Kementan: Kekeringan Tidak Akan Ganggu Produksi Padi Nasional

Sabtu, 29 Juni 2019 – 07:15 WIB
Ilustrasi sawah kekeringan. Foto: Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Kekeringan sudah melanda sejumlah wilayah Indonesua. BMKG menyatakan 35 persen wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau.

Namun, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan akan mengambil sejumlah langkah antisipasi agar tidak mengganggu produksi pangan.

BACA JUGA: Mentan Mengapresiasi Peternak Sapi Potong Jawa Timur

Direktur Irigasi Ditjen PSP Rahmanto mengatakan, BMKG sudah sejak dini menginformasikan bahwa musim kemarau 2019 akan dipengaruhi oleh El-Nino Lemah.

BACA JUGA: 2 Fokus Utama Kementan pada 2020

BACA JUGA: 2 Fokus Utama Kementan pada 2020

Namun tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan curah hujan pada musim kemarau 2019.

"Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan Informasi Kalender Tanam (KATAM) Musim Tanam Kemarau 2019 yang telah terintegrasi dengan prakiraan iklim musim kemarau 2019 oleh BMKG. Selain itu, sosialisasi antisipasi kekeringan dan percepatan tanam juga telah dilakukan di beberapa wilayah yang potensi luas tanamnya cukup besar dan yang menjadi wilayah endemik kekeringan," jelas Rahmanto, Jumat (28/6).

BACA JUGA: Modernisasi Mengubah Wajah Pertanian Indonesia

Terkait dengan upaya penanganan kekeringan, Tim dari Kementerian Pertanian, melalui penanggungjawab UPSUS pada masing-masing provinsi, juga langsung turun ke lapangan dalam mengantisipasi kekeringan khususnya pada lahan sawah.

"Apabila ada laporan dari dinas pertanian setempat, kelompok masyarakat mapupun media, tim kita langsung turun ke lapangan mengantisipasi," kata Rahmanto.

Pihaknya juga menyiapkan kegiatan yang sudah dan sedang dilakukan. Seperti melakukan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai setempat untuk melakukan gilir-giring air.

"Kami memprioritaskan pengalokasian air pada lahan yang sudah mengalami kekeringan," jelasnya.

Selain itu, juga berkoordinasi dengan Kementerian PUPR terkait percepatan perbaikan saluran irigasi utama yang mengalami kerusakan dan menggangu aliran air irigasi ke lahan sawah.

"Tim juga mengidentifikasi sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan dan menyalurkannya dengan pompa pada lahan sawah yang masih terdapat standing crop," tambah Rahmanto.

Saat ini, Kementan mendorong percepatan pelaksanaan fisik kegiatan irigasi pertanian untuk segera dimanfaatkan dalam mengantisipasi kekeringan.

Antara lain jaringan irigasi tersier, embung pertanian dan irigasi perpipaan dan perpompaan.

"Juga mendorong dinas lingkup pertanian agar segera menyalurkan pompa-pompa air yang sudah dialokasikan pada daerah yang mengalami kekeringan," tuturnya.

Kementan mencatat, total luas kekeringan (Januari-Juni) 2019 mencapai 49.408 hekatre.

Seluas 45.396 hektare dari total tersebut terjadi pada musim kemarau (April-Juni). Sebagian besar kekeringan terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

Apabila dibandingkan dengan luas tanam saat ini yang mencapai 3.504.137 hektare, persentase luas kekeringan pada musim kemarau masih sangat kecil, yakni berkisar 1,30 persen.

"Luas areal sawah yang mengalami puso mencapai 3.001 hektare atau enam persen dari total luas kekeringan dan 0,01 persen dari total luas tanam. Dampak kekeringan ini tidak berpengaruh nyata dalam mengurangi stok produksi beras Nasional sampai saat ini," terang Rahmanto.

Rahmanto menjelaskan, luas kekeringan tahun 2018 pada periode yang sama (Januari-Juni) mencapai 97.861 hektare dengan puso 19.218 hektare.

Apabila dibandingkan dengan tahun 2019, luas kekeringan tahun 2019 telah mengalami penurunan yang cukup signifikan.

"Oleh karena itu, kekeringan tahun ini diperkirakan tidak akan mengganggu total produksi padi nasional. Target produksi padi nasional tahun 2019 mencapai 84 juta ton dan perkiraan produksi padi 2019 hingga bulan Mei mencapai 60 persen dari produksi nasional," bebernya.

Terkait dengan ketersediaan beras pada Mei hingga Juni diperkirakan tidak akan berdampak signifikan, meskipun kekeringan masih terjadi hingga beberapa bulan kedepan.

Total luas panen pada bulan Mei mencapai 961.981 hektare, Juni diperkirakan 909.000 hektare, dan Juli mencapai 960.000 hektare (data luas tanam Juni pada fase Generatif 1 dan 2).

"Dengan total luas panen yang cukup stabil dalam 3 bulan terakhir, stok beras tetap akan mencukupi kebutuhan nasional pada musim kemarau 2019 dan serapan gabah masih dalam kondisi normal," ujarnya.

Namun, antisipasi kekeringan terus dilakukan agar dampak kekeringan tidak meluas dan areal sawah yang sudah mengalami kekeringan dapat terselamatkan.

Selain itu, pemantauan kondisi standing crop terus dilakukan baik secara manual maupun melalui remote sensing.

"Sehingga pemerintah dapat segera melakukan tindakan penyelamatan pada areal yang diperkirakan terancam kekeringan," imbuhnya.

Untuk komoditas selain padi, berdasarkan data kekeringan dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, total luas areal komoditas jagung yang mengalami kekeringan mencapai 3.500 hektare dan puso 16 hektare.

Khusus pada musim kemarau 2019, areal jagung yang terdampak mencapai 1.234 hektare dan belum terjadi puso.

Jika dibandingkan pada tahun sebelumnya, luas areal jagung terdampak kekeringan mencapai 19.282 hektare dengan puso 1.706 hektare.

"Dari data tersebut, aksi antisipasi kekeringan yang telah dilakukan Kementerian Pertanian telah mampu menurunkan dampak kekeringan pada areal jagung di tahun 2019," ungkap Rahmanto.

Sedangkan pada komoditas Kedelai luas terdampak mencapai 236 hektare yang terjadi di Kabupaten Pacitan dan saat ini sudah dilakukan penanganan oleh Tim Kementerian Pertanian.

Pada tahun 2018 periode yang sama, dampak kekeringan  pada komoditas kedelai terjadi di 8 provinsi mencapai 691 hektare dan puso 168 hektare. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Imbauan Kementan pada Petani soal Potensi Kekeringan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Kementan  

Terpopuler