, ia mengaku pasrah.

"Saya jualan di sini memang tujuannya untuk membantu suami. Di rumah kan juga bosan kalau tidak berbuat apa-apa," ungkap Sri.

Meski begitu, kebijakan PSBB tetap tak bisa dihindari.

Sri sendiri tetap siap menerima apabila kawasan ini akan ditutup.

"Kalau ditanya mau ditutup apa enggak, ya jelas enggak mau dong. Kalau bisa ya jangan. Namun, apa boleh buat kan? Tetap harus terima," katanya dengan lesu. (mcr4/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Dicky Prastya

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler