Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Minggu, 28 September 2008 – 04:39 WIB
MESKI saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ’’menceritakan’’ secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat iniSeperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter

BACA JUGA: Jangan Kaget karena Toilet

Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor
Terutama labanya

BACA JUGA: Mengikis Kasta dengan Momentum Ekonomi

Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun
Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya

BACA JUGA: Rapuh di Modal Sosial, Kuat di Tanaman Keras


Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankanYang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nyaMau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah sajaSudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber targetTanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannyaMengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEOKedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapaiGaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George BushMana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klopMaka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesarKalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lainKalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baruKalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lainKalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik –dan kasar! Istilah populernya hostile take over
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happyCEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahunPara pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naikPemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesarPolitisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkatSemua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnyaKulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnyaSemakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi
Karena itu, AS perlu banyak sekali barangBarang apa sajaKalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnyaItulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara ’’membesarkan’’ perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnyaItulah bagian dari ekonomi kapitalisAS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmurPunya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besarLaba yang terus meningkat harus terus mengejar langitUkuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumboLangit, gajah, jumbo juga belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumahTapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyakKalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumahDemikian juga mobilnya.
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?
Ada jalan baruPemerintah AS-lah yang membuat jalan baru ituPada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ’’Deregulasi Kontrol Moneter’’Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bungaMaksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pastiPeraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnyaPeluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata
Begini ceritanya:
Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU MortgageYakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR)Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama)
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 jutaCicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU MortgageYang terbaru adalah UU Mortgage di DubaiSejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persenUU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya ’’jalan baru’’ pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bungaBisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidupBank bisa dapat peluang bunga tambahanBank menjadi lebih agresifJuga para broker dan bisnis lain yang terkait
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatanMaka, ada lagi ’’jalan baru’’ yang dibuat pemerintah enam tahun kemudianYakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajakSalah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajakKeringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagiArtinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasaDi sana pajak memang sangat tinggiBahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persenImbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratisHari tua juga terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnyaKredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnyaTahun-tahun berikutnya terus meningkat lagiPada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.
Kata ’’mortgage’’ berasal dari istilah hukum dalam bahasa PrancisArtinya: matinya sebuah ikrarItu agak berbeda dari kredit rumahDalam mortgage, Anda mendapat kreditLalu, Anda memiliki rumahRumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kreditAnda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempatiSejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah AndaAtau belumMaka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap matiDengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut
Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990–2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebutFasilitas itu telah dilihat oleh ’’para pelaku bisnis keuangan’’ sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgageJor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumahHarga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumahYang rumahnya sudah lunas, di-mortgage-kan lagi untuk membeli rumah berikutnyaYang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naikKalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untungJadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ’’bank jenis lain’’ yang disebut investment banking
Apakah investment banking itu bank?
BukanIa perusahaan keuangan yang ’’hanya mirip’’ bankIa lebih bebas daripada bankIa tidak terikat peraturan bankBisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ’’deposito’’ dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukanBahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresifBisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa punBisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan sajaKalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment bankingAtau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ’’personal banking’’
Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitasKalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumitBiasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhanaBiasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna DewiYang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulatorKini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow
Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage
Di AS, setiap orang punya ratingTinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorangOrang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atasSetiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgageKalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.
Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkanOrang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgageToh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disitaSetelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjamanTidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.
Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjangDalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejitRumah yang disita sangat banyakRumah yang dijual kian bertambahKian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganyaKian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjamanItu berarti kian banyak yang gagal bayar
Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lainYang lain itu menjaminkan ke yang lain lagiYang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagiSatu ambruk, membuat yang lain ambrukSeperti kartu domino yang didirikan berjajarSatu roboh menimpa kartu lainRoboh semua.
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada dataYang ada baru nilai uangnyaKira-kira mencapai 5 triliun dolarJadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?
Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebutPadahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu
Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat ASKita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ’’menabung’’-kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnyaRasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok
Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan duniaSedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sanaKita, setidaknya, masih bisa menanam jagung(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Diserang 320 Gugatan, Proyek Tol Berlanjut


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler