Jangan Remehkan Sakit Kepala Berkepanjangan, Ini Risikonya 

Jumat, 14 April 2023 – 12:00 WIB
Ilustrasi sakit kepala. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Jangan meremehkan sakit kepala apalagi yang terjadi secara berulang. Bisa jadi itu menunjukkan adanya kondisi medis yang perlu diperhatikan dan segera mendapatkan penanganan.

"Sakit kepala berdasarkan waktunya dibagi menjadi akut yaitu kurang dari tiga bulan, dan kronis yaitu nyeri kepala yang terjadi lebih dari tiga bulan secara kontinu," kata Dokter Spesialis Saraf Siloam Hospitals Mampang, dr. Maria Ardelia Purwaningrum Sp.S. dalam edukasi secara live di Instagram baru-baru ini.

BACA JUGA: Anda Mengalami Sakit Kepala, Redakan dengan 3 Obat Ini

Berdasarkan penyebabnya, sakit kepala atau cephalgia dapat dibagi menjadi dua, yaitu sakit kepala primer, yang umumnya tidak ditemukan adanya kelainan struktural, anatomi maupun metabolik, contohnya ialah sakit kepala tipe tegang (tension type headache), sakit kepala migren dan sakit kepala berkelompok (cluster type headache). Juga sakit kepala sekunder, yaitu terjadinya sakit kepala akibat dari adanya kelainan struktural maupun penyakit lain yang mendasari. 

"Contohnya, infeksi, sakit gigi, pecah pembuluh darah otak, cedera kepala, bahkan tumor dan beberapa lainnya," ungkap Maria.

BACA JUGA: 6 Pengobatan Alami Ini Ampuh Mengatasi Sakit Kepala yang Anda Rasakan

Neurolog yang berpraktik tetap di Siloam Hospitals Mampang ini pun mengingatkan agar lebih waspada apabila setelah mengkonsumsi obat anti nyeri (analgetik) dan beristirahat, sakit kepala justru tidak kunjung membaik, intensitasnya berubah menjadi lebih berat hingga mengganggu aktivitas.

Bisa juga disertai gejala lainnya, seperti demam, kelemahan anggota gerak, pandangan dobel, atau keluhan lainnya. 

BACA JUGA: Redakan Sakit Kepala dengan 3 Minyak Esensial Ini

"Jika itu yang terjadi, segera periksakan diri ke neurolog," tegasnya.

Dokter akan melakukan Anamnesis, yaitu tanya jawab dokter dengan pasien yang akan membantu mengarahkan ke diagnosis, pemeriksaan fisik lengkap bahkan pada “kasus” tertentu akan dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang seperti CT scan maupun MRI.

Pasien juga disarankan tidak perlu "overthinking" terhadap keluhan sakit kepala yang dirasakannya, karena banyak penyebab yang dapat menjadi dasar keluhan sakit kepala berkepanjangan. 

"Tidak semua mengarah pada kegawatan maupun keganasan, dan dengan memeriksakan diri, diagnosis dokter akan mengarah kepada penyebabnya," imbuhnya.

Rasa nyeri bersifat subjektif sehingga sangat mungkin berbeda-beda gambarannya antara satu pasien dengan lainnya. Diperlukan tanya jawab mendalam dengan dokter untuk memastikan apa saja penyebab maupun pencetus nyeri kepala yang dirasakan.

Dijelaskannya sakit kepala berat yang mengarah stroke terutama stroke perdarahan, sangat umum terjadi namun biasanya disertai keluhan neurologik mendadak, seperti bicara pelo, mulut merot, lemah separuh badan/anggota gerak, serta bisa berupa gangguan keseimbangan mendadak.

Korelasi pada penyakit stroke yang harus dipahami adalah pentingnya golden period pada penanganan medis terutama pada kasus stroke penyumbatan. 

Dia menjelaskan akupunktur untuk beberapa kasus sakit kepala mungkin dapat mengurangi gejala, tetapi seringkali tidak menuntaskan sumber sakitnya. Itu pun biasanya hanya untuk yang berkategori sakit kepala premier. 

"Pada sakit kepala sekunder, penyebab utamanyalah yang tetap harus diatasi terlebih dahulu, untuk menghilangkan keluhan sakit kepala," ucapnya.

Dokter Maria juga memberikan tips menghindari keluhan sakit kepada. Salah satunya dengan menjaga pola hidup sehat, yang akan membantu menghindari keluhan sakit kepala, apalagi yang berkepanjangan.

Sebab, penanganan sakit kepala tidak hanya berupa obat-obatan, tetapi juga menjaga lifestyle.

Penting juga menghindari paparan sinar matahari yang terik secara langsung dalam waktu yang lama, mengelola stres, menjaga agar tubuh tidak terlalu lelah, mengkonsumsi makanan bergizi. Termasuk juga konsumsi air putih dan tidur cukup serta menghindari kafein berlebihan, alkohol, dan rokok. 

"Dalam beberapa kasus migrain, cokelat pun dapat menjadi pencetus, sehingga sebaiknya dihindari," pungkasnya. (esy/jpnn)


Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler