Kematian Suami jadi Titik Balik Kehidupan Sulastri

Minggu, 31 Juli 2016 – 00:35 WIB
Siti Sulastri, pengusaha kuliner. Foto: Badrun Ahmad/Malut Post/JPNN.com


SITI Sulastri harus menjadi tulang punggung keluarga sejak ditinggal wafat sang suami. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, ia menjelma menjadi pengusaha kuliner yang sukses. Dua buah hatinya adalah kunci kebangkitan Sulastri.

BADRUN AHMAD, Ternate

BACA JUGA: Dilepas Dengan Upacara Pedang Pora, Kepergian Jonan Ditangisi..

Aura seorang ibu perkasa sangat terasa dari seorang Siti Sulastri. Saat Malut Post (Jawa Pos Group) menyambangi kediamannya di Kelurahan Maliaro, Ternate Tengah, ibu dua anak ini baru saja menyelesaikan pekerjaannya membuat abon ikan. 

Ya, Sulastri memang dikenal sebagai salah satu pengusaha abon ikan lokal. ”Baru 2014 lalu saya fokus bikin abon ikan untuk dijual,” tutur perempuan 47 tahun tersebut, Senin (25/7).

BACA JUGA: Rudi Soedjarwo Jual Rumahnya yang Megah, Rp 45 Miliar!

Kematian suaminya, Adhan Ince Tawary, 2013 lalu menjadi titik balik kehidupan Sulastri. Semasa hidup sang suami, Sulastri tak perlu terlalu memikirkan muasal finansial keluarga. 

Almarhum suaminya adalah seorang dosen. Saat itu, Sulastri menyibukkan diri mengurusi kios kecil di dekat rumahnya. Untuk sekadar mengisi waktunya. 

BACA JUGA: Archandra Tahar, Rapor Dihiasi Angka 10, dapat Istri Dijodohkan Teman

”Setelah suami tiada, saya harus jadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak yang sedang tumbuh remaja,” ungkap ibu dari Kurniawan Adiyatma dan Nadiah Fitriyana ini.

Maka urusan finansial pun menjadi tanggung jawab Sulastri. Perempuan asal Salatiga, Jawa Tengah ini lalu mencoba berjualan tahu isi. Ia paling jago membuat penganan yang satu ini. Jualannya tepat di depan RSUD Chasan Boesoerie. ”Tapi kemudian saya dilarang jualan di situ lagi,” kisahnya.

Sulastri pun banting setir membuat abon ikan, salah satu kuliner yang amat digemari orang Maluku Utara. Untuk memperdalam kemampuannya mengolah abon menjadi sebuah produk bernilai ekonomis, ia mengikuti pelatihan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Pelatihan yang digagas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku Utara itu terbukti mampu mendongkrak kreativitas Sulastri. 

”Saya lalu coba membuat produk menjadi lebih menarik dengan kemasan alumunium foil yang menarik. Produk inilah yang kemudian dipasarkan di beberapa swalayan di Kota Ternate,” kata perempuan ramah ini.

Salat satu swalayan yang memasarkan produknya dalam jumlah besar adalah Tara No Ate, swalayan milik Pemerintah Kota Ternate. Sulastri memilih kata “Tanawan” sebagai label produknya. “Tanawan” merupakan bahasa suku Makeang yang artinya “ingat”.

Sang suami memang berasal dari Makeang. ”Filosofinya, saat orang mau makan, maka mereka akan ingat abon ikan ini,” ujar Sulastri seraya tersenyum.

Pada 2015, Sulastri mengembangkan citarasa produk abonnya menjadi empat rasa. Pedas, nano-nano, masak kering kayu, dan original. Empat varian rasa ini disesuaikan dengan lidah orang Malut. 

”Orang-orang di Ternate terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan selera lidah mereka berbeda. Sehingga perlu ada varian rasa,” imbuhnya.

Tak hanya itu. Ia juga membuat produk lain dari bahan ikan. Ikan garu rica, sambal teri, sambal ebi, teri krispi, stik tuna dan sambal roa atau sambal ikan tore. Semua produk dalam kemasan itu bernuansa lokal. 

Selain memperkaya varian produk, ia juga gencar memasarkannya di berbagai media sosial. Saat ini, produk-produk hasil tangan dingin Sulastri sudah dijual hingga ke China, Jepang dan Timur Tengah. ”Anak-anak juga bantu pasarkan lewat media sosial,” tuturnya.

Harga abon ikan buatan Sulastri amat terjangkau. Dijual pada kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per bungkus. Kini pengusaha abon itu memiliki omzet per bulan rata-rata Rp 10 juta. 

”Alhamdulillah, cukup untuk menyekolahkan anak-anak,” ujarnya. Kini, anak sulung Sulastri telah menjadi sarjana, sementara sang adik tengah kuliah di salah satu universitas di Ternate. 

Sulastri mengungkapkan, selain kedua anaknya, kunci suksesnya dalam berwirausaha adalah ia tak malu memulai usaha. Meski pernah gagal, ia juga tak pernah patah semangat. ”Dan harus kreatif dalam menggeluti usaha,” tandasnya.(tr-03/kai/sam/jpnn) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... 20 Tahun Menetap di AS, Balik ke Indonesia Demi Panggilan Jokowi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler