Kemenkeu Pastikan Sektor Pangan Masuk Program Prioritas APBN 2022

Selasa, 22 Februari 2022 – 22:01 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan sektor pangan masuk program prioritas penanganan pemulihan ekonomi nasional yang sudah membaik.

Sebelumnya, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terguncang krisis pandemi Covid-19. Terutama setelah terkonfirmasinya varian baru Omicron yang melanda seluruh dunia.

BACA JUGA: Luncurkan Buku Candradimuka Pendidikan Vokasi Pertanian, Kementan Ingin Ciptakan Petani Profesional

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sektor pertanian masuk kategori tiga.

Terdapat anggaran Rp 178,32 triliun dari total Rp 455,62 triliun pada program pemulihan ekonomi nasional.

BACA JUGA: Kementan Sebut Program Food Estate di Wonosobo Hasilkan Bawang Merah 12,3 Ton

Anggaran sebesar itu diperuntukkan bagi program padat karya, pariwisata ekonomi kreatif, ketahanan pangan, ICT, kawasan industri, dukungan UMKM, PMN, dan insentif perpajakan.

Sementara itu, anggaran pos kedua diduduki program perlindungan masyarakat yang mencapai Rp 154,76 triliun.

BACA JUGA: Kementan Manfaatkan Teknologi Radiasi Sinar Gamma untuk Genjot Produksi Porang

Anggaran ini akan tersebar pada lanjutan bansos (PKH dan sembako), kartu prakerja, BLT desa, jaminan kehilangan pekerjaan, serta antisipasi perluasan perlinsos.

"Kelompok ketiga meliputi penanganan kesehatan seperti anggaran vaksinasi, perawatan pasien, insentif nakes, dan insentif perpajakan yang mencapai Rp 122,54 triliun,'' ucapnya.

Angka ini masih sementara karena APBN menjadi instrumen yang fleksibel dan pasti akan mengalami beberapa perubahan di setiap pos.

Hal ini dikatakan Menkeu dalam konferensi pers APBN Februari 2022 pada Selasa (22/2).

Dari berbagai kegiatan yang telah dilewati selama 2021, Menkeu Sri Mulyani memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia kian membaik.

Salah satunya, dipengaruhi neraca perdagangan Indonesia yang terus mengalami surplus selama berturut-turut. Contohnya, pada Januari surplus USD 0,93 miliar.

"Ekspor pada Januari juga mencapai USD 19,16 miliar atau meningkat 25,31 persen (yoy), terutama didorong ekspor nonmigas seperti bahan bakar mineral, lemak hewan nabati, mesin, dan perlengkapan elektrik," katanya.

Namun, Menkeu mengingatkan Indonesia agar tetap waspada karena pandemi belum berakhir.

Ke depan, muncul dinamika baru yang harus diwaspadai seperti geopolitik dan sentimen global yang mengakibatkan kenaikan suku bunga.

"Ini adalah tren yang harus diwaspadai meskipun Januari pemulihan ekonomi sangat kuat," tandasnya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler