Kantor Desa Mirip Hotel, Mewah, Diakui Lawan Politik, Uangnya dari Mana?

Rabu, 12 Juli 2017 – 00:05 WIB
Kuwu (Kepala Desa) Cipancuh, Wawan, berdiri dengan latar belakang kantor kuwu yang ia bangun dengan dana sekitar Rp3,3 miliar. Foto: KHOLIL IBRAHIM/Radar Cirebon/JPNN.com

jpnn.com - Wawan, Kuwu (Kepala Desa) Cipancuh, Kecamatan Haurgeulis, Indramayu, Jabar, nekat merombak total kantor desa. Modal awal dari penjualan mobil pribadi sekitar Rp110 juta. Kini bangunan gedung kantor kuwu berdiri megah, mewah, dan modern. Dana pembangunannya ditaksir Rp3,3 miliar.

KHOLIL IBRAHIM, Indramayu

BACA JUGA: Sudah Dikasih Rp 50 Juta, Oknum LSM Masih juga Ancam Pak Kades

SEPERTI hotel berbintang. Sekilas begitulah penampakan gedung kantor Kuwu Cipancuh. Terletak di pinggir Jl Jenderal Sudirman Haurgeulis, gedung ikonik berlantai dua itu benar-benar terlihat beda tiada bandingannya.

Bentuknya memanjang ke belakang seperti kapal pesiar. Modern, unik, serta dihiasi ornamen klasik dan berciri khas daerah.

BACA JUGA: Kepala Desa Diminta Cegah Penyebaran Paham Radikalisme

Gedung pusat pelayanan masyarakat ini diklaim sebagai kantor pemerintahan termegah se-Kabupaten Indramayu.

Kendati belum seluruhnya tuntas, fasilitas wah sudah terlihat di ruang kerja pamong desa. Juga di aula, sampai kamar mandi yang didesain layaknya hotel bintang lima.

BACA JUGA: Pak Kades Habiskan Dana Desa di Tempat Hiburan

Rencananya bakal dibangun pula berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Seperti halaman parkir luas, taman, sarana bermain anak, lapangan olahraga serta aula besar yang representatif untuk tempat pertemuan.

Di dunia maya, penampakan gedung kantor desa lain dari yang lain ini sering menjadi perbincangan netizen.

Kantor desa ini tak hanya menjadi kebanggaan penduduk setempat, tapi juga layak dijadikan ikon di Indramayu bagian barat (Inbar).

Tapi siapa sangka, rancangan dan desainnya bukan karya arsitek profesional. Melainkan ide dari Wawan sendiri.

“Ya saya desain sendiri, rancang sendiri. Banyak yang tidak percaya,” ucap suami Rismayanti ini kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group), kemarin.

Tapi, bukan berarti Wawan asal main rancang. Dasar-dasar arsitektur sudah lama dikuasainya sejak masih duduk di bangku kuliah di Unisma Bekasi dulu.

Kebetulan, bapak kosnya semasa kuliah berprofesi sebagai seorang developer atau pengembang proyek perumahan.

Dari bapak kostnya itu Wawan banyak belajar dan mempraktikkan ilmu yang didapat, termasuk menghitung rencana anggaran bangunan (RAB) dan sebagainya.

Nah, soal hitung-hitungan pembiayaan pembangunan inilah yang masih membuatnya keder. Sebab ketika berniat membangun kantor desa pada awal tahun 2015 lalu hanya bermodal awal duit hasil penjualan mobilnya sekitar Rp110 juta.

Lalu ditambah bantuan provinsi sekitar Rp200 juta, dan hasil lelang tanah titisara selama tiga tahun sejumlah Rp290 juta.

Beberapa kali proses pembangunannya pun mandeg lantaran ketiadaan dana. Lalu dikebut ketika dia mendapat cukup modal untuk melanjutkan pekerjaan.

“Kalau ditanya uangnya dari mana saya juga bingung. Serius, saya sendiri lupa sudah habis berapa duit. Tapi rejeki ada saja. Insyaallah duit halal. Bukan korupsi, apalagi makan hak orang lain,” tegasnya.

Beruntungnya, ungkap dia, niatnya untuk memberikan karya terbaik bagi masyarakat Desa Cipancuh ini didukung banyak pihak.

Termasuk para pemilik toko material bahan bangunan yang sukarela barangnya diutang dengan jaminan kepercayaan.

“Alhamdulillah, teman-teman yang punya toko material percaya banget sama saya. Diperbolehkan utang, bayarnya nyicil kalau lagi ada duit,” katanya sembari tertawa.

Kuwu ke-13 yang akrab disapa Ki Ageng Cipancuh yang selau tampil low profile ini ini mengungkapkan, aksi nekatnya membangun kantor desa mewah ini bukan tanpa sebab.

Bermula dari cibiran lawan-lawan politiknya semasa proses pemilihan kuwu dulu yang meragukan komitmennya untuk membangun desa. Ini mengingat saat itu dia adalah calon incumbent alias petahana.

“Biasanya kan begitu, kalau sudah jabat lalu nyalon lagi malah kerjanya mlempem. Nah kita buktikan, bahwa itu salah. Justru di periode kedua inilah, pembangunan digenjot habis untuk menjadi kenang-kenangan dan kebanggan bagi masyarakat Desa Cipancuh,” tegas Wawan.

Yang membuat dia bangga, lawan-lawan politiknya itu sekarang mendukungnya. Mereka juga mengapresiasi hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai Desa Cipancuh. Berkawan akrab bahkan menjadi teman yang selalu memberikan kritik membangun.

Sebab lainnya, lanjut Wawan, pembangunan gedung kantor desa yang megah ini diharapkan melecut bagi para pemimpin Desa Cipancuh berikutnya untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakatnya.

Mengeluarkan segenap kemampuannya untuk terus membangun, membangun dan membangun tanpa harus memikirkan dari mana modalnya.

Dengan kondisi kantor yang sangat representatif, kuwu dan jajarannya pun harus stand by dan siap melayani masyarakatnya siang dan malam.

“Rugi dong kalau kantor seperti hotel bintang lima ini malah jarang ditempati,” ujarnya.

Selain itu, secara historis Desa Cipancuh sebagai desa tertua yang berdiri tahun 1913 merupakan salah satu desa yang sering menyabet berbagai prestasi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional.

Salah satunya menjadi Juara II Lomba Desa Tingkat Kabupaten Indramayu 2016 atau belum genap dua tahun setelah dilantik menjadi Kuwu Desa Cipancuh periode 2015-2021.

Prestasi ini diperoleh karena desa berpenduduk sebanyak 9.803 jiwa serta luas wilayah 686 hektare ini dinilai memiliki kemajuan cukup signifikan dan masuk dalam kategori desa yang cepat berkembang.

Kemajuan yang paling kentara adalah hasil pembangunan yang menunjukkan peningkatan drastis dibanding sebelumnya sehingga dirasakan oleh masyarakat setempat.

Seperti infrastruktur jalan desa, gang, jembatan, fasilitas umum serta pengairan yang membuat kesejahteraan mayoritas petani di Desa Cipancuh meningkat.

Pembangunan infrastruktur dasar ini sudah dilakukan sejak lima tahun periode pertama masa kepemimpinannya.

Tak puas sampai di situ, Wawan melakukan terobosan baru dalam pengelolaan dan pelayanan adminstrasi desa yang sudah menerapkan Teknologi Informasi (IT) sejak beberapa tahun lalu.

Ditambah pula dengan penerapan Sistem Pelayanan Satu Atap (SPSA) guna memberikan kemudahan bagi warga untuk mendapatkan pelayanan prima, mudah dan cepat didukung oleh SDM pamong desanya yang mumpuni di bidang teknologi.

“Soal pelayanan, pamong kami siap 24 jam. Terkecuali saat Magrib sampai Isya. Yang pasti kita stand by di kantor desa. Kantor yang megah harus dibarengi pelayanan yang maksimal,” pungkas Wawan. (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Waspada! Ada LSM Rajin Minta Dana ke Kades


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler