Jeritan Listrik dari Kota di Sudut Negeri

Senin, 23 Februari 2009 – 06:57 WIB
SAYA ke Tarakan minggu lalu dan juga ke NunukanYang tidak saya duga adalah ini: masyarakat lagi ribut (lagi) soal listrik yang mati terus

BACA JUGA: Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina

Di Tarakan ada pertanyaan besar, besar sekali, mengapa tidak mampu mengatasi krisis listrik
Pertanyaan itu besar sekali karena PLN di Tarakan sudah dibuat berbeda dengan PLN di daerah-daerah lain di Indonesia.

Status PLN di Tarakan (juga Batam) bukan lagi wilayah, atau cabang, atau pembantu cabang

BACA JUGA: Wartawan Perjuangan yang Murni dalam Lima Tahun

PLN di Tarakan adalah PLN yang statusnya sudah mandiri
PLN-nya sudah berbentuk perusaan sendiri: PT PLN Tarakan

BACA JUGA: Mengapa Banyak Koran Baru

Di Tarakan PLN-nya sudah punya direktur sendiri, komisaris sendiri, dan organisasi sendiri.

Pertanyaan besarnya: mengapa direksinya tidak bisa membuat keputusan? Mengapa komisarisnya tidak menegur direksi yang tidak membuat keputusan? Atau, kalau direksinya sudah membuat keputusan, mengapa komisarisnya diam?

PLN di Tarakan bukanlah cabang atau wilayah, yang untuk memutuskan masih memerlukan petunjuk, atau arahan, atau sinyal, atau kerdipan, atau bisik-bisik, atau suara-suara gaib, atau apa pun dari atasannyaPLN di Tarakan tidak punya atasanPLN Tarakan adalah atasan itu sendiri.

Kalau PLN Tarakan tidak bisa dan tidak mampu membuat keputusan, untuk apa PT PLN Tarakan diadakan? Bubarkan saja! Kembalikan saja statusnya sebagai cabangAtau bahkan tidak perlu ada PLN agar masyarakat atau pemda punya inisiatif sendiri untuk mengatasi kebutuhan listriknya.

Tarakan bukan kota besar yang masyarakatnya tidak mampu mendirikan pembangkit listrik sendiri: asal diberi kesempatan untuk ituPLN, kalau merasa tidak mampu, sebaiknya menyerah: lempar handukJangan mengira hanya PLN yang bisa memproduksi listrik.

Masalahnya adalah hanya PLN yang diberi wewenang untuk mengatur listrikCoba pemerintah beri satu contoh wilayah kecil seperti Tarakan untuk mengatasi listrik sendiriPasti bisa lebih baikApa pun jalannya.

Saya seperti menangis ketika berada di Tarakan minggu laluSaya membayangkan pemdanya yang sangat bergairah membangun sampai-sampai ingin membuat Tarakan sebagai Singapura miniSaya membayangkan pengusahanya yang demikian antusias untuk berinvestasi di Tarakan, padahal banyak tempat lain yang bisa ditanami modal dengan hasil yang lebih baikSaya membayangkan betapa bangganya orang Tarakan akan kotanya yang berkembang pesat belakangan iniSemua itu seperti disiram air keras oleh PLN: ludes.

Memang, PLN rugi besar dengan tarif listrik semurah sekarangSaya tahu ituTapi, persoalan pokoknya bukan karena tarifnya murahPersoalan pokoknya adalah ongkos produksi PLN yang mahal!

Bahwa mengapa PLN memilih pembangkit yang ongkos produksinya mahal, itu bukanlah urusan rakyatRakyat tidak tahu itu! Itu urusan PLN sendiriRakyat Tarakan pernah membuktikan (8 tahun lalu) mau membayar tarif listrik termahal di IndonesiaTidak apa-apaSampai-sampai waktu itu Tarakan dijadikan contoh nasional bahwa tarif listrik tinggi bisa diterima masyarakat asal pelayanan listriknya baik.

Tapi, ternyata kenaikan itu tidak digunakan sebagai kesempatan untuk mengatasi persoalan PLN secara mendasarKenaikan itu hanya bertujuan untuk mengatasi persoalan sementaraHanya untuk menerima investor hit and runKarena itu, kali ini, meski wali kota minta-minta ada lagi kenaikan tarif seperti dulu, sebaiknya jangan diterima duluTolak duluHarus ada bukti bahwa kenaikan itu nanti untuk mengatasi persoalan yang lebih permanen.

Mengapa dengan kenaikan yang hebat dulu itu PLN tidak mampu mengadakan pembangkit yang ongkosnya murah? Mengapa kesempatan saat itu tidak digunakan untuk menarik investor yang mau membangun pembangkit yang ongkos operasionalnya murah? Mengapa kenaikan tarif saat itu justru hanya untuk menarik investor yang mendatangkan mesin jenis aneh - yang hanya cocok untuk situasi darurat? Bahkan, mengapa kalau ada orang yang mau membangun pembangkit dengan ongkos operasional murah -seperti yang saya lakukan di PLTU Embalut dekat Samarinda- tidak mendapat respons yang memadai?

Karena itu, kalau PLN Tarakan yang sudah berbentuk PT (perseroan terbatas) tidak mampu mengambil keputusan, benar-benar harus dibahas: untuk apa ada PT? Apakah PT PLN Tarakan sebenarnya hanya boneka dari monster PLN saja? (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tionghoa Dewasa dalam 10 Tahun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler