Januari Hitam, Aksi Brutal Tentara Soviet yang Mengawali Kemerdekaan Azerbaijan

Rabu, 19 Januari 2022 – 23:59 WIB
Duta Besar Republik Azerbaijan untuk Indonesia, Jalal Mirzayev, menekankan perlunya menjaga kemerdekaan saat memperingati peristiwa Januari Hitam. Foto: Antara

jpnn.com, JAKARTA - Duta Besar Republik Azerbaijan untuk Indonesia, Jalal Mirzayev, menekankan perlunya menjaga kemerdekaan saat memperingati peristiwa Januari Hitam.

Peristiwa itu menandai agresi militer Soviet di Kota Baku, Azerbaijan, yang menewaskan 147 warga sipil Azerbaijan pada 20 Januari 1990.

BACA JUGA: Dukungan Fan Azerbaijan ke Burak Yilmaz dkk, Bale Merespons Begini

"Kita perlu menjaga kemerdekaan, karena kemerdekaan itu tidak datang dengan sendirinya dan tidak ada satu pihak pun yang memberikan secara cuma-cuma," kata Jalal dalam acara peringatan 32 tahun tragedi 20 Januari, di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan bahwa baik Indonesia maupun Azerbaijan memiliki perjuangan masing-masing untuk memperoleh kemerdekaan. Oleh karena itu, kemerdekaan yang telah diraih perlu dijaga dan dipertahankan.

BACA JUGA: Burak Yilmaz Berterima Kasih kepada Warga Azerbaijan, Mengapa?

"Itulah sebabnya kita harus mengetahui arti dari nilai kemerdekaan dan mempertahankan hal tersebut selamanya," katanya.

Jalal mengatakan bahwa tragedi Januari Hitam terjadi pada 20 Januari 1990, ketika kepemimpinan Soviet memerintahkan penyerbuan ke Kota Baku di Azerbaijan oleh 26 ribu tentara yang membawa peralatan militer berat.

BACA JUGA: Vladimir Putin Peringatkan Azerbaijan soal Tempat Suci Umat Kristen di Nagorno-Karabakh

Akibat intervensi militer tersebut, sedikitnya 147 warga sipil tewas dan 744 orang lainnya luka berat.

Peristiwa tersebut kemudian disebut sebagai peristiwa Black January atau Januari Hitam, yang menandai berakhirnya pemerintahan Soviet selama 70 tahun di Azerbaijan dan memulihkan kemerdekaan negara itu.

Peristiwa tersebut, kata dia, terjadi akibat adanya klaim teritorial tidak berdasar dari Armenia terhadap wilayah Azerbaijan pada akhir 1980.

Akibat peristiwa tragis tersebut, pada konferensi pers perwakilan tetap Azerbaijan di Moskow, pemimpin Heydar Aliyev mengutuk keras aksi kekejaman tersebut, dan pada sidang parlemen Azerbaijan pada Februari 1994, peristiwa pembunuhan brutal terhadap orang-orang yang tidak bersalah itu dianggap sebagai agresi dan kejahatan militer.

Sebagai hasil musyawarah pada Maret 1994, tanggal yang menandai tragedi tersebut diperingati sebagai hari bergabung nasional bagi seluruh rakyat Azerbaijan.

Di bawah kepemimpinan panglima tertinggi kemenangan tentara Azerbaijan, negara tersebut, kata Jalal, akhirnya dapat memastikan keutuhan wilayah Azerbaijan sebagai hasil dari perang selama 44 hari.

"Untuk itulah kami memperingati dengan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam terhadap semua pahlawan kami di Azerbaijan yang telah memberikan hidup mereka untuk kemerdekaan Azerbaijan serta untuk kedaulatan dan keutuhan wilayah di negara Azerbaijan," demikian kata Dubes Jalal. (ant/dil/jpnn)

 

Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler