Kapitalisme Sepak Bola

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 17 Desember 2022 – 21:21 WIB
Seorang warga memegang kaus bergambarkan striker Argentina Lionel Messi dan frase yang berarti "Apa yang kau lihat, bodoh?" di suatu toko di Buenos Aires, Argentina. (12/12/2022) Foto: AFP/LUIS ROBAYO

jpnn.com - TEORI konspirasi ada di mana-mana. Di Piala Dunia Qatar pun muncul teori konspirasi.

Salah satu teori konspirasi itu menyebut Argentina sudah di-setting untuk menjadi juara. Ada beberapa indikasi yang menjurus ke arah itu.

BACA JUGA: The Icons

Media Inggris, seperti The Sun, terang-terangan menyebut adanya kekuatan yang menghendaki Argentina harus juara.

Sepak bola adalah bagian dari kapitalisme global dengan perputaran uang ribuan triliun. Dalam tradisi kapitalisme global, ada privilese bagi perusahaan-perusahaan transnasional raksasa untuk mendapatkan perlindungan supaya tidak bangkrut.

BACA JUGA: Qatar dan Perang Peradaban

Muncul jargon ‘too big to fail (TBTF)' atau terlalu besar untuk (dibiarkan) gagal yang menggambarkan pentingnya perusahaan-perusahaan besar itu untuk tetap berdiri at all cost alias sebesar apa pun ongkosnya.

Pemerintah Amerika Serikat punya daftar perusahaan berkategori TBTF yang harus dilindungi dari kebangkrutan. Pemerintah Amerika siap menggelontorkan subsidi besar untuk menjamin korporasi TBTF tetap berdiri.

BACA JUGA: Revolusi Prancis

Ekonomi Amerika boleh kembang kempis dihajar resesi, tetapi bonus bagi para eksekutif korporasi besar akan tetap diberikan dalam jumlah edan-edanan. Itulah prinsip TBTF yang menjadi kredo kapitalisme global.

Dalam tradisi sepak bola internasional juga ada kategori TBTF itu. Brasil gagal melewati adangan Kroasia di perempat final melalui adu penalti.

Tinggal Argentina yang menjadi wakil Amerika Latin. Untunglah Argentina bisa melewati adangan Belanda.

Argentina tidak boleh gagal. Begitu kata teori konspirasi.

Banyak kejanggalan yang menguntungkan Argentina. Messi menjadi kandidat top scorer dengan lima gol, empat di antaranya melalui penalti.

Hanya satu gol yang dicetak melalui permainan hidup. Itu pun hanya dari laga Argentina melawan tim sekelas Australia.

Argentina terlalu mudah mendapatkan hadiah penalti, termasuk ketika menghadapi Kroasia. Messi terlalu dimanja, sehingga wasit yang membuatnya tidak senang pun harus dipulangkan lebih awal.

Itulah serangkaian teori konspirasi yang berkembang.

Kapitalisme global mempunyai ikon-ikon sendiri. Bill Gates, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Jack Ma, dan Elon Musk adalah ikon kapitalisme global.

Sepak bola global juga punya ikonnya sendiri. Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar Jr, adalah ikon sepak bola global.

Ronaldo telah redup, sedangkan Neymar pulang setelah Brasil tersingkir. Tinggallah Messi satu-satunya yang tersisa sebagai ikon.

Messi adalah La Pulga, Si Kutu, sang ikon, paduan antara realitas dan mitos. Ia kutu kecil yang menjadi dewa sepak bola dengan skill super-human.

Tidak ada manusia di planet yang punya kemampuan alamiah seperti Messi. Ia datang dari planet lain. Ia adi-manusia, melampaui manusia.

Messi adalah Si Kutu, karena ketika masih kecil memiliki kelainan hormon sehingga tidak bisa tumbuh besar seperti anak-anak lainnya. Oleh karena itu, kakak Messi, Rodrigo, memanggilnya dengan sebutan La Pulga.

Bagi anak-anak kecil, sebutan Si Kutu bisa bermakna bullying atau perundungan. Mungkin mirip dengan pemain Indonesia Kurniawan Dwi Julianto yang dijuluki Si Kurus, atau mantan pemain Arema Arif Suyono yang lebih dikenal sebagai "Keceng" karena badannya yang tipis.

Bagi Messi jukukan itu menjadi berkah. Dia memang Si Kutu yang membuat gatal semua pemain lawan.

