Kebijakan Pertanian Justru Tingkatkan Produksi dan Sejahterakan Petani

Senin, 19 Juni 2017 – 16:40 WIB
Petani di sawah. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pembangunan pertanian saat ini hasilnya fantastis dan berjalan on-the track sesuai roadmap kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani.

Hal ini disampaikan Ana Astrid, Kasubag Data Sosial Ekonomi, pada Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan).

BACA JUGA: Embung Besar Itu PUPR, yang Sedang Kemendes, Kementan yang Kecil

Dia membantah pernyataan Faisal Basri yang menyebut terjadi karut marut kebijakan pertanian dan kesejahteraan petani terseok-seok.

Pernyataan itu ditulis Faisal pada blognya pada 31 Januari lalu.

BACA JUGA: Harga Pangan Anjlok, Mendag Akan Surati Bulog

“Saya malah kawatir justru dia yang lagi karut marut,” ujar Ana, hari ini.

Ana menjelaskan pada era Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kebijakan yang ditempuh berpihak kepada petani dan mampu menggerakan perekonomian di pedesaan.

BACA JUGA: Ini Yang Dilakukan Mentan Untuk Mengangkat Harkat Martabat Petani

Kebijakan pertanian pun sangat komprehensif dan terstruktur yakni membenahi regulasi, membangun infrastruktur, teknologi produksi, kemudahan investasi, penanganan tata niaga, pengendalian impor dan mendorong ekspor serta membenahi tata kelola pangan.

“Sesuai teori, pembangunan infrastruktur dan riset akan berdampak signifikan dalam pembangunan, maka APBN Kementan fokus pada infrastruktur untuk komoditas strategis dengan pentahapan secara terukur. Sudah dibedah dan dipilih hasil riset terbaik selama ini dan sudah disebarkan melalui program, seperti benih padi Impari, Impago, padi model hazton, tanam jajar legowo, tanam salibu, mekanisiasi dengan alat mesin buatan sendiri dan lainnya. Setiap rupiah pengeluaran APBN pertanian harus menstimulir perekonomian. Porsi anggaran untuk petani ditingkatkan dari semula 35 persen menjadi di atas 70 persen,” jelas dia.

Untuk diketahui APBN Kementan pada 2016 dan 2017 turun Rp 5 triliun dan Rp 10 triliun dibandingkan 2015 sebesar Rp 32 triliun.

Alokasi subsidi pupuk Rp 31 triliun dan benih Rp 1,2 triliun itu relatif konstan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dan hasilnya nyata terhadap produksi.

Anggaran tersebut sebagian besar untuk investasi infrastruktur sehingga berdampak pada beberapa tahun kemudian.

Namun, ada juga kegiatan fasilitasi sarana produksi benih, pupuk, teknologi budidaya hasilnya berdampak langsung pada produksi.

Hasil dari kebijakan dan program kini terbukti sukses. Produksi pangan naik tinggi, tidak impor beras medium, cabai segar, bawang merah konsumsi dan 2017 tidak impor jagung.

Nilai tambah dari peningkatan produksi 24 komoditas selama dua tahun terakhir sebesar Rp 288 triliun dinikmati petani.

Indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan meningkat.

“Jadi tidak benar bila dikatakan anggaran Kementan tidak berdampak pada perekonomian,” tegas Ana.

Ana menambahkan, masalah pangan bukan lagi pada aspek produksi, tetapi pada aspek hilir dan tata niaga telah diterbitkan kebijakan harga bawah dan harga atas untuk melindungi petani dan konsumen.

Rantai pasok diperpendek dengan program Serap Gabah Petani dan Toko Tani Indonesia.

Guna melindungi petani dari gagal panen diberikan asuransi pertanian.

"Untuk melindungi petani dari gempuran impor, diterbitkan kebijakan pengendalian impor pangan. Ini menunjukkan kebijakan yang tepat dan hasilnya nyata dirasakan langsung oleh petani,” tegas Ana.

Masalah tata kelola pangan pun ditertibkan oleh Mentan. Demi mengawal program dibentuk Satgas KPK, Kejagung, Polri dan BPKP berkantor di Kementan, program dikawal agar tepat sasaran dan sesuai aturan.

Dibentuk Saber Pungli sehingga bila ada pegawai yang bermain-main proyek maupun pungli langsung dipecat, lebih dari 165 pegawai sudah dimutasi dan demosi.

Dalam rangka menghadapi Ramadan dan Idulfitri digerakkan Satgas Pangan dengan hasil lebih dari 80 kasus diproses hukum.

“Kartel dan mafia pangan diberantas Mentan, supaya tidak bercokol di bumi Indonesia. Bila perlu dicerubin ke laut sebagaimana Bu Susi Menteri KKP menenggelamkan kapal ilegal fishing," ungkap Ana.

“Dampak keseluruhan dari program dan kebijakan menunjukkan trend kemajuan pesat. Produksi padi 2016 sebesar 79,35 juta ton naik 12 persen dibandingkan 2014. Produksi ini tertinggi dicapai selama ini. Indonesia menjadi produsen padi peringkat 3 dunia setelah China dan India. Produksi jagung 23,27 juta ton naik 24 persen sehingga sudah surplus dan tahun 2017 tidak akan impor jagung pakan ternak. Kinerja produksi inilah yang menjadi domain Kementan,” imbuh Ana.

Hal lain, Ana mengungkapkan PDB sektor pertanian 2016 tumbuh 3,25 persen dibandingkan 2015.

Pada triwulan-I 2017 PDB pertanian menyumbang Rp 306 triliun atau tumbuh 7,12% dibandingkan periode sama tahun 2016.

PDB sektor pertanian tumbuh berarti menunjukkan kinerja bagus.

Neraca perdagangan pertanian tetap surplus di saat krisis global. Neraca perdagangan pertanian Januari-April 2017 surplus Rp 83 triliun dan naik 151 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ini kan berarti kebijakan berdampak signifikan, dari semula langganan impor dan kini tidak impor komoditas tersebut,” ungkapnya.

Terkait peningkatan kesejahteraan, data BPS menyebutkan Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2016 mencapai 101,65 meningkat 0,06% dibandingkan NTP 2015.

Nilai Tukar Usaha Petanian (NTUP) rata-rata nasional tahun 2016 berada di posisi tertinggi dalam 3 tahun terakhir.

Pada 2016 NTUP mencapai 109,86 atau naik 2,3% dibandingkan 2015.

“Selain itu, Penduduk miskin di perdesaan September 2016 sebesar 17,28 juta jiwa turun dari September 2015 sebesar 17,89 juta jiwa. Gini rasio di pedesaan membaik, yakni September 2016 sebesar 0,316, turun dibandingkan September 2015 sebesar 0,329, berarti trend ketimpangan pengeluaran penduduk di desa semakin kecil,” papar Ana.

Berkaitan dengan upah buruh, diketahui data BPS menunjukkan upah nominal buruh tani meningkat dari tahun ke tahun. Data BPS menyebutkan bahwa upah riil buruh tani bulan Mei 2017 naik 0,29%.

“Ini kan menunjukkan kesejahteraan petani membaik, tidak terseok-seok," pungkas Ana. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kembangkan Sapi Belgian Blue, Kementan Siapkan Rp 20 miliar


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Kementan  

Terpopuler