Ia Si Kutu yang sulit dideteksi dan gerakannya tidak bisa dilihat karena kecepatan dan ketajamannya. Si Kutu selalu menjadi problem bagi setiap lawannya.

La Pulga menundukkan jagat sepak bola internasional. Tinggi tubuhnya tidak lebih dari 170 sentimeter, kecil untuk ukuran Amerika dan Eropa.

Namun, seperti kata populer dalam bahasa iklan 'size doesn’t matter' alias ukuran bukan persoalan. Messi mini, tetapi bisa membuktikan bahwa efeknya superjumbo.

Di usianya yang sudah merambat 35 tahun, sihirnya dianggap mulai redup. Akan tetapi, sihir itu bersinar terang di Piala Dunia 2022.

Dalam pertandingan Argentina melawan Kroasia, Messi  dikawal secara khusus oleh Josko Gvardiol, bek muda yang dianggap sebagai salah satu pemain belakang terbaik pada Piala Dunia 2022.

Usia Gvardiol baru 23 tahun, Messi lebih tua 12 tahun darinya. T

Namun, Gvardiol dibuat patah pinggang terkena tekukan 180 derajat Messi. Gvardiol dipaksa mengejar pantat setiap kali diajak sprint oleh Messi.

Size does’nt matter, age doesn’t matter too, ukuran tubuh tidak menjadi masalah, usia juga tidak menjadi masalah.

Messi sudah mendapatkan enam kali penghargaan pemain terbaik dunia Ballon d’Or. Ia bersaing dengan Cristiano Ronaldo yang juga sudah mengoleksi lima Ballon d’Or.

Namun, Messi masih punya utang defisit prestasi. Ia sudah mempersembahkan Copa America, tetapi masih belum pernah merasakan mengangkat Piala Dunia.

Messi juga sudah merasakan seluruh trofi bergengsi di level klub, seperti La Liga, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub. Hanya Piala Dunia yang membedakan Messi dari Pele dan Maradona.

Persaingan Messi vs Ronaldo praktis sudah berakhir setelah Portugal disisihkan secara dramatis oleh Maroko. Ronaldo meninggalkan lapangan dengan berurai airmata.

Ronaldo redup di Qatar. Ia menjadi penghuni bangku cadangan dua kali dalam turnamen. Ia hanya mampu mencetak satu gold an sudah tidak menjadi pilihan utama oleh pelatih Ferandano Santos.

Fernando Santos dipecat dari kursi pelatih. Ronaldo membiarkan pelatih yang membawa Portugal menjuarai Piala Eropa 2016 itu berlalu.

Tidak ada ucapan terima kasih dari Ronaldo untuk Santos. Bahkan, Ronaldo disebut sebagai penghasut yang menyebabkan Santos didepak.

Era Ronaldo sudah berakhir, meskipun ia tidak akan menyerah. Ia masih ingin membawa Portugal berlaga di Piala Eropa 2024 ketika usianya sudah 39 tahun. Entah, apa yang bisa disumbangkannya dalam usia itu.

Piala Dunia Qatar kali ini menjadi panggung besar bagi Messi. Ia membawa mukjizat bagi Argentina.

Final kali ini akan menjadi ‘moment of truth’ bagi Messi. Ia diperbandingkan dengan Pele, legenda Brasil.

Perbandingan itu tidak bisa sepenuhnya sejajar karena keduanya berbeda secara generasi dan tantangan.

Orang Argentina pasti menganggap Messi lebih besar. Namun, orang Brasil menganggap Pele yang terbesar sepanjang zaman. Pele pernah membawa Brasil menjuarai Piala Dunia.

Messi akan bisa disejajarkan dengan Pele, atau dianggap lebih unggul, kalau bisa mempersembahkan Piala Dunia kepada Argentina.

Final kali ini adalah persaingan Messi dengan Kylian Mbappe. Persaingan dua ikon yang berbeda.

Messi adalah the real icon, sedangkan Mbappe merupakan the icon in the making alias ikon yang sedang membentuk dirinya sendiri. Dua-duanya bersaing untuk menjadi top scorer dan sekarang sama-sama mengumpulkan 5 goal.

Siapa yang akan menjadi ikon kapitalisme global kali ini?

Ikon baru harus segera diciptakan. Kalau Anda percaya kepada teori konspirasi, jawabannya adalah Messi si Kutu.(jpnn.com)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler